Sempat suatu waktu aku mengenalmu sebagai sebuah harapan. Harapan besar di mana ku gantungkan sketsa masa depan yang indah bersamamu. Semua terasa mungkin karena ada banyak kesamaan yang baru kali ini ku temukan begitu spesifiknya.

Makanya semenjak saat itu hatiku selalu penuh dan pintunya hanya terbuka untukmu. Semua sudut ruang terasa artistik meski tanpa hiasan.

Advertisement

Bertemu denganmu adalah sebuah kegemaran baruku. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak waktu yang kita lewati bersama. Bahkan sang waktu sampai menaruh cemburu pada kita yang tak mengenal bosan. Satu waktu pertemuan terasa minim. Semua terasa cepat bila denganmu. Makanya bersamamu adalah cara paling jitu untuk membunuh waktu.

Saking cepatnya, perpisahan terasa janggal ya? Sapardi dalam puisinya mengatakan bahwa yang fana adalah waktu, sedangkan kita abadi. Ku rasa waktu memang punya akhirnya masing-masing. Dan mungkin waktu kita telah usai. Tapi apakah kita kekal? Aku bahkan ingin segera melupakanmu. Aku tak lagi ingin mengenal kata kekal bila itu berkaitan denganmu.

Hatiku kini serupa pohon jati yang meranggas. Aku kehilangan keyakinanku untuk melanjutkan perjalanan ini. Aku menyerah pada keadaan yang tak pernah merestui kita. Semakin mengenalmu, kamu semakin merasa mahapenting.

Advertisement

Sedangkan aku tak lagi mampu menoleransi keegoisanmu. Dengan mudahnya kamu merancang sendiri masa depan indah atas nama kita. Lalu kau buang ke mana mimpi-mimpiku? Apa kamu lupa bahwa aku adalah seorang pemimpi? Sejujurnya baru kali ini kecewa terasa begitu menyiksa.

Sisa pertengkaran terakhir tak menyisakan apapun. Air mataku bahkan telah kering berbulan-bulan silam sebelum mengenalmu. Sejatinya aku mulai kehilangan selera untuk menangis. Mulanya ku pikir, denganmu tak akan ada lagi tangis.

Ternyata hal-hal kecil pun terasa begitu tangis. Ternyata ucapanmu ujung mata pisau. Ternyatanya lagi, kau hanya main kong kalingkong denganku. Rupanya kau hanya ingin menabur benih, menungguku tumbuh, untuk akhirnya kau godot kembali hingga akarnya.

Ada pepatah mengatakan ‘cintailah pasanganmu semampumu’ – tak lain agar kita tak jatuh terkubur harapan yang terlampau tinggi – nampaknya aku bahkan tak sanggup mencapai kata mampu.

Pertahananku selama ini hanyalah mampu yang ku paksakan. Mungkin aku bukan sumber bahagiamu lagi. Kalau hanya perih yang bisa kau beri, untuk apa ku menggenggammu erat-erat?

Kelak mungkin logika dan harga diriku tak akan pernah mengizinkanku merindumu. Kali ini aku menjamin: ucapan perpisahan tak akan kehilangan maknanya. Aku benar-benar tak akan sedikit pun kembali menyentuhmu. Kamu bukan lagi rumah. Sebab rumah selalu tabah menunggu kepulangan.

Mungkin pertemuan kita kala itu adalah lalaiku yang keliru mengetuk pintu rumahmu. Atau mungkin aku terkecoh oleh pendarmu yang begitu memesona. Atau bisa pula, aku lah yang telat menyadari bahwasanya aku tersesat.

Kamu bahkan tak senyaman dan seteduh yang ku kira. Aku tak akan menyalahkan keadaan, karena ku tahu yang fana adalah waktu. Aku tak akan pulang kepadamu. Sekali lagi. Kini kamu tak lebih dari sekadar asing.

Hey, kini jauh selepas aku masih bersamamu, keadaan telah jauh membaik. Kamu mungkin tak tahu bahwa aku jauh lebih lihai menghadapi perpisahan. Bahkan hatiku terlalu keras untuk menangisi keadaan.

Di usiaku saat ini, aku sudah harus menjadi perempuan berhati luas nan lapang. Seorang yang tidak mudah menangis hanya karena hal-hal kecil. Ku rasa kita hanyalah perkara kecil yang sebenarnya tak perlu ku ambil pusing.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya