Tidak membahas mengenai reuni wiro sableng dan gurunya belakangan ini, saya justru menyoroti perilaku manusia spesies homo sapiens yang tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Ya, tak hanya soal asmara yang menggebu, masa lalu memang selalu menyajikan cerita unik dan memorable.

Kita memang selalu suka yang namanya kebahagiaan. Apalagi kebahagiaan masa lalu yang mungkin ingin dirajut kembali.

Tentang kebersamaan, prestasi, kenakalan, makan-makan, jalan jalan yang membuat kita kadang merenung sembari menatap turunnya hujan ke permukaan bumi. Tak sampai situ, keinginan untuk mengulang kejadian yang serupa merupakan sebuah hal yang diinginkan bagi setiap insan yang dikekang kebahagiaan masa lalu.

Advertisement

Apa yang membuat kita selalu memutar kenangan kenangan lama itu? beberapa hal diantaranya adalah begitu berharganya momen saat itu. Yang mungkin sekarang tak bisa diulang lagi karena suatu sebab. Bahkan tak hanya kenangan yang berisi tentang kebahagiaan, pun demikian kenangan pahit dan memalukan juga menjadi bahan cumbuan.

Sesaat ketika kita mengenang jasa para pahwalan yang gugur mendahului kita, kita juga sering mengenang para orang orang yang telah memberi kebahagiaan dan pergi begitu saja kepada kita. Lantas bagaikan bintang merindu bulan, keinginan untuk bertemu lagi sangat pasti ada.

Setelah fase mengingat kenangan lalu tersenyum sendiri sambil rebahan atau makan gorengan, fase selanjutnya ialah keinginan untuk mewujudkannya lagi. Tetapi satu hal yang pasti mengenai sebuah kejadian yang telah lalu adalah rasanya akan sama indahnya namun belum tentu sama bentuknya.

Advertisement

Yang diinginkan adalah jiwa dari kenangan itu untuk dimunculkan lagi, tak mesti bentuknya sama maupun yang memberikannya mesti orang yang sama. Namun jika memungkinkan tentunya tak ada yang lebih istimewa selain kehadiran sosok istimewa yang memberikan kenangan tersebut. Solusinya, terjadilah sebuah perencanaan secara seksama untuk mengembalikkan segala keistimewaan tersebut. Lalu semesta pun mengangguk dan terjadilah sebuah reuni.

Menghubungi teman teman lama di grup alumni sekolah yang kebanyakan sudah pada nikah tinggal kamu sendiri saja yang belum adalah salah satu caranya. Menentukan waktu hingga tempat yang akan membuat kenangan itu kembali hidup dalam balutan suasana yang baru. Nostalgia antar perindu dan pecandu masa lalu pun terbentuk.

Anak-anak yang kumpul bersama menerbangkan layang-layang, kumpulan gosip ibu-ibu arisan, bukber teman SD sampai sekantoran, hingga pasangan yang telah lama dipisahkan. Begitulah kenangan, indahnya memang abadi dan menuntut untuk dibangkitkan kembali. Maka jangan heran banyak acara kumpulan-kumpulan bersama lagi yang bertajuk merajut memori.

Terlepas dari indahnya segala kenangan yang telah dirasakan, manusia memang sukanya berimanjinasi. Tentang segala hal yang dia ingini, tentang segala hal yang membuat hati riang sendiri, tentang segala hal yang ingin dibangkitkan lagi. Apalagi setelah masa masa yang ditempuh tak seindah masa dulu.

Rasanyan ingin memutar waktu dan berbahagia lagi layaknya diri yang dulu.

Itulah perasaan nostalgia. Gambaran indah sejak dulu kala yang terpatri lagi seketika. Ternyata memang kita suka sekali mengandai andai, apalagi tentang sesuatu yang pasti sudah terjadi, dulu. Daripada sesuatu yang akan terjadi kelak, harapan kadang membunuh dan menerkam tak sesuai keinginan.

Kebahagiaan nostalgia yang sudah terjalin kembali membangkitkan kembali harapan. Kita yang telah lama tak bertemu satu sama lain akhirnya kembali tertawa bersama dalam satu meja ditemani sebuah lalapan ayam goreng.

Diselangi canda khas yang saling menetawakan masalah satu sama lain yang membuat seolah masalah kita tak ada apa apanya lagi. Lalu pada akhir kesempatan dalam perjumpaan tak lupa kembali mengabadikan segalanya dalam foto kebersamaan. Keindahan dan kebahagiaan yang terulang. Masa yang tak sama namun nilainya tetaplah berharga. Nostalgia memang menjadi obat bagi kita. Bagi manusia yang setidaknya ingin kembali mengukir senyuman setelah letihnya kehidupan.

Rasanya sulit untuk menyangsikan orang-orang yang terbawa masa lalu. Apalagi masa lalu yang membuatnya tersenyum dalam hiruk pikuk kebosanan rutinitas. Yah, harus diakui kita memang ahlinya dalam membuat segala hal menjadi kenangan. Senang, sedih, gembira, haru, duka, pahit, manis segalanya yang telah kita lakukan dalam sebuah hubungan pada akhirnya menjadi kenangan.

Teringat sepasang kakek-nenek yang saling merangkul satu sama lain. Kebahagiaan masih terpancar dalam wajah mereka. Pastinya bukan karena wajahnya yang sudah keriput dan menua yang mungkin tak akan lolos seleksi administrasi Putri/Putra Indonesia. Melainkan kenangan bersama yang telah mereka ukir, sedari dulu, saat mereka masih sangat tampan dan cantiknya untuk saling mencintai.

Terpenting dari semua itu, keberadaan salah satu di antara merekalah yang membuat nostalgia jauh lebih indah dan pastinya akan membuat kenangan kenangan lagi nantinya. Yang bisa kembali dikenangan di masa mendatang.

Mau mengenang dan akhirnya tenggelam di dalamnya ataupun kembali merajut kenangan indah lainnya adalah hal yang tak bisa dihindari. Sesekali bolehlah untuk bernostalgia dan kembali ke belakang untuk sekedar mengingatkan.

Tentunya jangan lupa untuk menambah kembali memori kenangan agar tak habis persediaan di masa yang akan datang.

Lalu yang terpenting dari semuanya, dari masa lalu yang membahagiakan dan nostalgia yang menyenangkan, mari kita berbahagia untuk sekarang. Biar nanti menjadi kenangan bersama, mungkin saja aku dan kamu, karena kamu memang istimewa di hidupku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya