Sexual Harassment, Mengapa Selalu Korban Yang Disalahkan?

Banyak dari para ahli mengatakan bahwasannya korban pelecehan seksual sebagian besarnya adalah wanita, mengapa? Karena wanita sering kali dianggap sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang lemah dari zaman nenek moyang.

Banyak dari kita tidak mengetahui apa makna sebenarnya dari sexual harassment atau yang biasa disebut dengan pelecehan seksual. Pelecehan seksual adalah segala bentuk perilaku yang memiliki konotasi seksual, dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran (Collier, 1992). Collier juga mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul “Pelecehan Seksual” bahwa pelecehan seksual terhadap wanita terbagi dalam dua bagian, yaitu adanya hubungan seksual dan tidak adanya hubungan seksual.

Banyak dari para ahli mengatakan bahwasannya korban pelecehan seksual sebagian besarnya adalah wanita, mengapa? Karena wanita sering kali dianggap sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang lemah dari zaman nenek moyang. Konotasi “makhluk ciptaan Tuhan yang lemah” membuat sebagian pria memiliki pikiran bahwa levelnya lebih superior dari wanita. Hal ini yang membuat sebagian pria kurang menghargai wanita.

 

Korban pelecehan seksual ini, sering kali tutup mulut atas pelecehan yang menimpanya karena beberapa hal buruk yang akan dihadapi kedepannya, entah itu masalah konsekuensi sosial berhubungan dengan harga diri, takut jika pelaku berbuat lebih keji, maupun takut jika orang lain tidak percaya atas perlakuan buruk yang didapatnya dan justru korban dipermalukan. Selain hal-hal tersebut, banyak dari masyarakat yang masih memiliki pemikiran bahwa wanita yang menjadi korban pelecehan tersebut menggunakan pakaian minim yang mengundang nafsu kaum pria, maka dari itu, kaum pria yang notabenenya memiliki nafsu yang tinggi terhadap kecantikan wanita merasa tergoda dan ingin memiliki wanita tersebut seutuhnya.

 

Pemikiran-pemikiran yang seperti itulah yang harus dibinasakan dari muka bumi. Karena sebagai korban pelecehan seksual, mereka telah menghadapi kekerasan, baik kekerasan fisik ataupun mental. Kekerasan terhadap mental seseorang sangatlah sulit untuk dipulihkan dengan itu, korban pelecehan seksual harus mendapatkan dukungan yang kuat dari berbagai aspek, terutama pada aspek psikologinya yang telah terguncang hebat.

 

Sebuah pameran di Brussel, Belgia membawakan konsep unik yang dapat menjadikan tamparan kepada sebagian masyarakat yang memiliki pemikiran “pelecehan seksual akibat pakian wanita”.

Pada pameran ini mengusung tema “Apakah Ini Salahku?”. Tema tersebut didefinisikan banyak korban pelecehan seksual yang kehilangan harga diri dan percaya diri sehingga para korban menyalahkan diri sendiri karena telah menjadi korban. Miris ketika melihat pakaian-pakaian terakhir yang digunakan para korban ketika mendapatkan pelecehan seksual terutama pada kasus pemerkosaan. Sangat menyayat hati, terdapat pakaian anak dengan model terusan berwarna pink terpajang nyata pada salah satu koleksi pameran tersebut. Bagaimana tega seseorang melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak. Terpajang juga beberapa setel pakaian yang pantas digunakan.

 

Para korban harus memberikan gebrakan tindakan pada kasus pelecehan seksual yang menimpanya. Kuncinya adalah speak up, beranikan diri untuk mengungkapkan semua fakta kepada pihak berwajib agar kasus-kasus pelecehan seksual tersebut dapat ditangani dan membuat pelaku jera atas tindakannya sehingga dapat menurunkan angka pelecehan seksual. Pria maupun wanita yang menjadi pelaku pelecehan seksual seharusnya menyadari bahwa hal yang dilakukannya tak sesuai dengan norma-norma yang berkembang pada masyarakat. Sehingga kita semua sebagai manusia haruslah menghargai setiap manusia lain yang ada di Bumi, jangan biarkan nafsu merusak hati nurani kita yang murni.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini