"Seburuk apapun kamu, seseram apapun kamu, sebahaya apapun kamu, kami tetap memilih mu, karena kamu kami berjalan”

Pemandangan yang indah, kabut yang masih menyelimuti sawah, tumbuhan padi yang mulai menguning, dan suara air ikut menghiasi suasana pagi yang sejuk dan damai. Walaupun pagi masih berkabut dan gelap, itu tidak menjadi halangan bagi langkah kami untuk segera menuju basecamp gua Arca. Menyusuri jalan setapak menggunakan motor membuat kami semakin hati-hati, pelan-pelan ban motor kami menyusuri jalan setapak yang awalnya semen kemudian batu-batu dan terakhir tanah. Meskipun jalan seperti itu, tidak menjadi hambatan untuk kami menuju gua Arca.

Gua Arca adalah salah satu gua horizontal dengan karakteristik gua fosil, kering dan besar dengan panjang kurang lebih 500 meter yang terletak di Desa Cikapinis, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dengan koordinat titik start 108⁰5’28,1” BT – 7⁰40 ’30,4” LS dan titik basecamp 108⁰5’29,3” BT – 7⁰40 ’30,3” LS. Flora yang banyak di temui sebagian besar tumbuhan kebun seperti singkong, padi, kacang, dan lain lain) sedangkan fauna yang ditemui adalah burung dan serangga.

Matahari mulai terik, hijaunya daun pohon getah mulai tertampak, semua pohon terlihat sedang berfotosintes, padi yang kuning semakin merunduk, perlahan kami menyusuri jalan setapak dengan kedua kaki kami. Jalan mulai antri disaat melewati sungai kecil, sungai yang memiliki air berwarna agak keputih-putihan, terlihat sungai itu aliran dari gua yang mengandung karst. Terlihat dari sungai basecamp kecil, kami mulai jalan menuju basecamp. Sebagian kami sibuk menyiapkan basecamp dan yang lain menyiapkan sarapan pagi.

Setelah kami sarapan, kami langsung persiapan untuk mengeksplor gua Arca. Semua sudah siap dengan boot, helm, coverall dan headlamp serta masing masing sudah memegang alat-alat pemetaan dan fotografi sesuai skenario briefing sebelumnya. Aku, Nana, Niken, Umar, Hanin dan Ryan memasuki gua, sedangakn Bang Baho dan Wau di basecamp. Sebelum masuk mulut gua, kami diberi arahan untuk memastikan semuanya paham dengan skenario pagi ini.

Advertisement

Tepat di mulut gua, semua sudah ambil posisi, Ryan sebagai pendamping siap untuk mengarahkan kami berlima. Semua tampak masih binggung dengan tugasnya, tapi itu tak halangan buat kami. Simpati Ryan yang mengarahkan kami dan sesekali dia menghapus keringat dari keningnya membuat kami tak ingin mengecewakannya. Semua bergilir meraskan menjadi shooter, station, notulen, discriptor dan fotografer. Kering dan luasnya gua membuat kami bisa melakukan pemetaan dengan efektif dan berjalan dengan leluasa. Tepat di chamber pertama, seperti ruangan yang besar dan ada dua batu besar tepat di tengah chamber. Dinding dinding chamber yang seperti gorden membuat hasrat fotografer ingin langsung mengambil gambar. Dan sesekali kami mengetuk ornamen-ornamen kering untuk mengetes ke kopongan.

Tetesan air yang terdengar digelapan, menghiasi aktivitas kami. Kegerahan mulai kami rasakan, keringat mulai mengalir di kening kami, coverall yang kami gunakan mulai berubah warna, boot yang kami gunakan mulai panas, cahaya headlamp yang lengket di helm kami terasa mulai redup. Licin nya tanah menuju lorong satu lagi membuat kaki kami berjalan semakin pelan. Haus dan lapar sudah mulai kami rasakan, akhirnya kami memilih untuk istirahat sejenak untuk mengrefreskan diri dan perut. Tepat pukul 14.30 sesuai briefing kami keluar dari gua.

Saat keluar dari gua, semua mata kami sipit, seperti berperang dengan cahaya matahari. Kami melangkah pelan menyusuri batu-batu di mulut gua. Sampai di basecamp, kami langsung disajikan makan siang. Setelah makan siang, kami lanjutkan dengan briefing penempatan posisi. Dari hasil briefing, aku sebagai shooter, Umar sebagai station, Nana sebagai discriptor, Niken sebagai notulen dan Hanin sebagai fotografer. Tepat pukul 16.00 kami kembali memasuki gua dan membawa senjata masing-masing sesuai peran yang dimainkan. Baru sampai di stasiun lanjutan tadi siang kami sudah mulai bosan dan malas. Semangat kami untuk pemetaan mulai pudar, kami merasakan hawa di dalam gua semakin panas dan gerah, sementara bentukan gua mulai aneh, yang menuntut kami untuk lebih teliti dalam pemetaan. Tapi, Ryan berusaha untuk mengembalikan semangat kami lagi. Dan dia mengingatkan kami dengan target simulasi kedua kami ini. Sejenak kami mulai mengambil posisi dan mulai melawan rasa malas, panas, dan ngantuk. Disaat seperti ini kami harus tetap saling menjaga semangat satu dengan yang lain, karena memang caving ini adalah olahraga tim.

Sampai lah kami di lorong kedua yang lebih lebar, kami menjadikan nya chamber kedua. Banyak kelelawar dan decomposer yang kami temui, sehingga membuat kami agak merinding melewati lorong yang satu ini. Ternyata lorong yang ini tidak terlalu panjang.

Ketika sudah semua lorong besar kami eksplor kami mulai siap-siap untuk kembali ke basecamp dengan entrance yang berbeda. Tapi sesampainya diatas kami kesulitan untuk menemukan basecamp kami. Karena hari semakin gelap, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke gua dan keluar dengan entrance sebelumnya. Tepat pukul 19.35 kami tiba di basecamp, sejenak kami bersih bersih dan langsung makan malam. Malam itu setelah eval dan briefing kami langsung memilih istirahat.

Tepat pukul 06.00 Niken membanguni kami, tanpa dibanguni pun kami akan bangun karena gerah nya cuaca membuat tidur kami berkeringat dan kurang nyenyak. Aku dan Nana langsung mengambil posisi didepan trangia dan nesting. “makan pagi ini harus enak” kataku sambil memotong bawang. Setelah beberapa menit akhirnya masakan kami selesai dan siap di makan.

Setelah perut kami terisi, saat nya kami siap dengan alat alat eksplor kami hari ini, di hari kedua ini kami fokuskan ke fotografi. Jadi persiapan kami lebih rapi dari biasanya, tanpaknya semua siap jadi modelnya Hanin. Masih pintu gua kami sudah di suruh ambil posisi. Tampaknya fotografer Hanin bersemangat sekali. Untuk amatir seperti kami butuh beberapa pengambilan untuk dapat menghasilkan foto yang sesuai harapan kami. Terkadang Nana yang kami jadikan model di stalagmit pertama tampak badmood karena kelamaan. Kebosanan mulai kami rasakan. Untuk mengantisipasi kebosanan kami, kami pindah dari satu tempat ke tempat lain. Di lorong kedua banyak stalagtit dan stalagmit yang bagus dijadikan objek pemotretan, karena banyak stalagtit dan stalagmit yang masih hidup. Dan tepat di tengah lorong ada stalagmit dan stalagtit yang mau menyatu. Saat lagi asiknya foto-foto ornamen di lorong kedua, tiba-tiba battery kamera habis. Untungnya ada beberapa foto yang sesuai harapan kami. Akhirnya kami pulang ke basecamp lebih awal. Rebahan sebentar dan langsung siap-siap perjalanan pulang.

“Seburuk apapun kamu, seseram apapun kamu, sebahaya apapun kamu, kami tetap memilih mu, karena kamu kami berjalan”