Harus kuceritakan apa lagi tentang kamu. Tentang aku cinta kamu, lalu pergi meninggalkanmu? Atau tentang kamu yang menjadi alasanku tetap berjuang. Ini berawal dari pertama kalinya kita bertemu, aku mengenalmu baik jauh sebelum kita sedalam ini. Rasanya kamu istimewa saat itu entah aku salah minum atau makan apa tiba-tiba ada saja keanehan yang aku rasakan. Jantungku terus berdegup kencang setiap kali kita bersama, bahkan kabar darimu lebih aku tunggu dan sudah menjadi rutinitasku setiap hari.

Kamu tahu betapa tersiksanya hati menahan rindu? Sedangkan yang dirindui mungkin sedang mengharap yang lain.

Advertisement

Aku sungguh tidak peduli hal itu, aku tidak berpikir tentang hatimu. Yang aku tahu aku jatuh hati padamu, tentang bagaimana hatimu sungguh aku tak peduli dan tidak mengharapkan kau membalas semua ini. Bersamamu saja sudah cukup bagiku, walau entah hatimu bersamaku atau tidak. Kamu tahu selama itu aku menaruh harap padamu, di sepanjang yang kita lalui bersama. Aku percaya saja dengan apapun yang kamu katakan, sungguh aku hanya ingin bersamamu, hanya ingin memperpanjang kebersamaan ini.

Aku hanya ingin kita baik-baik saja, itu sebabnya aku tidak ingin membicarakan kesalahanmu. Tidak juga ingin membuatmu marah atau kesal. Aku hanya ingin kita baik-baik saja. Aku pikir yang kulakukan itu benar ternyata dugaanku salah. Lambat laun aku terbunuh cintaku sendiri, aku yang selalu menutup mata atas segala kesalahanmu. Aku yang selalu menutup telinganya tentang pembicaraan orang. Sungguh ini tidak mudah, setiap kali kuobati lukaku sendiri. Setiap saat ku mencoba menenangkan diri sendiri.

Apakah jatuh cinta sebodoh ini?

Advertisement

Sejak awal aku tahu hatimu di tempat lain tidak bersamaku. Tapi aku tetap tidak peduli. Aku tahu kau selalu merindui yang lain, aku tahu kau masih mengharapkan yang lain. Tapi aku masih tetap tidak peduli. Kali ini pertahananku patah, aku tidak bisa berjalan sendiri dengan luka yang tak kunjung kering. Aku tidak bisa membuat semua terlihat baik yang nyatanya tidak pernah seperti itu. Apa aku bodoh yang selalu saja mempercayai setiap omonganmu, selalu saja menghormati hatimu tapi tidak dengan hatiku. Tolong jangan tanyakan mengapa aku pulang, sebab kau tahu rumahku bukan denganmu.

Kau paham sedalam apa aku mencintaimu tapi tidak juga mampu memiliki hatimu. Jangan berkata aku menyerah, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana menjalani semua ini. Aku hanya ingin berhenti melihat kembali apa saja yang telah kulalui dan apasaja yang pernah perjuangkan selama in. Aku tidak menyerah, kamu lah yang membuatku kalah. Membuatku menyadari semua ini salah. Hingga akhirnya aku mengatakan cinta ini yang salah, namun pertemuan kita benar. Harusnya aku tidak pernah jatuh hati, tidak sedalam ini sebab aku tahu bagaimana hatimu saat ini.

Maka biarkan aku pulang pada rumah yang menginginkan ku datang, jangan panggil aku lagi sebab aku ingin mengobati apa-apa yang sudah kau patahkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya