Meskipun Indonesia baru saja merayakan kemerdekaannya ke 73 tahun, rasanya kemerdekaan ini tidak terjadi dalam beberapa keluarga setiap daerah yang ada di Indonesia khususnya bagi mereka perempuan yang cukup matang untuk menikah yang dilihat dari usia. Jika, Indonesia sudah #MerdekaTapi selama itu bunda masih memberi target kepada anak perempuannya harus menikah sebelum umur 25 tahun, rasanya sebagai perempuan belum mampu merasakan kemerdekaan seutuhnya.

Bukan berarti mereka sebagai perempuan tidak ingin menikah atau mereka terlalu galak dengan laki-laki sehingga pria tersebut tidak mau mendekat pada anak perempuan anda, bukan itu bunda. Perempuan seperti mereka hanya mencari seseorang yang tepat untuk mendampingi hidupnya di masa mendatang. Bukannya, bunda sendiri yang pernah mengatakan carilah laki-laki yang tepat jangan melihat dari tampang luarnya? Sekarang mereka sedang mencari laki-laki tersebut.

Advertisement

Jika, bunda mengatakan perempuan yang menikah di atas 25 adalah masalah besar bagi keluarga anda, mungkin bunda harus banyak-banyak mendengar cerita tentang kehidupan mereka selama kuliah dan bekerja saat ini sebab, semua telah berbeda era. Memang benar di sekitar bunda banyak sekali anak teman-teman anda yang telah dipinang, sedangkan anak perempuan bunda?

Tambatan hati saja belum memiliki atau mungkin mereka belum siap untuk berkomitmen lebih jauh dengan pasangan. Itu salah satu faktor penyebab ada target untuk segera menikah dapat dikatakan itu sebuah kecemasan yang sangat besar, betul tidak? Semua perempuan tentu saja ingin menikah tapi ini belum saatnya, semua memiliki masanya sendiri-sendiri, fase mereka tidak sama. Mungkin benar usia mereka telah matang untuk menikah, akan tetapi mental apakah telah siap?

Itu juga perlu dilihat kembali sebelum memutuskan. Semua akan percuma saat mental mereka belum siap seutuhnya, menikah hanya akan menjadi sebuah syarat agar keluarga puas melihatnya sedangkan, batin mereka seperti meronta ingin keluar dari belenggunya.

Advertisement

Semua tidak berhenti dari keluarga yang gencar-gencarnya merengek meminta anak perempuannya segera menikah saat telah pada puncak klimaksnya ketika, melewati batas yang dirasa terlalu jauh. Pergunjingan tetangga akhirnya terdengar dimana-mana. Meskipun mereka tersenyum saat ditanya, dalam hati mereka juga merasa kesal.

Bisakah manusia menghargai pilihan sesamanya? Untuk tidak mencampuri urusan pribadi orang lain? Jika, diizinkan berbicara lebih panjang lebar tentang menikah mengharuskan ada kesiapan lahir dan batin. Ada banyak petimbangan untuk menikah seperti calon suami harus memiliki pekerjaan tetap, perempuan telah siap melayani suaminya dan keduanya siap untuk hidup bersama tanpa campur tangan orang tuanya kembali.

Membangun kerajaannya sendiri bukankah alangkah lebih baik saat mereka tidak mencampur adukan orang tua atas segala permasalahannya bersama pasangan kelak? Saat selalu mengedepankan menikah tepat waktu rasanya tidak semua perempuan millenial seperti itu, mereka pemilik mimpi-mimpi besar yang siap untuk diwujudkan.

Menikah adalah salah satu tujuan hidup bukan tentang satu-satunya tujuan hidup, ada orang tua yang harus dibanggakan ada diri sendiri yang siap diberi kepuasaan. Alangkah besar dan mulia cita-cita mereka?

Di masa telah merdeka akan tetapi, menikah masih menjadi target untuk para bunda dan orangtua lainnya. Lalu apa bedanya dengan masa kerajaan? Masa penjajahan? Mengharuskan wanita menikah diusia muda karena, tugas perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga. Namun, patut disyukuri sebab R.A Kartini berusaha memperjuangkan hak perempuan Indonesia agar mendapatkan pendidikan yang layak setara laki-laki di luar sana.

Seorang perempuan kelahiran Jepara dipaksa menikah dengan seorang laki-laki pilihan orang tua, hanya karena usia R.A Kartini telah memenuhi kriteria sebagai seorang istri. Mungkin pemahaman tersebut terlalu terpatri teramat dalam sehingga mengakar hingga ratusan turunan keluarga di belahan Indonesia.

Anak perempuan Indonesia hebat-hebat, pikiran mereka telah luas boleh saja bunda memberi mereka keinginan untuk menikah di usia muda tapi, ingat jangan sampai itu semua menjadi beban dalam hidupnya. Takutnya nanti esensi menikah tidak menjadi ibadah melainkan paksaan ibu-ibu di rumah. Menikah bukan lelucon yang akan membuat semua orang tertawa puas, menikah tentang hal serius menata kehidupan baru bersama pasangan yang dipilih tulus dari hatinya untuk menghadapi segala macam serbuan badai dimasa mendatang yang berjanji akan tetap bersama dan tidak akan meninggalkan satu sama lainnya.

Mungkin banyak orang harus belajar lebih jauh tentang hal tersebut, perempuan bukanlah wanita biasa setelah lulus menempuh pendidikan di bangku kuliah kemudian menikah, tidak semua perempuan seperti itu bunda. Perempuan kecil tersebut telah beranjak dewasa saatnya mereka meraih mimpinya sedari kecil yang belum mampu mereka gapai selama menempuh pendidikan bertahun-tahun.

Jangan patahkan semangat mereka bunda! Merdekakan putri perempuanmu dengan tidak menjadikan beban menikah itu. Doakan mereka agar segera menggapai cita-cita yang diharapkannya semua akan bersamaan dengan jodoh yang sepadan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya