Desas desus, kabar burung, gossip , opini dan kawan-kawan sejenisnya tampak sudah nyaris jadi kenyataan. Dollar Amerika Serikat (USD) sudah lewat dari 13400 Rupiah dan sedang menuju (mudah-mudahan tidak) ke 13500 Rupiah. Apakah ini sesuatu yang normal? Ya kalau menurut pejabat berwenang sih begitu.

Mereka akan memberi seribu satu alasan agar masyarakat tidak panik. Malah sebagian ada yang mengatakan bahwa kalau US Dollar naik berarti pendapatan dari ekspor juga naik….

Wow…fantastis! kalau begitu dibiarkan naik sampai 20.000 rupiah aja kali ya…..

Dibandingkan saat krisis moneter 98, nilai tukar rupiah sama-sama melemah. Tetapi bedanya ketika itu media seperti diatur atau kompak menyatakan bahwa ini adalah sesuatu yang negatif. Sementara di tahun 2015 ini melejitnya Dollar Amerika tidak terlalu menjadi sorotan. Terkesan adem ayem saja.

Saya tidak ingin membuat komentar politik atau memojokkan pemerintah. Namun bukankah nilai mata uang turut mencerminkan perekonomian suatu negara?

Advertisement

Naiknya Dollar Amerika akan disusul dengan naiknya harga-harga barang. Karena dalam berbagai aspek (harus diakui), Indonesia banyak bergantung pada impor. Kedelai untuk tempe saja impor kan? Beras yang menjadi makanan pokok juga sebagian masih impor, begitu juga dengan bahan makanan lainnya.

Thailand sebagai tetangga jauh, tampak tidak terlalu terpengaruh dengan Dollar Amerika yang melonjak. Harga makanan masih sama. Karena mereka bergantung pada produksi dalam negeri. Sebenarnya kondisi politik mereka juga tidak terlalu bagus, karena saat ini Thailand berada dalam kekuasaan militer (kudeta tanpa kekerasan).

Begitu juga Malaysia yang sedang dihempas kasus dugaan korupsi IMDB, Ringgit mereka tidak jatuh karena Dollar Amerika.Bagaimana dengan Singapura? Ini tidak perlu ditanya. Singapura tidak hobi mencetak uang, kalau kita kesana, uang tahun 90an akhir sampai 2000an awal masih digunakan.

Sementara Indonesia terus menerus mencetak uang , bahkan kalau mengeluarkan pecahan mata uang baru rasanya bangga. Padahal makin banyak jumlah uang mengakibatkan nilai uang tersebut turun.

Yang membedakan menurut saya, di negara-negara lain, kegaduhan politik tidak terlalu berimbas pada ekonomi negara, karena urusan ekonomi ada yang mengatur secara proffessional. Sementara di Indonesia kegaduhan politik, membuat semua pihak asik mengurus hal tersebut, tidak ada yang terlalu peduli dengan urusan ekonomi. Selain itu tentunya peredaran uang yang begitu besar juga turut menjadi masalah.

Apakah uang yang demikian banyak efektif untuk membangun proyek? atau malah pergi ke tempat lain?

Dibalik situasi adem ayem yang saat ini terkesan "dikondisikan", suatu saat bisa terjadi ledakan (sesuatu yang buruk). Karena tidak mungkin penurunan nilai mata uang tidak berpengaruh apa-apa. Seperti sudah saya tuliskan tadi, kalau memang tidak ada pengaruh, sekalian saja Dollar Amerika dibiarkan sampai ke 20.000 Rupiah.

Akhir kata, semoga para pejabat berwenang turut memikirkan masalah ini dan tidak berputar-putar dalam keributan politik yang tak ada hentinya. Jangan terus menerus saling menyalahkan dan menyerang antar koalisi. Pikirkan kondisi negara ini juga. Negara ini bukan negara kecil, banyak potensi yang dimiliki, tidak seharusnya mata uang kita terus menurun seakan tidak ada harganya.