Awa

Halo, Mbak Pelakor!

Kalau kamu tidak paham dalam Bahasa Indonesia gaul, pelakor itu singkatan dari pencuri laki-laki orang. Enggak usah sewot kalau kutulis begitu. Ketika menulis surat ini, aku sudah tidak lagi menyimpan amarah padamu. Tidak seperti beberapa bulan lalu, mbak, ketika aku telepon kamu marah-marah karena keberadaanmu itu merusak segala rencana yang sudah kutulis rapi bersama si mas.

Advertisement

Aku yang akan pergi jauh untuk sekolah telah merencanakan dengannya untuk bertemu di bulan Desember dengan bahagia dan melanjutkan persiapan kami untuk berakad. Ngerti akad kan? Akad itu sumpah suci dalam agama kami, mbak, maklum sih kalau situ nggak ngerti.


Dan, semua itu tinggal cerita. Sekarang, aku cuma bisa pasrah melihat kamu menghancurkan segalanya.


Kembali ke ketika menulis surat ini, aku sedang dalam perjalanan di ketinggian 45.000 kaki di atas permukaan laut. Di dalam ruangan baja yang dilengkapi berbagai fasilitas ini kok kebetulan aku menemukan film dimana kamu ikut bermain di dalamnya. Ya owoh, mbak, kowe iki gek ngopo? Sumpah. Sudah ini film nggak jelas ceritanya, eh, situ itu juga perannya nggak jelas. Namamu di situ ya namamu sendiri, perannya ya kehidupanmu sendiri, ya sama di film itu kamu juga jadi pelakor. Emang udah jadi kebiasaan ya mbak?

Advertisement

Secara keseluruhan, kamu bisa main film itu cuma karena kamu bule. Ya sama sih, kamu juga bisa dapat kerjaan di Indonesia sebagai pengajar cuma gara-gara bule. Kamu ngajar juga ngajar bahasamu sendiri. Lagian, apa gunanya anak Indonesia belajar bahasamu? Pengguna Bahasa Indonesia lebih banyak tau nggak! Bukannya aku rasis atau apa, tapi kamu yang jangan sok-sokan mentang bule bisa seenak jidat cari makan dan hidup di negara orang eh pake ngerebut calon suami orang lagi.

Telinga aku nggak tuli dan masih bisa ngerekam jelas apa yang kamu bicarakan sama aku lewat telepon. “Saya nggak bersalah karena saya nggak tahu apa-apa, saya tinggal jauh dari rumah. Saya tidak perlu minta izin dulu atau cari tahu dulu kalau mau ke rumah orang, saya biasa bebas.” Heh, mbak! Aku juga pernah tinggal di negara orang, Eropa juga, dan jauh lebih terdepan dari pada negara asalmu yang tahun ini nggak lolos piala dunia itu. Enggak usah sok-sokan jadi orang asing yang bisa diampun setiap ketololannya deh.

Lagi pula, aku heran kok bisa-bisanya pelakor macam kamu ini menjadi pengajar di universitas berbasis ukuwah Islamiyah. Mau jadi apa gitu mahasiswanya?


Ah sudah lah, aku tahu di negaramu persaingan untuk mendapatkan kerja memang berat. Mungkin karena itu kamu harus menjadi penjajah di negaraku yang gemah ripah loh jinawi ini. Dan untuk itu kamu harus mengencani lelaki lokal supaya kamu nggak dideportasi karena pakai visa turis padahal kerja kan?


Mbak, aku tahu kemarin kamu bilang, kamu nggak ingin berurusan lagi sama si mas, tapi hati orang siapa yang tahu sih. Silahkan sekarang menikmati apa yang sudah aku bangun dan perjuangkan selama bertahun-tahun. Asal kamu tahu saja mbak, jadi perempuan Indonesia itu nggak gampang. Semoga kamu bisa tiap hari harus tetap ramah-ramah sama tetangga padahal hati lagi suntuk.

Jangan lupa juga kalau kamu harus datang ke hajat tetanggamu malah kalau bisa ikutan membantu meski nggak kenal-kenal banget. Aku harap kamu tetap tabah ketika semua anggota keluarga datang memenuhi rumahmu dan mulai mencampuri urusan pribadimu. Enggak usah bete juga kalau segala urusan keluarga besar lelakimu (yang dulu calonku itu) menjadi pikirannya dan akhirnya jadi pikiranmu juga.

That’s how Indonesian life! Satu lagi yang paling mendasar, seterbukanya lelaki Indonesia dalam pandanganmu, dia tetap ingin istri yang macak, masak, manak. Seperti apa itu? Coba kamu cari tahu sendiri ya! Intinya, kalau kamu punya cita-cita setinggi langit coba dibuang dulu deh dari pada sakit hati nanti di belakang.

Kurasa segini dulu ya suratku. Semoga kamu nggak cepat-cepat kena karmanya.

Salam sleding tekel!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya