Merayakan Tahun Baru Imlek di Tengah Keramaian Jakarta

Suatu hari, aku menyadari bahwa etalase rumah diganti oleh Papa menjadi berwarna merah. Seketika ada lampion, dan hiasan-hiasan naga yang mulai bermunculan. Tidak hanya itu, aroma manis kue bulan yang hangat tercium menemani rumah. Tempat tinggalku terasa semakin hangat dengan adanya hiasan-hiasan yang berwarna merah. Papa juga terlihat lebih gembira dari biasanya. Aku tersenyum sendiri, karena aku sangat mengenali hari raya yang sebentar lagi akan datang.

Sejak kecil aku sangat mengenali kehangatan dari warna merah. Warna merah selalu muncul di berbagai dekorasi dan etalase ketika hari raya Imlek menjelang datang. Jika hiasan-hiasan berwarna merah, bermotif naga mulai dipasang di rumahku, kamu bisa tahu bahwa Imlek akan segera keluargaku rayakan.

Advertisement


Untuk keluargaku besarku, yang beretnis Tionghoa, Imlek memang merupakan perayaan yang cukup besar. Namun, tidak bagi mayoritas masyarakat di sekitar kami. Keluarga Papa dan Ibu yang beretnis Tionghoa hidup jauh dari rumah kami. Di daerah tempat tinggalku juga tidak banyak masyarakat yang merayakan hari raya Imlek.


Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu merasa paling asing di antara teman-teman di waktu-waktu menjelang hari raya Imlek. Aneh rasanya selalu dimintai angpao oleh teman sekitar atau mendengar teriakan “Gongsi facai!” dari kejauhan dari orang-orang yang tidak kukenal.

Kalimat tersebut memiliki arti yang mendoakan kita untuk selalu sukses dan makmur, memang sering diucapkan ketika hari raya Imlek, tetapi cara mengatakan kalimat tersebut tidaklah sembarangan. Bahasa Mandarin memiliki empat nada, dan jika disebutkan dengan nada yang salah, maka kata tersebut akan memiliki arti yang berbeda. Dari kecil, aku tidak pernah mengerti satu kalimat yang mereka ucapkan secara asal, aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan mereka.

Advertisement

Hari raya Imlek memang membuat Papa semakin gembira. Terkadang, ia akan mengambil cuti kerja selama dua minggu. Ketika dia mengambil cuti kerja, aku sering diajaknya pergi ke kampung halamannya di Palembang untuk bertemu dengan Zǔfùmǔku (kakek-nenek). Menjadi cucu perempuan satu-satunya di keluarga memberikan diriku lebih banyak kedekatan dengan nenek. Setiap kali berkunjung ke rumah Zǔfùmǔ, nenek selalu senang pergi denganku. Dia selalu bercerita dan memangku aku. Pengalaman masa kecilnya, orangtuanya dulu, serta sahabat dan keluarga sanak saudaranya yang masih tinggal di Hong Kong sering sekali dibagikan kepadaku. Dia bahkan pernah mengajari aku menulis buku harian dalam bahasa Mandarin.

Tahun Baru Imlek adalah perayaan yang cukup penting untuk Papa. Namun, semenjak kepergian Nenek di tahun awal tahun 2015, Papa tidak lagi kembali ke Palembang. Kakek lebih memilih untuk pergi ke Pontianak dan menghabiskan waktunya disana bersama sanak saudaranya dan tanteku. Kesibukan Papa yang semakin bertambah juga tidak memungkinkan dirinya untuk pergi bersama Kakek. Pada awal tahun 2016, aku merasa kasihan dengan papa karena dia tidak bisa pulang berkumpul dengan keluarga besar.


Karena itu, Papa berusaha memenuhi rumah kami dengan etalase dan dekorasi yang penuh, dan di dalam hati, aku tahu bahwa hal ini disebabkan karena kerinduannya dengan keluarga di Palembang.


Suatu hari, dua hari sebelum Tahun Baru Imlek, Papa tiba-tiba mengajakku pergi keluar. Dia bilang ingin pergi ke Glodok. Waktu kecil aku tentunya pernah pergi kesana, namun aku tidak punya banyak ingatan akan tempat tersebut. Keramaian mobil yang membuatku terjebak di mobil selama dua jam tidaklah menyenangkan. Aku mulai malas dan hanya ingin pulang. Tetapi papa terlihat ingin sekali pergi kesana, jadi aku hanya bisa mengkerutkan wajahku dan mengikuti dia pergi.

Ketika sampai, papa mengajakku pergi melewati sebuah gang kecil. Meskipun tidak besar, gang tersebut ramai sekali. Banyak sekali penjual makanan, dan jajan-jajanan seperti kue bulan, permen, manisan, Pioh, dan bahkan nasi campur.

Papa mengatakan nama gang tersebut adalah gang Gloria. Dulu, ada sebuah supermarket yang dinamakan Gloria karena logonya yang bergambarkan angsa biru. Gang tersebut terletak dekat dengan supermarketnya sehingga masyarakat mengenal gangnya sebagai gang Gloria. Kini supermarket tersebut tidak lagi berjalan karena mengalami kerusakan parah akibat peristiwa kebakaran beberapa tahun silam. Meskipun demikian, nama gang Gloria tidaklah terlepas dari bibir masyarakat sekitar. Gang tersebut menjadi salah satu tempat jualan yang cukup ramai hingga hari ini.

Para penjual yang ikut meramaikan tempat tersebut memang banyak yang sudah bekerja selama bertahun-tahun. Banyak tempat makan yang juga menjadi cukup populer seperti warung Kopi Es Tak Kie contohnya, tempat minum tersebut menjadi terkenal di kalangan masyarakat di sekitar sana.

Aku merasa senang karena bisa menemani Papa berjalan keliling, makanan-makanan yang dijual di Glodok juga memang makanan yang dia sukai. Dia membeli dua bungkus nasi campur untuk dibawanya pulang. Selanjutnya, aku berjalan bersama papa mengelilingi sekunjung toko-toko di pasar Glodok. Tidak hanya makanan, aku menemukan toko-toko yang menjual dekorasi untuk Tahun Baru Imlek, dan juga toko elektronik.


Glodok adalah salah satu bagian dari kota lama Jakarta. Daerah ini sudah dikenal sebagai kota Pecinan sejak masa kolonial Belanda karena daerah tersebut memiliki masyarakat yang beretnis Tionghoa, karena masyarakat Tionghoa banyak yang pindah ke daerah tersebut untuk tujuan berdagang.


Pasar ini sudah berdiri cukup lama, karena itu, Pasar Glodok juga merupakan salah satu dari sekian banyak saksi sejarah yang menyaksikan kelahiran dan perkembangan kota Batavia. Glodok menjadi daerah dengan pedagang terbanyak karena pemerintah Belanda sempat melarang masyarakat yang beretnis Tionghoa untuk berdagang di daerah lain. Nama Glodok sendiri juga sebenarnya berasal dari masyarakat Cina totok yang suka berkata “grojok” karena bunyi air yang selalu berbunyi “grojok-grojok”, kemudian berubah menjadi Glodok sesuai dengan lidah masyarakat.

Meskipun tempat ini hanyalah pasar, tempat penjualan barang-barang elektronik, aku merasa senang bisa berkunjung ke tempat ini karena aku bisa melihat banyak barang dan makanan yang unik. Tempat ini sepertinya juga menghibur Papa, ia terlihat sangat senang berkeliling. Aku mengerti keistimewaan dari pasar Glodok untuk Papa.


Kita mungkin tidak mengetahuinya, tapi tempat kecil seperti ini bisa menyembuhkan hati seseorang dari kerinduan akan kampung halamannya.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya