Aku tahu sekarang kamu sedang berada di fase yang membingungkan. Di satu sisi, kamu ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kamu punya mimpi, ingin mencoba banyak hal, dan penasaran seperti apa rasanya menjadi mahasiswa.
Namun, ada satu hal yang terus membuatmu ragu: kuliah jauh dari rumah.
Kamu takut meninggalkan orang tua. Takut harus tinggal sendiri di tempat yang asing. Takut tidak punya teman, tidak bisa mengurus diri sendiri, atau tiba-tiba sakit ketika tidak ada keluarga yang bisa membantu.
Bahkan, membayangkan hari pertama tinggal di kos saja sudah membuatmu cemas.
Aku masih ingat bagaimana rasanya. Ada keinginan untuk pergi, tetapi ada juga bagian dari diriku yang ingin tetap tinggal di rumah, menikmati hal-hal sederhana yang selama ini terasa biasa.
Hal yang ingin kusampaikan untuk diriku yang takut kuliah jauh dari rumah
Kalau sekarang aku bisa mengirim surat kepada diriku yang dulu, mungkin ada beberapa hal yang ingin kusampaikan.
1. Kamu tidak harus selalu berada di dekat orang tua

Dulu, aku sering berpikir bahwa kuliah jauh dari rumah sama saja dengan meninggalkan keluarga.
Aku membayangkan bagaimana rasanya tidak bisa makan bersama setiap hari, tidak lagi mendengar suara ibu dari dapur, atau tidak bisa langsung meminta bantuan ayah ketika mengalami kesulitan.
Rasanya berat sekali.
Namun, setelah benar-benar menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di perantauan, aku mulai memahami sesuatu.
Pergi jauh bukan berarti berhenti menyayangi rumah. Justru ketika jarak mulai memisahkan, aku semakin menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya sering kuanggap biasa.
Telepon singkat dari ibu, pesan sederhana yang mengingatkan untuk makan, hingga kesempatan pulang ketika libur semester menjadi sesuatu yang selalu kutunggu.
Ternyata, jarak tidak selalu membuat hubungan menjadi jauh.
“Pergi jauh bukan berarti berhenti menyayangi rumah.”
ADVERTISEMENTS
2. Kamu akan belajar melakukan banyak hal sendiri

Aku tahu kamu terbiasa mendapatkan bantuan dari orang tua. Ketika lapar, ada makanan di rumah. Ketika pakaian kotor, selalu ada yang mengingatkan untuk mencucinya. Bahkan, urusan sederhana seperti membayar tagihan terkadang masih dibantu keluarga.
Nanti, semuanya akan berubah.
Kamu harus belajar mengatur uang bulanan, mencuci pakaian, membersihkan kamar kos, membeli kebutuhan sendiri, dan mengatur jadwal kuliah.
Awalnya mungkin berantakan.
Ada kalanya uang bulanan habis sebelum waktunya. Ada juga hari ketika kamu terlalu lelah sampai tidak sempat memasak dan akhirnya makan seadanya.
Namun, dari hal-hal sederhana itulah kamu akan belajar menjadi lebih mandiri. Kamu akan menyadari bahwa ternyata dirimu mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya terasa sulit.
“Kamu akan menyadari bahwa dirimu mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya terasa sulit.”
3. Kamu akan bertemu orang-orang baru

Salah satu ketakutan terbesarku dulu saat memikirkan kuliah jauh dari rumah adalah tidak punya teman.
Aku khawatir harus memulai semuanya dari awal. Bertemu orang asing, berkenalan dengan teman baru, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali berbeda.
Namun, kehidupan kuliah ternyata mempertemukanku dengan banyak orang dari berbagai daerah.
Ada teman yang berasal dari kota besar, desa kecil, bahkan pulau yang belum pernah kukunjungi. Kami membawa kebiasaan, cara bicara, dan cerita kehidupan masing-masing.
Dari mereka, aku belajar banyak hal.
Ada teman yang akhirnya menjadi tempat bercerita ketika sedang kesulitan. Ada yang menemani mengerjakan tugas sampai malam. Ada pula yang hanya hadir sebentar, tetapi meninggalkan kenangan yang masih kuingat sampai sekarang.
Aku ingin kamu tahu bahwa rumah baru tidak selalu harus berupa bangunan. Terkadang, rumah juga bisa ditemukan dalam bentuk orang-orang yang membuatmu merasa diterima.
“Rumah juga bisa ditemukan dalam bentuk orang-orang yang membuatmu merasa diterima.”
4. Ada hari-hari ketika kamu akan merindukan rumah

Aku tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa semuanya akan menyenangkan.
Akan ada malam ketika kamu tiba-tiba merindukan masakan ibu. Ada hari ketika kamu ingin pulang hanya karena sedang lelah menghadapi tugas kuliah.
Mungkin kamu juga akan menangis diam-diam setelah menelepon orang tua karena tidak ingin membuat mereka khawatir. Terlebih ketika melihat teman-teman lain bisa pulang setiap akhir pekan, sementara kamu harus menunggu libur panjang untuk bertemu keluarga.
Tapi tidak apa-apa.
Merindukan rumah bukan berarti kamu tidak bahagia dengan kehidupan yang sedang dijalani. Itu hanya tanda bahwa ada tempat dan orang-orang yang begitu berarti bagimu.
Jangan terlalu keras kepada diri sendiri ketika merasa sedih. Kamu tidak harus selalu terlihat kuat hanya karena sedang jauh dari rumah.
“Merindukan rumah hanya tanda bahwa ada tempat dan orang-orang yang begitu berarti bagimu.”
5. Kamu akan tumbuh lebih cepat dari yang dibayangkan

Dulu, aku mengira kuliah hanya tentang belajar di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu mendapatkan gelar sarjana.
Ternyata, ada banyak pelajaran lain yang tidak pernah tertulis di dalam silabus.
Aku belajar menghadapi masalah tanpa selalu meminta bantuan orang tua. Belajar mengatur keuangan, mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihan sendiri, dan menerima kenyataan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Aku juga belajar bahwa tidak semua orang yang ditemui akan selalu memiliki niat baik. Ada kekecewaan, konflik, dan pengalaman tidak menyenangkan yang harus dihadapi sendiri.
Namun, semua itu perlahan membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Mungkin itulah salah satu hal terbaik dari kuliah jauh dari rumah atau merantau: kamu tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dirimu sendiri.
“Kamu tidak hanya mendapatkan pendidikan, tapi juga kesempatan mengenal dirimu sendiri.”
Terima kasih sudah berani melangkah

Untuk diriku yang dulu, terima kasih karena akhirnya berani mencoba.
Aku tahu keputusan untuk kuliah jauh dari rumah bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak ketakutan yang harus kamu hadapi sebelum akhirnya mengemas barang, berpamitan kepada keluarga, dan memulai kehidupan baru.
Sekarang, ketika mengingat masa-masa itu, aku justru merasa bersyukur pernah mengambil keputusan tersebut.
Aku memang tidak selalu menjalani semuanya dengan mudah. Ada banyak kesalahan, air mata, dan pengalaman yang ingin sekali kuhindari jika bisa mengulang waktu.
Namun, tanpa semua itu, mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang.
Jadi, jangan terlalu takut dengan kehidupan di luar rumah. Kamu tidak harus mengetahui semua jawaban sebelum berangkat. Tidak perlu juga merasa sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
Cukup berani mengambil langkah pertama.
Aku yang sekarang
ADVERTISEMENTS