Malam ini, di saat aku merindukan sandaran di bahumu-entah karena memang batin kita yang berbicara atau karena aku terlalu jelas menampakkannya-kamu memintaku untuk menemanimu. Kita pergi ke suatu tempat untuk kita nikmati berdua dan kamu mengutarakan segalanya. Suatu hal yang mungkin sudah sejak lama kamu simpan. Dan aku bahagia, kamu telah memilihku untuk menampung semuanya.

Mendengar penjelasanmu, entah mengapa membuatku merasa lega. Kupikir, keputusanmu untuk fokus dengan apa yang menjadi tanggung jawabmu sekarang adalah pilihan yang tepat. Dan keputusan kita untuk membiarkan hubungan ini mengalir, juga adalah pilihan yang tepat. Biarlah, biarlah kita tetap seperti ini. Berjuang untuk samasama memantaskan diri demi hubungan dan kehidupan yang lebih baik lagi.

Advertisement

Sungguh, ku tak pernah terpikir sedikitpun untuk mengakhiri ini semua, ku tak ingin kita menjadi manusia yang tak saling mengenal seperti pilihan yang kamu tawarkan padaku tadi. Aku lebih senang kita seperti ini. Memang, bagaimana hubungan ini kedepannnya tidak ada yang bisa memastikan. Tapi, tidak ada salahnya kita tetap menjaganya dan menyelipkannya di antara banyak pinta dalam doa-doa kita. Setelah kita berusaha dan berdoa, tentu kita hanya bisa menunggu dan menerima apapun keputusan terbaik dari-Nya.

Sibukmu dan sibukku kini akan menghantarkan kita untuk melewati titik demi titik. Mungkin itu titik dimana salah satu dari kita merasa lelah, atau titik dimana kita samasama lelah, dan bahkan titik dimana kita merasa lega dan bebas.

Ku harap, disetiap titik yang kita lewati itu, kita tetap akan bisa berbagi cerita, mungkin itu keluh kesah atau cerita bahagia. Ku yakin, disetiap titik yang akan kita lewati itu, aku pasti akan mencarimu. Kuharap, kamu bersedia untuk sejenak menoleh padaku, walau sebentar saja. Jika tidak pun tak apa, beritahu saja jika kamu sudah ingin mendengarkannya.

Advertisement

Dan kamu, jika ada yang ingin kamu bagi padaku di saat sibuk kita pun silahkan. Aku sangat bersedia. Kamu tak harus menunggu lebih lama untuk menyampaikannya.

Waktu di saat kita sibuk mungkin sedikit berbeda. Intensitas kesibukanmu mungkin sedikit lebih banyak daripadaku. Aku, hanya akan sibuk di hari – hari kerja saja. Sementara kamu, mungkin kamu akan disibukkan disetiap waktu. Tapi aku yakin, akan ada satu waktu yang sengaja ditetapkan-Nya untuk kita bertemu mencurahkan segalanya.

Hmm, kamu tau? Kamu telah sukses menjadi berbagai sosok bagiku. Aku pernah berada pada saat dimana aku menjelma menjadi adikmu, temanmu, sahabatmu, dan kekasihmu. Dan semua itu nyaman bagiku. Mungkin memang sudah jalan dari-Nya agar aku merasakan kenyamanan bersamamu. Sungguh, aku sangat mensyukuri itu.

Terimakasih telah tetap mengizinkanku untuk selalu mengisi hari-harimu di tengah kesibukan yang melandamu. Terimakasih telah mempercayaiku untuk mendengar segala keluh-kesahmu. Terimakasih telah hadir dalam hidupku, menggenapi segala kekuranganku.

Kamu pernah mengatakan "Biarlah hubungan baik ini tetap kita lanjutkan sebagaimana sebelum-sebelumnya dalam rangka mewujudkan beberapa mimpi dan saling menyemangati dalam menggapai prestasi, namun untuk soal perasaan dan hati biarlah kita simpan dulu sendiri-sendiri."

Meski kamu mengatakan begitu, aku tetap tidak akan pernah mampu untuk menyimpan perasaanku. Aku tak akan pernah bisa menutupinya. Aku rasa, kaupun juga tidak bodoh untuk sekedar membaca bagaimana perasaan seorang wanita. Kutahu, pada akhirnya tak ada yang bisa kita pastikan. Tapi aku yakin, setiap hati tak akan pernah lupa kemana ia harus pulang.

Dan kini, jika kamu tak keberatan, bolehkah aku meminta, "Biarkan 'kita' tetap mengalir di tengah kesibukan kita masing-masing?"

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya