Seseorang di Eropa sana mengatakan bahwa harga topeng yang dilukis dengan baik bisa membuat kaya mendadak. Tetapi itu hanya desas desus, mungkin ditiupkan oleh seniman putus asa yang sudah mulai bosan dengan melukis di atas kanvas. Bagi seorang pelukis sebenarnya uang bukanlah yang utama, yang terbaik adalah mampu mengekspresikan dengan sesempurna mungkin apa yang sedang dirasakan maupun dipikirkan ke atas media yang tersedia. Media itu bisa berupa kanvas.

Sebuah topeng kayu sudah ada di genggamannya, masih ada semacam pengait.Bisa dipakai kalau mau. Tetapi tentu saja kau akan terlihat bodoh kalau memakai topeng kayu dan berjalan-jalan di keramaian. Jarak dari tempat tinggalnya (lebih tepatnya tempat dia menumpang tinggal) ke pasar sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetapi seperti biasanya, hari itu Han Yi Shu berjalan memutar agak jauh.

Sengaja ia ingin lewat dekat tempat latihan musik. Ia berharap bisa berpapasan atau setidaknya bertemu dengan gadis itu. Namanya Sonja Ling, gadis keturunan Cina Belanda. Anak dari keluarga berada. Biasanya pada jam-jam ini gadis itu sudah selesai dengan latihan musiknya. Semoga ini kesempatanku untuk berkenalan dengannya. Memang sudah sejak seminggu ini Han Yi Shu berusaha keras agar bisa menemuinya. Tetapi beberapa kali ia sempat berpapasan, ia hanya bisa bertukar senyum. Ia terlalu malu untuk mencoba gadis itu.

Pemuda itu agak kecewa saat melintas di seberang tempat latihan musik. Ya…tempat itu tutup. Mungkin pemiliknya sedang berlibur. Ini berarti ia tidak bisa berpapasan dengan Sonja yang ia kagumi. Dengan langkah gontai, Han meneruskan perjalanan pulang. Semoga topeng yang baru ia beli bisa mengubah nasibnya. Siapa tahu ada juragan atau penguasaha yang bisa menghargai bakat seninya.

"Benda bagus Nona ! " terdengar suara seseorang berseru.

Advertisement

Han dapat melihat dengan jelas, seorang laki-laki bertubuh besar sedang menggenggam alat musik yang biasa dibawa oleh Sonja. Gadis itu berusaha meraihnya kembali, tetapi laki-laki itu tidak bersedia mengembalikannya. Han juga dapat mengenali laki-laki itu, seorang petualang jalanan, salah satu anak buah dari Arok si penjahat kota. Ini gawat. Sebaiknya aku pura-pura tidak tahu saja. Kalaupun sanggup menolong gadis pujaannya, bisa jadi Arok akan mencari dan membunuhnya.

Gadis itu terus berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang menolong. Beberapa orang yang melintas malah mempercepat langkah mereka. Sementara pria besar itu tertawa puas, ia mulai membalikkan tubuhnya , bersiap melarikan alat musik yang telah ia rampas. Di saat seperti ini Han teringat kisah-kisah pahlawan yang ia baca. Pangeran mengalahkan Naga atau Pendekar menolong penduduk yang dirampok. Aku harus bertindak!

"Berhenti! " suara bentakan dari sosok bertopeng kayu mengejutkan si pria bertubuh besar. Ia bukan hanya kaget karena bentakan itu,tetapi karena penampilan pemuda yang berdiri menantangnya. Si Topeng Kayu berdiri tegak diantara gadis itu dan si pria besar. Ia memang tadi bergerak cukup cepat untuk berada diantara mereka.

"Jangan melawak Bung " si badan besar menggertak, ia melangkah maju, bersiap mengayunkan tinjunya.

Sebenarnya si Topeng Kayu diuntungkan karena si badan besar masih menggenggam alat musik di tangan kirinya. Ia mau mengalahkanku dengan sebelah tangan? Pada jarak yang tepat si Topeng Kayu menjejak keras daratan , melompat cukup tinggi dan menghantamkan tinju tepat ke dagu pria besar itu. Secara refleks si badan besar menjatuhkan alat musik yang ada di genggamannya.

Sebelum sempat lawannya mengatur keseimbangan, si Topeng Kayu menarik salah satu kaki lawannya, disusul dengan hantaman sikut pada perut pria itu.Kali ini hantaman yang diterimanya membuat pria petualang jalanan itu merasa sesak nafas. Ia jatuh di atas permukaan jalanan.

" Awas kau nanti! " pria itu lalu bangkit dan berlari meninggalkan si Topeng Kayu, gadis itu dan alat musik yang tergeletak di sisi jalan.

Sonja yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan dan berharap agar penolongnya tidak celaka bisa bernafas lega.

"Ini milikmu " si Topeng Kayu memungut dan menyerahkan alat musik itu pada Sonja.

Rasa malu yang selama ini menghalanginya terhalang topeng kayu yang ia pakai. Kedua matanya dapat dengan leluasa mengagumi gadis di depannya.

"Terimakasih ", gadis itu lalu membuka kotak alat musiknya, memeriksa apakah ada kerusakan.

"Jaga dirimu baik-baik " si Topeng Kayu tidak bisa berlama-lama disana. Ia merasa kait pada topengnya mulai sedikit longgar. Ia lalu berjalan agak cepat melewati tubuh gadis itu dan menghilang di belokan jalan.