Secangkir teh panas menemaniku duduk kursi malas teras rumah sambil menikmati irama rintik hujan. Hujan, teh hangat dan suasana dingin, perpaduan yang sangat pas. Sore itu suasana cukup gelap ditambah dengan suara tetesan air hujan yang semakin deras.

Tiba-tiba lamunanku terpecah oleh sebuah panggilan yang mencoba menandingi irama rintik hujan dari balik pagar rumah.

Advertisement

"Permisi…," terdengar suara yang cukup keras.

Segera aku bergegas mengambil payung yang berada di garasi rumah dan segera menuju pagar rumahku untuk membukanya. Seorang tukang pos paruh baya berdiri menunggu di depan pagar rumah dengan pakaiannya yang basah kuyup. Kupersilahkan dia untuk mampir dan beristirahat sembari menunggu hujan di luar mereda. Ia hanya tersenyum ramah dan langsung mengikuti permintaanku.

Ia duduk tenang sambil memandangi tetesan hujan di teras rumahku. Sedangkan aku menuju dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat untuknya. Akupun duduk di sampingnya. Waktu berlalu dengan diam membisu. Tiba-tiba ia menyerahkan surat dan sebuah pena kepadaku. Kuterima surat itu dan menandatangani lembar bukti penerimaan barang. Selama ia duduk di sampingku, bapak tersebut hanya tersenyum beberapa kali kepadaku. Mengapa bapak ini diam saja, apa ia lelah? Atau ia kurang enak badan, ah biarlah semoga teh ini bisa membuatnya membaik, gumamku dalam hati.

Advertisement

Sekitar 30 menit berlalu, bapak tukang pos tersebut meminta ijin kepadaku untuk melanjutkan pekerjaannya, aku memberikan payungku tadi, karena hujan di luar masih sedikit deras. Kulihat dari teras, ia berjalan tenang menembus derasnya hujan. Namun aku tak melihat dimana motor bapak tersebut. Karena hari semakin larut, segeraku bereskan gelas yang telah kosong, dan kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah, bersiap untuk membaca surat yang baru saja kuterima.

Selesai aku membereskan gelas, aku duduk di depan perapian sembari menonton acara berit di televisi. Sore itu rumahku masih sepi, orang tuaku belum pulang dari kantor.

"Aksi begal kembali terjadi kemarin malam, kali ini korbannya adalah seorang tukang pos yang ditemukan tewas di lokasi kejadian dan motor korban berhasil dibawa kabur oleh pelaku." Suara penyiar yang sedang melaporkan kejadian tersebut tiba-tiba membuat tubuhku lemas. Kulihat foto korban tersebut sama persis dengan tukang pos yang baru saja mengirim surat kepadaku barusan. Belum hilang rasa takutku, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu diikuti dengan suara pelan, "Permisi neng… bapak minta tolong."

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya