Dear bos,

Telah lama kusimpan ini, tapi kurasa, kuperlu berbagi denganmu. Kuingin mengucapkan banyak terima kasih atas kesempatan yang kau berikan. Engkau mau menerimaku di kantor kecilmu. Aku yang baru lulus, tanpa pengalaman dan pengetahuan akan dunia kerja. Tapi…

Advertisement

Tidak perlu juga kau memakiku setiap hari, dari minggu pertamaku hingga sekarang. Ku tak pernah mau dengan sengaja berbuat kesalahan. Tetapi apa daya kalau setiap kerjaanku adalah salah dimatamu. Ya aku salah. Aku menurut disetiap perintahmu karena aku takut. Aku yang dulu selalu kau marahi karena sok ngide akan rencanamu. Kini aku yang menurutpun kau maki-maki, dan marahi.


Tanpa kau tahu, setiap hari-hari ku disana bagaikan di neraka. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, bertemu orang baru pun kutakut. Takut mereka kan memaki dan memarahiku seperti kamu padaku.


Setiap hari setelah pulang kerja, ku harus mengunci diri di kamar kos, menangis sendiri. Kuingin pergi dari sini, ku ingin pulang, kurindu rumah, kurindu keakraban dengan keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Tapi apa daya, laut yang menghalangi dan rasa tanggung jawabku pada kontrak kerja memaksaku untuk bertahan.

Advertisement


Tak pernah aku merasa se-bodoh ini, se-useless ini. Terima kasih sudah mengingatkanku betapa tidak berharganya aku. Terima kasih sudah menuntunku menuju ke titik terendah dalam hidup.


8 bulan ku bertahan dengan cacian dan amukanmu, setiap hari menulikan telinga, menebalkan dinding hati, dan hanya menangis di kamar kos. Ku tak kuat. Dengan berat hati harus ku katakan “aku minta keluar” walaupun tidak ada jaminan aku kan mendapatkan perkejaan lain lagi di tanah rantau ini, tapi ku ikhlas. Demi ketenangan jiwa dan hati yang sudah lemah ini.

Biarlah Tuhan yang membalas semua kebaikanmu selama ini, karena aku hanya bisa mendoakan kesuksesan dan kesehatan untukmu. Sayonara~

Tulisan ini diangkat dari pengalaman pribadi, yang sudah muak dengan tingkah atasan yang semaunya sendiri :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya