Sudah lewat dari 2 bulan yang lalu, saat mataku sembab gara-gara air mata yang tidak berhenti menetes. Saat hati ku koyak porak poranda dalam kebimbanganmu menentukan langkah untuk tidak jadi menikahi ku.

Aku gagal menikah, aku gagal membangun mimpi yang sudah kita agung-agungkan bersama dulu. Setelah semua persiapan kita lakukan untuk menjelang hari yang sudah 3 tahun kita tunggu-tunggu itu. Kamu memutuskan untuk mundur, dan menghempaskan aku, menghancurkan semua mimpi-mimpiku untuk hidup berdampingan denganmu.

Advertisement

Kamu mundur, kamu memilih untuk tidak memampukan diri untuk bertahan dalam kondisi yang tidak berpihak pada kita. Padahal aku, perempuan yang ternyata kamu ragukan adalah perempuan yang paling berjuang mempertahankan ini semua.

Sore itu menjadi saksi, bahwa aku memang bukan tercipta untuk bersamamu

36 bulan, kita bersama dengan segenap daya dan upaya. Kita berdiri dalam keraguan lingkungan, kita bertahan dalam keegoisan diri masing-masing yang pada akhirnya itu banyak sekali menyakiti masing-masing.

Sampai ketika dimana kamu meminta aku untuk menjadi wanita sepanjang usiamu. Aku bahagia, dan tetap merasakan kebahagiaan itu sampai ketika kamu dengan lugas berkata pada sore itu, agar semua yang sudah kita rencanakan di undur. Entah sampai kapan.

Advertisement

Aku remuk, saat itu hatiku yang sekokoh pencakar langit tiba-tiba hancur menjadi butiran-butiran pasir. Semua rencana ku pikir sudah sebaik yang kita rencanakan. Tapi keraguanmu lah penyebab utama nya.

Pahamilah, aku memang bukan perempuan yang sempurna, tapi aku tetap memiliki naluri untuk membahagiakanmu. Dan keraguanmu kini menyakitiku, sangat dalam.

Kamu meninggalkan ku dalam tangis perih ini, berjalan membelakangiku tanpa berusaha menyeka air mata yang sudah terlanjur kamu teteskan. Dan pada tangis itu aku mengerti, aku bukanlah untukmu yang Tuhan ciptakan.

Aku bersedih, hariku tak lagi sama semenjak itu. Tapi perlakuanmu sore itu membuat aku lebih mudah melupakanmu.

Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menghargai seorang wanita, dan apa yang sudah kamu lakukan saat itu bukanlah perlakuan yang pantas kamu lakukan padaku. Aku memang bersedih, tetapi langkahku tetap tegar, wajahku tidak bermuram sepanjang waktu, dan harus kamu tau, tangisku sudah tidak terdengar lagi setelah itu.

Aku berusaha melangkah seringan-ringannya, aku masih terluka dan lukanya pun masih merah, berdarah dan basah. Tapi aku tau, jika luka ini ku rawat tentu akan sembuh tapi memakan waktu. Jadi kuputuskan untuk tetap berjalan dengan luka ini, berusaha mengabaikannya walaupun sewaktu-waktu sakit terasa.

Aku tidak dendam dengan apa yang sudah kamu lakukan, aku tau setiap manusia berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Dan kamu sudah menentukan bahwa aku tidak ada dalam masa depanmu. It doesn’t matter. Aku juga sudah menentukan pilihan, agar segera bangkit dan tidak memupuk trauma terlalu dalam.

Aku bukan perempuan yang kamu butuhkan, dan kamu bukan laki-laki yang bisa mengerti aku. Impas.

Kini aku berjuang, melawan rasa takut untuk membebaskan diri dari trauma. Kegagalan ini melemahkanku

Rasakan, rasakan hangatnya mentari kala dirimu seorang diri. Tidak perlu aku disana, toh kamu lebih mandiri dari aku yang dulu ternyata terlalu bergantung padamu.

Tapi kamu harus tau, ketika aku ikhlas untuk mengubur semua ini, justru aku kembali menemukan diriku yang mandiri dan tidak bergantung pada siapa-siapa. Dan ternyata, perempuan yang tadinya mandiri namun kerap bergantung padamu ini lah yang membuat kamu terlihat seperti pahlawan yang selalu bisa diandalkan. Tanpa perempuan lemah ini, kamu tidak sehebat yang dilihat orang.

Aku sekarang berjalan, perlahan namun pasti. Tidak berdiam diri di tempat dan tidak focus menyembuhkan luka ini. Luka ini tanpa harus aku rawat dia akan sembuh dengan sendirinya. Aku hanya perlu sedikit bermain, sesuatu yang tidak bisa kulakukan bersamamu.

Kegagalan pernikahan bukanlah sebuah momok yang harus selalu aku hindari tentang segala pembicaraan yang berkaitan dengannya. Itu adalah satu fase yang memang harus aku jalani. Tidak ada yang harus aku pikirkan, tidak pula harus ada yang aku sesalkan.

Yang aku perlukan sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa membebaskan diri dari ketakutan dalam menjalin sebuah hubungan lagi dengan orang yang berbeda. Aku percaya, setiap orang memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Aku hanya harus cukup jeli untuk melihat siapa sebenarnya orang yang bisa membuat aku berbahagia.

Sujud syukurku pada-Mu, Tuhan. Tidak perlu waktu yang lama, dia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya malah orang yang bisa mengembangkan senyumku setiap harinya.

Hai Mantan,

Jika kamu tau keadaanku setelah kamu tinggalkan, kamu pasti akan murka.

Perempuan yang sudah kamu tinggalkan di pinggir jalan bersimbah air mata karena gagal kau nikahi itu kini sudah bisa tersenyum gembira setiap harinya. Justru kamu disana malah sedang berbalut rasa sesal yang tiada berguna. Aku tidak akan bisa mengembangkan senyum ini sendirian, ada dia, yang bisa berjuang untukku demi membahagiakanku.

Aku dalam keadaan sangat baik, banyak yang berkata aku semakin cantik dan semakin ceria.

Tidak ada aturan sana sini yang harus ku patuhi agar tidak kamu marahi. Aku kembali menjadi diriku, yang tidak membatasi diri dalam berteman. Dan spesialnya lagi, dia yang kini mengisi hari-hariku memberiku kebebasan yang sama untuk mengekspresikan diri. Ini yang aku butuhkan. Aku tetap merasa menjadi diriku, dan aku tetap dicintai.

Sesekali aku memang sering masih memikirkan kamu, apalagi foto dan barang-barang peninggalanmu masih ada diseantero rumah. Ketika ku temukan salah satu, pasti aku kembali teringat padamu.

Tapi tidak perlu berbangga diri, aku hanya mengingatmu, dan tidak ada sisa-sisa cinta yang tersisa, puing-puingnya saja sudah ku sapu habis dari dalam hatiku. Aku gadismu yang terluka, aku gadismu yang kau gores dengan sembilu, dan aku yang tidak berniat ingin menambah luka lagi jika aku kembali bersamamu. Ini sudah lebih dari cukup.

Mau kah kamu tau siapa dia orang baik yang kini menetramkan aku setiap harinya?

Aku katakan pun kamu tidak pernah tau siapa dia. Dia adalah orang yang tidak terduga yang menyelamatkan aku dari serpihan-serpihan kaca yang kau serakkan. Tuhan teramat baik padaku, membawanya padaku disaat aku sedang membutuhkan sandaran. Aku tidak main-main dengannya, dia bahkan bisa mengambil hati orang tuaku, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan.

Dan aku juga berterima kasih padamu, perlakuanmu padaku sore itu membuat aku tau, siapa sesungguhnya dirimu.

Ikhlaskan! Rasa sesal tak harus kau pelihara. Kamu hanya harus belajar memaafkan dirimu dari semua kesalahan yang pernah kamu perbuat. Padaku…

Aku cukup tau kamu. Kita sempat beberapa kali berpisah.

Namun dengan caramu, aku bisa lagi kau menangkan. Kesalahan-kesalahanmu dulu tentu dengan mudah bisa aku maafkan. Namun kegagalan pernikahan ini bukanlah sesuatu yang hal yang main-main. Satu bulan setelah kamu membatalkan semuanya, lalu kamu kembali padaku dan pada akhirnya yakin untuk melangkah (lagi) untuk menua bersamaku. Oh ayolah, lelucon macam apa ini!

Aku tau, sekarang kamu sedang mengutuk dirimu sendiri tentang kecerobohanmu yang mengakibatkan tragedi ini. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Langkah kita masih panjang. Kamu bisa temukan perempuan yang sesuai dengan yang kau ingini.

Rasa sesalmu harus kau buang jauh-jauh. Ringankan langkahmu, bebaskan pikiranmu. Berubahlah menjadi lebih baik. Ada wanita yang menunggumu diluar sana. Dan yang perlu kamu lakukan adalah terima dia apa adanya.

Sehat-sehat ya, Mas…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya