Saya memutuskan untuk menulis karena menulis membuat saya lebih 'bawel' saat menulis. Tulisan ini berisi pengalaman saya pribadi yang sedang berusaha besahabat dengan cobaan hidup.

Kehidupan itu memang unik. Hari ini kita bahagia, namun tidak ada yang tahu apabila besok kita bersedih. Pepatah lama mengatakan bahwa hidup seperti roda berputar. Ada kalanya kita di atas, ada kalanya kita dibawah. Semua pepatah lama yang bijaksana hanya sekedar kubaca dan kusetujui dalam hati, tanpa pernah kuresapi kesungguhan maknanya.

Advertisement

Di suatu hari yang cerah 2 bulan yang lalu, saat saya sedang berada di dokter di sore hari, saya tiba-tiba mendapatkan telepon dari ibu saya yang mengabarkan bahwa ayah saya terkena stroke. Mengingat sifat ibu saya yang panikan, saya tidak serta merta percaya dan mencoba menenangkan via telepon. Namun dalam hati, saya sembunyikan perasaan takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuh tanpa saya suruh. Saya segera membatalkan antrian saya di dokter dan segera pergi ke rumah sakit tempat ayah saya berada. Sepanjang perjalanan, saya berdoa semoga ayah saya baik-baik saja, sembari meng-google informasi mengenai penyakit stroke.

Karena Jakarta selalu macet terutama karena saat itu jam pulang kerja, saya baru sampai rumah sakit 3 jam setelah ibu saya telepon. Saya segera berlari ke IGD, dimana saya melihat keluarga saya sudah berkumpul. Ibu saya tampak habis menangis. Beliau menyuruh saya melihat ayah saya yang sedang terbaring di ranjang IGD. Dengan satu tarikan nafas panjang dan hati yang saya tegar-tegarkan, saya masuk melihat ayah saya.

"Hai papi," sapa saya.

Advertisement

Sebelah badan kanannya lumpuh.

Saya berbohong apabila saya bilang saya tidak ingin menangis tepat saat itu juga.

Ketika saya melihat ayah saya saat itu, bicaranya menjadi tidak jelas, air liur menetes dari sudut bibir kanannya, otak saya secara lancangnya memutar rekaman-rekaman beberapa jam sebelumnya dimana saya masih bertemu ayah di rumah, dimana beliau masih berbicara, berjalan, bergerak.

"Oh tidak," kataku dalam hati. Ayahku, pahlawanku yang gagah berani terserang stroke.

Beberapa jam setelah itu, ayah dipindahkan ke ruang ICCU. Dengan keterbatasan kemampuan bicara dan gerak tangannya, beliau malah langsung menasihatiku "hidup itu sudah ada jalannya." Ayah saya ikhlas terserang stroke, dan beliau bahkan tersenyum sebelum saya dan ibu meninggalkan ruang ICCU.

Mendengar penjelasan dokter sudah menjadi mimpi buruk yang harus saya hadapi. Satu hari sebelum hari itu, mana pernah terbesit sedikitpun di pikiran saya bahwa saya akan duduk di depan dokter yang menjelaskan keadaan ayah saya yang kurang baik. Saya hanya tau bahwa ayah selalu sehat dan rajin kontrol kesehatannya.

Selama ayah dirawat di ICCU, saya dan ibu saya menginap di rumah sakit. Tiga hari kemudian, ayah saya dipindahkan ke stroke unit karena keadaannya stabil. Akhirnya saya dan ibu bisa pulang ke rumah. Kami mulai bisa bernafas lega saat itu.

Dalam hati saya berdoa, agar keadaan ayah saya tidak bertambah buruk. Namun, sepertinya harapan saya tidak menjadi kenyataan.

Di hari saya dan ibu pulang ke rumah, pukul setengah tiga pagi, ibu mendapatkan telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa ayah saya mengalami penurunan kesadaran. Dengan keterkejutan dibangunkan dari tidur, dan mendengar kabar seperti ini, saya sekeluarga segera bergegas ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, kembali saya menggumamkan di dalam hati bahwa ayah pasti baik-baik saja, ayah pasti baik-baik saja.

Setibanya saya dirumah sakit dan melihat ayah saya, saya segera mengguncang-guncangkan bahu beliau. Saya panggil beliau, saya tidak menangis, saya tidak ingin ayah mendengar saya menangis. Namun ayah saya tidak bergeming. Beliau tidak bangun, namun meski matanya menutup, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.

Lalu saya mengucapkan satu kalimat sebelum ayah melakukan CT Scan di otak. "Pa, saya sudah menabung banyak uang. Saya ingin bawah papi dan mami jalan-jalan. Pekerjaan saya di kantor sedang bagus. Hebat kan anak papi?"

Beliau membuka mata untuk 2 detik, menatap saya seperti menahan sakit. Dan itulah terakhir kalinya saya melihat ayah saya sadar…

Hari ini, menginjak 2 bulan ayah saya terbaring koma.

Bagaimanakah 2 bulan terakhir ini keluarga kami hadapi? Mudahkan? Apakah sudah terbiasa?

Tidak, kami tidak pernah terbiasa. Dan ini sama sekali tidak mudah.

Bayangkan, sebuah rumah yang biasanya lengkap, mendadak dua orang hilang. Selama 2 bulan ayah terbaring di rumah sakit, rumah kami tidak terasa rumah. It became our house, not our home. Ibu saya menunggui ayah di rumah sakit, saya harus menjaga adik saya di rumah. Biasa kami makan malam bersama, biasa ayah nonton TV atau main komputer, biasa ibu menggoreng-goreng tempe untuk makan malam. 2 bulan ini, setiap kali saya hendak pergi kerja dan pulang kerja, mobil ayah saya selalu di garasi. Ketika saya bangun, yang ada di rumah hanya adik saya. Tidak ada lagi ayah yang pagi-pagi membelikan bubur yang lewat di depan rumah. Tidak ada lagi ayah yang suka berjalan-jalan pagi keliling rumah sebagai wujud olahraga. Tidak ada lagi ayah yang bersiap-siap pergi kerja, memakai jam tangan, memasukkan handphone ke saku celana, dan memakai kaos kaki serta sepatu kerjanya di bangku di teras rumah. Tidak ada lagi ibu saya yang memasakan makan pagi untuk kami. Tidak ada lagi ibu saya yang bertanya ke ayah, "Nanti siang pulang ga pa?". Tidak ada lagi ayah yang menjemput saya di terminal bus saat saya pulang malam. Koran-koran yang diantarkan setiap hari oleh tukang koran pun menumpuk karena yang biasa membaca mereka sedang terbaring berjuang melawan penyakitnya di rumah sakit. Sendirian.

Kata orang bijaksana, setiap kejadian dalam hidup selalu ada nilai yang bisa dipelajari. Apabila ada yang harus saya syukuri dari kejadian ini, mungkin karena kejadian ini, keluarga kami semakin dekat. Saya semakin memahami arti ayah saya dalam kehidupan saya. Saya menyesal betapa selama ini terlalu sibuk bekerja, dan sibuk mengejar cita-cita saya satu per satu, tanpa mengingat bahwa orang tua saya pun bertambah tua.

Apabila saya bisa memutar kembali waktu, sungguh saya ingin melakukan hal-hal ini:

– Mengajak ayah dan ibu saya jalan-jalan ke tempat wisata di dalam negeri maupun di luar negeri

– Mengajak ayah dan ibu saya pergi setiap minggu. Bukan malah saya sibuk bersama teman-teman

– Lebih sering membelikan ayah saya barang-barang yang ia suka

– Langsung memberikan sisihan pendapatan saya untuk mereka. Bukan malah ditabung di satu rekening khusus yang rencananya akan saya jadikan kejutan ketika jumlahnya sudah banyak kelak. Kenyataannya, ayah saya tidak pernah tahu saya menyiapkan rencana ini untuknya.

– Mengajak ayah dan ibu saya olah raga setiap minggu, atau sebulan sekali.

– Membuat ayah dan ibu saya bahagia.

Untuk ayah saya yang hebat, yang selalu sehat, yang sungguh cerdas, yang sangat baik. Ayah, pahlawan saya. Ayah, yang langsung datang setelah saya telepon, untuk membela saya saat saya tidak sengaja menabrakan mobil barunya ke mobil orang sendirian dan diomeli orang-orang itu sendirian. Ayah yang tidak suka membeli barang untuk dirinya.

Ayah yang mementingkan pendidikan anak-anaknya. Ayah yang selalu menanamkan prinsip hidup sederhana asal tidak ada hutang. Ayah yang tersenyum lebar saat menceritakan saya ke keluarga besar saat saya menang lomba saat SMA dan kuliah. Ayah yang selalu membawakan saya vitamin dan air putih setiap malam. Ayah yang kini, saat ini, terbaring di ranjang dan membutuhkan perawat untuk memindahkan posisi tidurnya.

Ayah yang kini semakin kurus, dan kaki serta tangannya mengecil. Ayah yang hanya tidur, tidak mengenali saya. Ingin anakmu ini selalu sampaikan kata-kata yang semestinya sejak dulu aku ucapkan padamu, ayah. Maafkan aku, terlalu sibuk bekerja. Aku terlalu sibuk berjalan-jalan bersama teman-teman, melupakan bahwa kau dan ibu semakin tua.

Aku belum bisa membalas jasamu. Aku belum bisa membanggakanmu. Aku bisa menjadi sekarang karena mu, ayahku. Sungguh maafkan aku. Maaf ayahku, kau harus berjuang sendiri melawan sakitmu. Entah sedang mimpi apa kau di dalam tidur lelapmu selama 2 bulan ini, aku ingin ayah bertahan. Aku, ibu, dan anak-anakmu sedang mengupayakan segala cara agar kau bisa sembuh, meskipun itu harus menghabiskan tenaga kami dan celengan-celengan kami.

Ya Tuhan, dengarkanlah doa kami.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya