Bagi kami para korban patah hati, cinta bukanlah barang yang pasti lagi. Level kerusakan yang dibuat olehnya begitu membekas dalam sanubari. Hingga kini, kadang kami menganggap cinta bukanlah sebuah hadiah prestisi, hanya sebuah kata yang terselebungi kiasan indah yang membohongi.

Bukan tak ingin merasakannya lagi, tapi ada saja hal menghalangi. Dulu kami begitu candu akan mimpi mengenai indahnya kebersamaan, hangatnya sebuah pelukan ataupun begitu manisnya sebuah perhatian. Namun, saat ini hal itu hanya jadi prasasti. Sebuah monumen kenangan yang ingin kami kubur dan tak mau kami gali kembali.

Advertisement

Jangan anggap kami selalu bersedih tiap waktu. Tak perlu khawatir, kegalauan yang melanda kami tiap malam minggu tak selalu menjadi momok yang orang banyak prediksi. Kami menikmati. Rasa sendiri, rasa sepi dan rasa rasa yang membuat kami menjadi diri sendiri.

Ingatlah ini kawan seperjuangan, kita telah menjadi korban dari pegharapan yang berlebihan. Tak peduli ini salah siapa, karena pada akhirnya kita sendiri yang mengalami dan merasakannya. Entah berbagai jenis kerusakan hati apa yang telah kita alami, hal itu membuat semua tak lagi sama seperti yang dulu sebelum cinta mengilhami.

Wajar kah sesuatu yang seperti ini? Entahlah, tak ada yang selamanya benar ataupun salah. Namun bagi kami, para korban hati yang tersakiti merasakan pedih yang tak ingin kami alami kesekian kali. Layaknya piring yang telah pecah, meski disatukan kembali, retaknya masih akan terlihat. Tak seperti yang dulu lagi.

Advertisement

Kami bukannya takut dengan perempuan, atau laki laki yang ingin berdekatan. Tapi kami khawatir mengenai hubungan yang mendalam. Ada pengalaman yang mengajarkan kehati-hatian, yang mengajari untuk tak selalu percaya dengan kata manis pembualan.

Jangan paksa kami untuk kembali menerima cinta. Karena apa yang kami rasa tentang cinta tak sebegitu indahnya saat pertama kali mengenalnya. Biarkan waktu yang menjinakkan hati kami lagi. Yang terlalu ganas merobek kata cinta dan membuangnya untuk melindungi luka hati.

Maka biarkanlah kami masuk ke dalam ruang sendiri. Mungkin kami akan mencintai diri kami sendiri saja terlebih dahulu. Karena hanya diri sendiri yang tak mungkin berbohong dan menkhianati. Paling tidak kami lebih mudah memaklumi.

Hingga suatu saat apakah cinta kembali ataukah kami egois untuk tak bisa membagi hati lagi. Biarkan waktu yang akan menjadi saksinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya