Dua tahun yang lalu.

Kulengkapi diri dengan cintanya, padaku.

Advertisement

Awalnya, kau menghidangkan cinta dengan paket yang sangat besar. Cintamu berwarna-warni. Sedang aku, tak berusaha menyantap cinta warna-warni yang dihidangkanmu kala itu. Cinta yang kusajikan padamu, hanya hitam-putih dilengkapi dengan samar-samarnya. Sejatinya, cintaku memang hitam putih padamu. Bentuk cintamu juga beraneka ragam. Segitiga, persegi panjang dan sebagainya, yang memilki ruang cukup besar untuk menyimpan cintamu. Sedang aku, cinta hitam-putih milikku itu tak berbentuk, maksudku hanya datar, seumpama sebuah garis lurus yang panjang. Garis lurus panjang milikku itu bahkan tak punya ruang untuk kusimpan cinta hitam-putih milikku.

Di bawah sinar rembulan, kita berteduh. Kita duduk sebangku, merenggangkan jarak sembari bercakap. Bulan yang dikelilingi awan, yang tak menggelapkannya. Bulan yang membenamkan dirinya pada langit. Langit tertusuk cahaya bulan, tanpa pernah kesakitan. Langit menikmati tusukan cahaya bulan yang menghapuskan kegelapan pada bumi yang terpayungi oleh langit. Sungguhkah bulan menampakkan cahayanya?

Aku ingat, kala itu kau memejamkan mata setelah mengatakan itu. Aku kebingungan, mendapati diri yang sulit menafsir apa yang tengah kau utarakan kala itu. Aku terus menatapmu yang tengah memejamkan mata. Seketika, hangatnya sebuah tangan membelai jemariku. Aku terkejut dan menatap pemilik hangatnya tangan itu. Tersenyum, ya saat itu kau tersenyum. Gigimu yang rapi, membentuk wajah indahmu menjadi semakin bercahaya. Ternyata hangatnya tanganmu, membuatku perlahan-lahan mengerti. Sekarang, aku paham. Tanpa perlu lagi kau menjelaskannya. Maksudmu, cintamu padaku telah tertanam begitu dalam, hingga kau dan aku menjadi satu, sedemikian jadinya. Tunggu, apakah ini sebuah lamaran? Tanpa terjawab, kau hanya tersenyum. Aku menantikan jawaban. Sejatinya, telah kusiapkan diri untuk menua bersamamu serta menghabiskan hidupku denganmu. Telah kupantaskan diri, dengan cinta hitam-putih yang sejatinya telah perlahan-lahan berwarna seperti cintamu padaku, tanpa pernah kutunjukkan padamu.

Advertisement

Setahun kemudian…

Kunantikan jawaban itu, hingga 365 hari. Setahun sudah, kunantikan jawaban atas pertanyaanku kelak setahun yang lalu. Kau telah lupa akan janjimu. Selama setahun ini, kau menjadi sibuk. Sangat sibuk, untuk mengejar materi. Sedang aku, menantikan kabarmu tanpa pernah berhenti. Beberapa kali, harus kubiasakan diri memanggilmu via ponsel, menunggu kabar dari pesan singkatmu. Ternyata selama setahun ini, cintaku padamu sudah berubah semakin berwarna, bahkan berwarna-warni. Sama seperti cintamu padaku, setahun yang lalu. Bentuk cintaku yang semula hanya berupa garis lurus panjang, sekarang masih sama. Tanpa ada jeda pada setiap ruang di dalam garis lurus yang panjang itu. Semuanya, sesak akan cintaku padamu.

Sungguh, aku tahu bahwa cintamu telah berubah menjadi hitam-putih padaku, sekarang. Bodohnya, kulupakan apa yang kuketahui, dan menyertakan cintaku yang berubah ini padamu. Kuijinkan kau menjaraki hubungan kita. Sedang aku, semakin menjadi-jadi kuluapkan cinta yang telah berubah setahun belakangan ini. Kau mengasingkan diri dariku, kala kita bertemu. Kau bahkan beberapa kali membatalkan janji yang telah kau buat. Semuanya, berbeda. Ya, setahun ini kau menjadi berbeda. Aku menemukannya di persimpangan jalanan, tepat di sebuah jembatan yang melayang di sebuah lautan. Kau menatap lurus ke lautan, dengan seorang gadis berparas menawan nan bertubuh aduhai. Aku tahu persis kau mengetahui keberadaanku, tapi kau enggan menoleh bahkan menatapku. Sedang aku, tak berusaha memperkeruh suasanamu dengannya.

Kami duduk semeja pada pekan kemarin. Pekan yang mengisahkan bentuk dan hidangan cinta kita masing-masing. Aku ingat pekan itu, kau datang mengenakan kemeja biru bergaris lurus putih. Seumpama hamparan laut terlukis di depan wajahku, maksudku misterius. Wajahmu tak lagi melukiskan senyuman dari bibirmu, matamu tak lagi menatapku, dan cintamu bukan lagi hitam-putih tapi tak berwarna sekalipun, tak terdefenisikan. Bentuk cintamu juga sekarang, tak lagi berbentuk. Sama, tak terdefenisikan juga.

Aku memulai percakapan, tanpa adanya respon. Sedang kau hanya menundukan wajahmu. Ada apa ini? tanyaku berkali-kali di hadapanmu. Berkali-kali aku mendominasi percakapan yang kumulai, dan akhirnya kuakhiri sendiri pula. Kau hanya mengambil secarik kertas yang dibalut plastik berwarna ungu, sambil meletakkannya di depanku. Aku tak bertanya, sekali lagi tak ada pertanyaan. Memang, ratusan bahkan ribuan pertanyaan yang selama ini mengembara mencari persinggahan selama setahun ini terjawab dengan secarik kertas berisi undangan pernikahan namamu dengan nama orang lain. Padahal, setahun yang lalu kau bermimpi bahwa namaku dan namamu berada dalam satu kertas untuk pengaktaan cinta kita. Omong kosong apa ini? Tanyaku berkali-kali lagi padamu. Tak terjawab, hanya kepalamu yang tertunduk di hadapanku. Apa kau tahu, pertahananku seketika menjadi runtuh. Tembok-tembok yang menghalangi cinta berwarnaku dulu yang telah kuruntuhkan dengan mudahnya, seketika naik menjulang nyata seiring kutatapi kertas yang berbaring di meja, di depanku saat itu.

Aku pergi. Hangat tanganmu yang masih sama, memegang jemariku menahan langkahku. Aku melepaskan hangatnya tangan itu, yang seketika menjadi dingin tak terasa ketika menyentuh tanganku. Pemilik tangan yang entah bagaimana bisa, punya cinta yang lenyap seketika. Sirna sudah, bulan yang dikelilingi awan yang tak menggelapkannya. Bulan yang membenamkan dirinya pada langit. Langit tertusuk cahaya bulan, tanpa pernah kesakitan. Langit menikmati tusukan cahaya bulan yang menghapuskan kegelapan pada bumi yang terpayungi oleh langit, katamu waktu itu. Nyatanya, bukan aku langit bahkan bulan yang kau tuju.

Aku ingat, di depan tempat itu kau menangis sejadi-jadinya dan beberapa kali berusaha menarikku dalam pelukmu. Sekian kali kau berusaha melakukannya, sekian kali itu pula aku berusaha menolaknya. Guna apa sebuah pelukan yang berakhir dengan pengkhianatan? Tanpa pernah kau jelaskan. Aku berbangga hati, melihatmu sebentar lagi menjadi kepala keluarga dengan segudang tanggung jawab yang akan kau nikmati, dan dengan berjiwa besar kau sendiri pula yang mengantarkan undangan masa depanmu bersama orang lain padaku. Pikirmu, aku ini apa? Hatiku, tak setegar dulu. Cintaku dan bentuknya juga, tak seperti dulu. Semuanya berubah, menjadi meluap-luap padamu.

Bagaimana dengan kau? Kau hancurkan segalanya, tanpa membekas. Semua yang menempel berupa cinta yang kuhidangkan dan bentuk cinta yang kusajikan bahkan ukuran cinta yang kurasakan padamu, semuanya lenyap seketika. Tangisan pun, kala itu tak terlihat di wajahku. Kau dengan mudahnya berbalik, sedang aku dengan mudahnya merasa hancur dengan sikapmu yang akan menghabiskan hidupmu dengan orang lain secepat ini, di tengah perjalanan cinta kita yang kurasa masih baik-baik saja. Berapa kali harus kupertahankan? Tangisanmu yang menjadi-jadi pun tak berguna. Tak mengubah apapun. Bahkan tangisanmu sekarang akan menjadi senyuman lebar, di altar menantikan mempelai wanitamu berjalan perlahan menuju altar enam hari lagi. Bilakah kau menangis, menambah kepedulianku? Seketika lenyap kepedulianku terhadapmu, menyadari apa yang kau lakukan padaku. Sungguh, aku sudah sangat tak peduli lagi.

Setelah kejadian itu, aku sekarang menjadi lebih hati-hati perkara cinta. Inginku, pada orang yang tepat, tanpa membuatku kesakitan untuk kesekian kalinya. Aku tahu, kau bersamanya karna sebuah kesalahan, begitu ungkapanmu kala aku pergi dari pekan itu. tapi sekarang, jangan kau hubungi aku lagi. cintailah dirinya, seperti dulu kau mencintaiku. Setidaknya, dialah rumah yang kau tuju.

Tenanglah, sekarang aku baik-baik saja. Tapi kumohon, jangan hadir lagi di hidupku. Lebih nyaman dan teramat baik, jika kita hanya menjadi orang asing. Terakhir, persinggahanmu itu merupakan pilihanmu. Jangan kau sakiti dia, setidaknya dialah tulang rusukmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya