Sama seperti hari-hari sebelumnya, aku duduk di taman ini. Tempat favoritnya, taman depan rumahnya yang begitu asri dengan pepohonan hijau. Tiba-tiba saja ingatanku kembali pada beberapa tahun silam. Mengingat seorang tuan yang sangat gagah mencuri perhatian. 

Ia sangat sempurna, seperti Tuhan sedang berbahagia saat menciptakannya.

Advertisement

Aku terus saja tersenyum saat memikirkan betapa bahagia aku bisa bersamanya. Betapa semesta begitu baik mempertemukanku dengannya. Air mataku jatuh tanpa kuduga. Sesak sekali rasanya. Kini aku hanya mampu mengingatnya. Tak bisa berbuat apa-apa.

Esoknya aku kembali datang, dan penjaga rumahnya mengatakan Sang Tuan belum kembali. Aku kecewa, terduduk lemah di atas rerumputan tak mampu menggapai kursi taman yang biasanya kugunakan untuk menunggu. Berhari-hari aku menungguna rasanya tak semenyakitkan ini. Aku menatap ke atas langit semesta sama sedihnya denganku. Seperti mengerti kekacauanku ia menjatuhkan airnya menerpa tubuhku. 

Aku tak mungkin salah memilih. Tuan adalah orang yang mencintaiku. Ada cinta yang sama besarnya sepertiku saat ku tatap matanya.  Mengapa cintaku seolah berakhir hari ini. Mengapa Aku merasa penantianku sia-sia. Sakit hatiku tak bisa kutahan lagi. Aku merindukannya hingga tak bisa mengendalikan diriku. 

Advertisement

Bayangannya menggema di ingatanku. Bayangan saat dia mengatakan pergi tak akan lama. Bayangan saat dia mengatakan akan segera kembali. Bayangan dia memelukku sangat erat.

Tangisaku pecah, kugenggam kalung liontin dengan inisial namanya. Merapalkan doa. Meminta dengan keras kepala kepada sang pencipta agar tuan kembali kepada rumahnya.

Esoknya aku datang lagi. Dengan suasana sedih yang begitu kentara. Aku berdiri di depan pagar putih rumah itu. Dengan harapan yang sama. Berharap Tuan membukakan pintu untukku. Menyambut kedatanganku. Aku menatap sekeliling ke rumah. Rumah ini begitu muram. Suasana rumahnya begitu sepi, tak ada lagi penjaga rumah. Gorden tertutup dan pintu pagar dikunci sangat rapat.

Sampai di titik ini aku menyadari, mustahil baginya untuk kembali.

Aku  tak lagi bisa menangis. hanya saja dadaku terasa sesak hingga membuatku sulit bernafas. Dosa apa hingga Tuhan menghukumku seperti ini. Dosa apa aku hingga Tuhan tak membuatnya kembali. Mengapa ia tega tak menepati janjinya kepadaku. 


Mengapa hanya aku yang bersedih

mengapa hanya aku yang menunggunya

Mengapa tak ada seorangpun yang mengirimiku kabarnya

Mengapa hanya aku yang menunggunya. 


Aku menjerit dalam batinku mempertanyakan banyak mengapa yang sama sekali tak kumengerti. 

Tuhan, kumohon sekali ini saja. kembalikan dia pada rumahnya, pada cintanya. 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya