Meneruskan Warisan Resep Gudeg Nenek dari Tahun 1963. Usaha Turun-temurun yang Selalu Dilestarikan

usaha gudeg

Dini hari, saat gelap dan dingin menyelimuti serta sayup-sayup suara adzan subuh terdengar. Terlihat seorang wanita yang sedang sibuk didapur miliknya yang masih sangat  tradisional, dengan tumpukan kayu yang menghiasi setiap sudut dapur dan beberapa tungku yang berjejer untuk memasak. Dengan kepulan asap yang turut memenuhi dapur dia menyiapkan dagangan untuk segera dibawa ke lapak jualan.

Advertisement


“Semua dagangannya sudah disiapkan dan diracik dari malam jadi tiap sebelum subuh sudah tinggal mempersiapkan semuanya saja,”tuturnya.




Wanita tangguh ini terlihat sangat semangat untuk mulai berjualan disaat banyak orang masih sedang menikmati jam tidurnya. Wanita itu bernama Ari yang telah terjun kedunia kuliner hampir 2 tahunan ini, dia meneruskan usaha dari ibunya yang berjualan gudeg sudah sejak lama.


“Melihat umur ibu yang sudah tua dan harus istirahat dan keinginan meneruskan resep turun temurun gudeg ini jadi saya memutuskan meneruskan usaha gudeg ini,” ucapnya.


Advertisement



Ari pada awalnya bekerja sebagai perawat disalah satu rumah sakit di Yogyakarta. Lalu Ari merasa harus meneruskan usaha gudeg ibunya yang sudah turun temurun dari neneknya dahulu. Kemudian mengingat umur ibunya yang sudah tua dan harus banyak beristirahat, maka Ari mengulatkan tekad dan memutuskan meneruskan usaha ibunya tersebut.



Ari sudah sangat tidak asing dengan dunia memasak bahkan setiap proses pembuatan gudeg yang bagi orang awam nilai ribet. Bahkan dia sudah terbiasa dengan kepulan asap serta panas dari kayu-kayu yang digunakan untuk memasak gudeg.


“Dari kecil sudah terbiasa melihat nenek bikin gudeg dan terkadang dahulu ikut nenek berjualan,” ujarnya.


Walaupun terbilang masih muda serta lulusan perawat namun dia tidak segan dan malu untuk berjualan gudeg dan membantu meracik hidangan yang menjadi kuliner khas Yogyakarta ini.

Ari bercerita bahwa gudeg resep turun temurun ini telah ada sejak tahun 1963. Awalnya neneknya yang memulai usaha ini, lalu diturunkan kepada anak serta mantunya yang mau meneruskan resep gudeg ini. Terhitung ada 2 anak, menantu, dan cucu dari neneknya yang meneruskan usaha gudeg ini dengan tempat berjualan berbeda. Hal ini dilakukan agar para pelanggan setia gudeg neneknya terdahulu tetap dapat menikmati gudeg yang sudah sangat lama ada dan legendaris ini.



Ari juga telah memperluas jangkauan para pelanggannya hingga keluar kota dengan dibuatnya gudeg kering yang dapat dikirim keluar kota Yogyakarta. Bahkan gudegnya sudah pernah dipesan hingga kota Lampung dan Kalimantan. Dia juga melayani pemesanan online melalui Gofood dan Grab Food dan tidak hanya buka di Malioboro saja namun pembelian gudeg juga tetap dapat dilayani di rumahnya yang bertempat di daerah kota gede yang buka hingga sore hari setiap harinya.



Terdengar para pegangan lainnya saling berbincang untuk melepas rasa lengah sembari menunggu para pembeli datang, hari ini Malioboro terlihat sepi tidak seramai biasanya karna adanya pandemi Covid-19 ini. Kemudian wanita ini meraih gelas untuk membuatkan segelas teh hangat untuk pelanggan gudegnya yang terlihat sedang menikmati gudeg dikursi pengunjung sekitaran Malioboro. Dia melayani para pelanggan dibantu oleh kakak perempuannya dan terkadang ibu dan bapaknya juga turut membantu.



Ya, Ari selalu melayani para pelanggan dengan ramah dan sabar dan selalu sedia menyiapkan secara lengkap pilihan hidangan gudeg dengan beragam agar para pelanggan tidak kecewa dan dapat memilih apa yang mereka inginkan. Mulai dari gudeg, bubur, sayur krecek tempe, semur telur dan semua ayam, serta masih banyak pilihan lainnya.


“Karena  selera orang beda-beda, kadang kalau yang tidak begitu suka gudeg biasa pesan bubur karena cocok untuk sarapan juga,” imbuhnya.




Wanita tangguh ini memiliki keinginan membuka cabang di sekitar Yogyakarta untuk usaha gudeg ibunya ini agar dapat lebih berkembang dan gudeg buatan keluarganya dapat dikenal oleh kalangan luas. Dia pernah mendapatkan tawaran dari salah satu pelanggannya dari Lampung untuk bekerja sama membuka cabang gudegnya di Lampung namun dia tolak karena mengingat jauhnya kota Lampung dan Yogyakarta serta kurangnya waktu jika dia memaksakan membuka cabang di Lampung, Karna resep gudegnya turun temurun dan sayang apabila cita rasanya akan berbeda jika ditangan orang lain.


“Tetap ingin mempertahankan resep dari nenek dan tetap berpegang pada cita rasa yang sekarang, takutnya nanti jika beda orang justru rasanya berbeda dan kalau beda kota itu harus dimodifikasi lagi rasanya agar sesuai dengan lidah orang sana,” ucapnya.




Menjadi generasi ke-3 dari usaha turun temurun nenek dan ibunya menjadikan Ari merasa tertantang dan lebih semangat untuk mengembangkan usaha gudegnya dan mempertahankan usahanya sekarang.


“Yang penting tetep ulet dalam menjalani usaha ini dan menjadikan pelanggan itu nomor satu selalu, setiap kuliner akan tetap menemukan para pecintanya tersendiri,“ terangnya.




Di rumah dia juga membuka kedai makan sederhana yang setiap harinya selalu menyediakan gudeg yang dikemas secara modern menjadi rice bowl masa kini. Karena itu Ari selalu semangat mengikuti trend dan perkembangan kuliner pada saat ini agar usaha gudegnya tetap eksis bertahan. Dia selalu bangun saat subuh hingga sore hari untuk mengurus usaha gudegnya agar usaha gudeg turun temurun ini tetap berlanjut bahkan harapannya hingga generasi selanjutnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE