“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri,agarr kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang.Sungguh,pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda(kebesaran)-Nya bagi kaum yang berpikir”(QS Ar-Rum :21)

Advertisement

Ma..Pa kalian disatukan oleh Tuhan dalam ikatan suci pernikahan. Sebuah janji dimata Tuhan untuk hidup bersama dalam suka dan duka, dalam susah maupun senang saat jatuh maupun bangkit.

Ma..Pa mana kasih sayang yang kalian obralkan dulu. Mana cinta yang telah kalian jaga begitu lama. Dimana mama dan papa yang selalu menyambut aku dan kakak dengan senyum dan tawa terukir diwajahnya ? Aku benci raut muka sedih ,marah ,kecewa dan wajah datar yang kalian pertontonkan.Aku mau mama dan papa yang dulu.Yang memeluk ku .Yang mendengar ceritaku. Aku rindu suara lembut yang menyapaku.Aku rindu celoteh ringan ‘kita’ dipagi hari sambil menikmati sarapan dimeja makan .Bukan suara tinggi melebihi satu oktaf yang ‘memekak’ kan telinga. Bukan suara bentakan yang buat ku meringis ketakutan.

Advertisement

“Cerai..Merupakan perbuatan halal namun sangat dibenci oleh Allah”

Ma..Pa ….usiaku terlalu dini untuk memahami apa ‘cerai’ saat itu. Aku masih bocah yang masih sangat polos untuk memahami situasi yang ada kala itu. Yang aku tau, aku tinggal dengan papa , dan kakak tinggal bersama mama. Aku kira itu hal biasa.

”Besok mama dan kakak akan menyusul kerumah nenek” itulah yang selalu aku katakan saat aku mulai panik tak melihat mama dan kakak bersamaku. Aku selalu mendoktrin diriku sendiri "mama dan kakak pasti datang " . Dan hari-hari berikutnya kepala ku dipenuhi pertanyaan Kenapa Cuma aku dan papa yang kerumah nenek ?Kenapa mama dan kakak tak ikut ? Kenapa mama tak menjemput ? Kenapa papa tak mengajak kakak ?

Saat ku tanya pada laki-laki yang aku sayangi, yang aku panggil Papa. Jawaban yang tak bisa dicerna oleh anak usia lima tahun. “ Dek..mama sama kakak nggak tinggal sama kita lagi. Lagi ? What mean , pa ? Disini cuma ada papa sama adek.Kalo adek pengen ketemu kakak nanti papa antar kerumah mama ”.Rumah mama? Bukannya rumah kita , pa ?

Bukan. Sungguh bukan itu yang ingin kudengar dari mulut laki-laki yang sangat kuhormati itu. Ada butiran bening lolos dipelupuk mataku. Bibir yang terkunci begitu rapat. Mata yang memandang sayu sosok dihadapanku kala itu. Yang aku pahami.

Aku tak bisa bermain bersama kakak.Tidak bisa bertemu dengan mama. Tidak bisa merasakan makanan yang dibuat mama.

Tergambar dengan jelas dimataku kecemasan, ketakutan dan kesedihan.

“Aku rindu….”


Ma..Pa aku rindu kita yang bersama.


Aku tak suka tinggal terpisah. Aku ingin bertemu kalian.

Ma..Pa kenapa aku dan kakak dipisahkan ? Kenapa kami tidak tinggal bersama ? Kenapa kami harus berjauhan ?

Aku ingin bermain bersama kakak. Aku ingin belajar bersamanya.Menghabiskan masa kecilku seperti anak lain tumbuh bersama kakak-kakaknya. Bertengkar, saling melindungi dan berbagi cerita sederhana dari dunia kami.


“Jangan pisahkan kami” biarkan kami tumbuh bersama menjadi adik kakak yang saling menyayangi dengan sisa kasih yang kami miliki dari orang tua yang tak lagi beriringan.


Cukuplah kami menangisi keadaan yang tak sama dengan anak yang lain.Tak ada cium hangat dari mama dan papa.Tak ada yang menanyakan PR kami. Bagaimana hari kami disekolah. Jangan tambah kehancuran kami dengan dipisahkan seperti ini.

Ma..Pa kebersamaan kita akan jadi cerita tersendiri dalam memori kami.

Aku dan kakak akan selalu mengingat momen indah dalam hidup kami. Saat Kita. Aku kakak mama dan papa yang berpelukan dengan tawa penuh ketulusan. Masa-masa indah sebelum badai menghancurkan segalanya.

Ma..Pa jangan pisahkan kami. Jangan kira setelah belasan tahun aku bisa melupakan segalanya. Tidak. Aku selalu merindukan pertemuan dengan kakakku. Kami benci kondisi kami yang terpisah. Kami bukan kalian. Jika ada mantan suami. Jika ada mantan istri. Maka tak ada mantan kakak atau mantan adik. Ikatan darah kami begitu kuat. Meski kami terpisah tapi kami tetap saudara. Hanya kami yang tau bagaimana sulitnya kami melewati sepuluh tahun ini.

Dibalik senyum dan tawa yang kami pertontonkan dihadapan kalian. Ada luka yang coba kami tutupi.

Ma..Pa kami mencintai kalian.

Dari aku dan kakak

Yang merindukan kebersamaan, kita

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya