Adakah yang paling menyakitkan dari ditinggal saat sedang sayang-sayangnya? Dan adakah yang paling buruk atas penolakan? Bagiku keduanya lebih baik daripada diterima hanya karena rupa lantas meninggalkan karena satu alasan yang tak mampu kamu ungkap dan tak dapat ku cerna dengan akal sehat.

Bisakah kamu menghilang dari belahan bumi ini hanyut bersama derai tangis yang pernah mengalir mengiringi kepergianmu? Bisakah kamu untuk tak kembali mengingatkan aku akan semua kenangan manis yang pernah kita lalui dan mengungkit janji manis yang pernah kamu tuai? Sejatinya kehilangan bukanlah satu hal yang sulit namun menerima kehadiranmu kembali adalah satu hal yang tak mampu membuat hati dan pikiranku bersatu. Bersatu melawan rindu atas benci yang kamu bangun. Harusnya kamu ingat, alasanmu dulu meninggalkan aku, saat aku berusaha menahan kepergianmu? Apa kamu lupa deraian tangis yang terus mengalir mengiringi kepergianmu dan tanpa sempat aku memohon untuk kamu jangan pergi, ternyata kamu sudah jauh dari jangkauanku.

Advertisement

Kini kamu kembali minta kita tuk bersama lagi, untuk apa? Lalu, bagaimana dengan luka yang kamu toreh? Baiklah, aku anggap kamu sudah lupa atau pura-pura lupa akan semua itu, tapi sepertinya aku tidak semudah itu untuk lupa. Tapi walau pun begitu aku akan berbaik hati untuk membiasakan diri terhadapmu dan berusaha menerima kepahitan yang pernah kamu beri, karena sejujurnya rasa rinduku teramat sangat padamu.

“Apakah Kamu dikirim semesta untuk menebus rinduku kepadamu?”

Kalau memang benar iya, kukira itu bukan solusi yang tepat. Sebab aku sudah jauh-jauh hari melupakan kamu, jikapun rindu hanya sebatas merindukan kebiasaan denganmu bukan kembali bersama. Bahkan malam itu untuk pertama kalinya setelah kita berpisah, kamu menghubungiku mencoba mencairkan suasana dan bertanya satu hal yang membuat ku cukup lama terdiam, hingga tak sadar jika sambungan teleponnya sudah terputus. Kamu bertanya, kenapa sampai saat ini aku masih sendiri? Kamu mau tau? Mungkin masih menunggu kamu!  Karena sejak berpisah denganmu aku tidak mengijinkan satu orang pun memasuki hatiku, bukan belum bisa melupakan hanya saja aku butuh istirahat dari cinta yang semu dan masih terus berdamai dengan bayangan dirimu dan diriku di masa lalu.

Advertisement

Dan kamu harus tau, karena orang yang tepat tidak selalu datang dengan cepat, nyatanya kamu. Seseorang yang datang di waktu yang tepat lalu pergi disaat hati mulai menetap. Membuat rindu semakin candu beradu dengan rasa sepi menghasilkan lara hati yang berujung pilu.

Apa yang lebih menyiksa saat rasa dipaksa berhenti namun sinyalnya semakin nyata? Apa yang bisa kamu perbuat selain pergi dan meninggalkan aku, seseorang yang pernah kamu dekati hanya karena rupa lantas meninggalkan saat ada yang lebih rupawan. Katamu mencintai sepenuh hati nyatanya bertahan sebentar lagi pun kamu tidak mampu. Jadi bisakah kamu di sebut laki-laki?

“Lantas Mengapa? Kini kau Kembali?”

Masalahnya, hatiku sudah begitu hancur. Tidak peduli dengan alasan apa kamu berani kembali semua hal itu mengingat kan aku tentang perpisahan yang lalu. Ini terlalu singkat, semakin kucoba untuk mengingat kenangan indah kita semakin mudah pula aku melupakannya dan yang terbayang hanya perpisahan pahit itu.

Lalu, apakah kamu pernah memikirkan perasaanku saat dulu kamu tinggal pergi demi dia yang lebih rupawan? Harusnya kamu tersadar, Rupa yang indah itu bisa kamu temui dimanapun, entah itu di halte bus atau pula dalam perjalanan dari rumah ke kantor yang terjadi sebentar dan sekejap saja, tapi hati yang tulus tidak semudah itu kamu dapatkan. Setelah kita berpisah semuanya hilang dan hanya menyisakan rasa.

“Jawaban atas pertanyaanmu sudah aku tuangkan dalam tulisan ini, bacalah jika kamu ingin tau jawabannya  lalu pergi lah jangan memaksa untuk kembali karena itu tidak baik, sayang”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya