Surat Terbuka untuk Suami: Bila Aku Tak Secantik yang Dulu, Akankah Kamu Terus Bersamaku?

Aku tak secantik yang dulu

Aku telah bersamamu sekian lama. Menghabiskan sekian waktu dan masa untuk kebahagiaan kita. Dari kala itu, aku yang masih langsing dan menarik pandanganmu, dan mungkin kini semua telah berubah seiring waktu dan aku tak secantik yang dulu.

Advertisement

Pagi ini aku berkaca, mematut diri di samping tempat tidur kita. Kulihat aku sudah berbeda. Tubuhku tak selangsing yang dulu. Banyak dari "ukuran" yang bertambah. 

Ada rasa di dalam dadaku. Antara takut, cemburu, dan bangga. Betapapun aku takut karena aku telah berbeda, sementara engkau banyak melihat yang muda di luar sana. Aku cemburu pada diriku yang dulu, bagaimana bisa menjadi begini. Namun, aku juga tersenyum bangga. Karena kulihat engkau tetap tersenyum seperti dulu saat pertama kali berjumpa. Namun, aku bangga dan bahagia, manakala engkau tertawa bersama buah hati kita.

Pikiranku melayang jauh, mencari sebab dan arti semuanya. Bayanganku tertuju pada suatu masa, mungkin karena aku terlalu asyik memberi perhatian pada buah hati dan rumah tangga, hingga aku lupa memperhatikan diriku sendiri. Namun, sekali lagi aku bangga engkau tetap bahagia saat kita bersama.

Sebagai wanita, aku tetap memiliki "rasa". Pagi tadi kubuka laptop, setelah semua rutinitas aku kerjakan. iseng aku coba mencari beberapa kata. Tak lain tentang bagaimana "mengurangi" ukuran itu. Aku tertawa sendiri manakala sambil membacanya. Walaupun engkau selalu bilang "yang penting sehat", namun sebagai wanita aku tetap memiliki rasa.

Aku coba baca beberapa artikel itu. Beberapa kali aku ganti kata kunci baru. Pada akhirnya aku temukan kata yang mengganggu pikiranku. Sebagaimana kebanyakan wanita, suka kemudahan, kubaca artikel itu "Langkah Sederhana…." awal kubaca kukira seperti apa? Ternyata membuatku tertawa. Sederhana namun tidak sederhana, aku pun tersenyum sendiri.

Advertisement

Namun, tahukah engkau di mana pandanganku tertuju? Perhatianku tertuju pada kata "mencari dukungan". Wahai kekasihku, beri aku dukungan untuk bisa "berubah". Bukan hanya soal penampilan, namun juga soal kesehatan. Kalau pun penampilanku berubah, itu pun untuk engkau. Aku tahu engkau ikhlas menerimaku, karenanya aku ingin memberi labih padamu. Pada orang tua kita, pada anak-anak kita. Beri aku dukunganmu untuk menjadi lebih baik, bukan hanya di penampilan namun juga di perbuatan.

Wahai engkau kekasihku, beri aku keyakinan untuk menjadi lebih baik. Lebih baik untuk dirimu, anakmu, dan orang tuamu. Aku tahu rasa sayangmu masih sebesar yang dulu, namun izinkan aku memberi lebih untukmu.


Engkaulah kekasih pujaan hatiku. Bila aku tak secantik yang dulu, maka beri aku dukunganmu…


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saya adalah seorang tenaga kesehatan di Jawa Tengah. Sedang dan berharap dapat terus belajar segala sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri keluarga, dan masyarakat.Saya juga coba berbagi di www.advicena.com. Silahkan berkunjung dan saling berbagiSalam Sehat.

Editor

Not that millennial in digital era.

4 Comments

  1. Lisa Elisabeth berkata:

    Bingung nih cari-cari informasi menarik seputar bola yang terkini ?
    kunjungi www(.)d-ew-a168(.)com.

CLOSE