Akhirnya kesempatan datang juga. Bonar ingin membuktikan sendiri cerita yang selama ini beredar di sekolahnya. Terutama yang disampaikan dari mulut ke mulut oleh anak-anak kelas 5A. Entah siapa yang memulai, kisah penampakkan sosok misterius di kebun belakang sekolah menjadi bahan pembicaraan hampir pada setiap waktu istirahat. Sudah beberapa kali Bonar ingin melihat sendiri sosok itu. Tetapi niatnya selalu terhalang karena sepulang sekolah ia sudah ditunggu oleh ojek langganan keluarganya. Menyebabkannya tidak bisa berlama-lama di sekolah.

Tetapi kali ini berbeda. Kebetulan kegiatan Pramuka yang diikutinya berlangsung sampai sore. Ia sudah mengabarkan pada Ibu bahwa ia akan pulang agak telat, bersama Rudi yang diantar jemput oleh supirnya. Sudah sejak limabelas menit Bonar bersembunyi di balik tembok yang memisahkan antara bagian samping kelas 5A dan kebun belakang sekolah. Sosok itu belum muncul. Kabarnya memang mahluk itu baru memperlihatkan diri sekitar pukul setengah enam sore. Masih ada waktu.

Advertisement

Detik demi detik dilaluinya dengan perasaan tegang. Terkadang ia salah mengartikan gerakan dahan pohon yang ditiup angin. Hanya angin! Aku harus membuktikannya. Bonar terus membulatkan tekadnya, meskipun kakinya sudah agak pegal karena ia dalam posisi setengah berjongkok, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik tembok. Entah hanya perasaannya saja atau memang udara di sekitarnya berubah, ia mulai merasakan hawa dingin di bagian belakang lehernya. Bonar tidak berani membalikkan badan. Ia tahu ada sesuatu yang menanti di belakangnya.

Hampir saja ia terpekik saat dinginnya telapak tangan menyentuh bagian belakang lehernya.

” astaga! Aku bisa jantungan gara-gara kamu ” Bonar menggerutu sambil mengusap lehernya.

Advertisement

Roni tampak tertawa kecil, di tangan kanannya terdapat plastik berisi minuman dingin yang baru saja ia beli.

” kamu dicari tuh sama Rudi ” kata Roni, wajahnya tampak masih tersenyum geli mengingat reaksi yang tadi ditunjukkan oleh Bonar

” iya , sebentar lagi ” Bonar melirik pada jam tangannya, sudah setengah enam.

Krosak! Krosak! Terdengar suara yang asalnya dari kebun belakang sekolah. Bonar terdiam sesaat. Sementara wajah Roni berubah drastis, senyumnya hilang. Ia juga sudah banyak mendengar tentang mahluk itu.

Krosak! Krosak! Seperti suara orang melangkah sambil menginjak daun-daunan kering. Tetapi dari apa yang dilihatnya, Bonar tidak mendapati sosok yang menyebabkan suara tersebut. Roni sebenarnya ingin beranjak dari posisi berdirinya, tetapi ia terlalu takut untuk bergerak. Ia tidak bisa melihat langsung ke arah kebun belakang. Namun ia dapat mendengar suara itu.

” hei….sini…..sini…..” suara bisikan terdengar jelas di telinga Bonar

Tanpa ada yang memerintahkan, Bonar segera membalikkan badannya dan berlari sekencang mungkin. Di belakangnya Roni juga tampak berlari sekuat tenaga. Ia tidak ingin ditinggal sendirian. Berdua mereka berlari hingga mencapai bagian depan sekolah. Rudi yang melihat dua orang kawannya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia sudah cukup lama menunggu mereka berdua.

” kau dengar tidak ? ” tanya Bonar

” ya, aku dengar ” jawab Roni, nafasnya masih tersengal-sengal.

” suara bisikan “

” ada apa sih ? ” tanya Rudi penasaran

” ada yang membisikkan suara ke telinga kita ” jawab Bonar

Rudi segera memahami arah pembicaraan ini saat Roni memberi isyarat dengan tangannya.Dengan jarinya ia menunjuk ke arah belakang sekolah. Tidak perlu waktu lama bagi Rudi untuk turut merasakan ketakutan yang dialami oleh dua orang temannya. Tanpa banyak bicara ia mengajak mereka berdua untuk segera pulang dengan mobilnya. Di dalam hati, Bonar merasa menyesal dengan tindakannya tadi, seharusnya memang ia tidak perlu memberanikan diri menunggu sosok itu.

Sebuah senyum tersungging dari bibir si mahluk misterius. Semoga kejadian tadi membuat murid-murid berpikir ulang untuk mengganggu keberadaannya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya