Mengakui Bahwa Sedang Tak Baik-baik Saja, Kadang Bisa Membuat Perasaan Menjadi Lebih Baik

Dalam proses pendewasaan, kita akan menyadari bahwa hidup tidak semudah yang kita lakukan saat kecil. Makan, tidur dan bermain.

Advertisement

Episode-episode kehidupan silih berganti. Tawa, tangis, bahagia, sedih. Dan kadang, ada saat-saat di mana setelah tangis terbitlah tangis yang lain. Belum beralih dari kekhawatiran yang satu, sudah ditambah kekhawatiran berikutnya.

Semakin usia kedewasaan kita bertambah, semakin tinggi pula kadar ujian yang hidup berikan. Mental dan fisik kita dibombardir dengan kenyataan yang kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kita biasanya menuntut diri sendiri untuk lebih kuat lagi, untuk tidak cengeng, untuk tetap bertahan, untuk berpura-pura bahwa 'ya, aku baik-baik saja.'

Padahal jauh di lubuk hati, kita tahu, bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Hati dan fisik tidak bisa berbohong ketika mereka merasakan kesakitan atau kelelahan. Oleh karena itu biasanya mereka akan menimbulkan gejala. Entah itu cekungan hitam di bawah mata, tubuh yang semakin ringkih, dada serasa sesak, susah tidur hingga kurang fokus dan tidak semangat menjalani hari. Gejala tersebut akan semakin menjadi bila kita terus 'memaksa' tubuh dan pikiran kita untuk tetap baik-baik saja.

Advertisement

Kadang, cara terbaik sebenarnya adalah pelan-pelan mengakui bahwa kita memang sedang lelah, kita memang sedang terluka, kita memang belum kuat.

Setelah penerimaan atas kelemahan kita, baiknya kita memberi jeda pada kehidupan. Istirahatkanlah dulu fisik dan pikiran kita. Rasakan setiap kesedihan dan kekalutan itu. Bila perlu, ubahlah menjadi tangis. Urai beban-beban itu menjadi bulir-bulir air mata hingga merasa sedikit plong.

Ketika orang di sekitar kita bertanya kenapa, jawab saja yang sebenarnya. Kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Ada kalanya kita butuh didengar, kita butuh dibantu. Orang-orang di sekitar kita bukanlah agen FBI yang bisa membaca setiap kode dari gerak-gerik kita. Mereka tidak tahu apa yang sedang menimpa kita, maka itu kita harus memberi tahu.

Memang, dengan bercerita, tidak lantas masalah kita akan selesai saat itu juga. Tapi setidaknya, ada tempat untuk berbagi kepenatan, bisa menjadi bahan semangat kita untuk tetap hidup di dunia yang tidak mudah ini.

Tapi perlu diingat, untuk tidak sembarang bercerita kepada orang lain atau di media sosial ya. Cukup keluarga, sahabat, atau mereka yang mempunyai kompetensi di bidangnya saja. 

Mengakui bahwa kita sedang lelah, tidak langsung menjadikan kita manusia berkasta rendah. No, lelah, terluka adalah hal yang wajar yang kita rasakan sebagai manusia. Lelah adalah pertanda bahwa pikiran dan fisik kita butuh istirahat sejenak dari riuhnya hingar bingar kehidupan.

Maka berbaringlah di tempat tidur, menangislah, peluklah orang yang memahami kita. Dan pelan-pelan secara tidak langsung, dengan melakukan hal itu semua,  kita sedang melakukan re-charge energi untuk bisa berpikir jernih, untuk menemukan jalan keluar terbaik dari masalah yang sedang kita hadapi. Jangan takut untuk di cap lemah, tenang saja, semua akan membaik tidak lama lagi. Bright after rain.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

penyuka buku, coklat, kamu, dan SEVENTEEN. 90 Line :)

CLOSE