"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Hai, kamu yang sedang dilanda nyinyiran kejombloan dan segudang perasaan di hati. Sejatinya kamu tak pernah jomblo, hanya saja LDR dengan dia di masa depan kok. Tidak usah gusar atas beribu pertanyaan di hati dan pikiran. Karena, itu hanya alat untuk mengujimu. Kelak jika kau yakin atas pilihan untuk memperbaiki diri, ‘dia’ akan datang dalam penantian LDRmu. Mungkin sedikit kisah ini bisa menjawab tanya di benak dan menangkis segala hamburan pikiran di kepala.

Beribu-ribu kalimat berseliweran di dalam kepala dan ribuan menit pun telah berjalan sedemikian jauhnya. Betapapun aku memaksa untuk selalu menikam hati, ia sejatinya tetap sebuah hati. Tak mudah dibentuk, tak bisa dipaksa dan mudah berubah-ubah. Pada perjalanan kali ini aku bawa semua yang telah kita rasakan. Debar-debar, rasa cemas dan segala imaji. Itu punyaku, entah dirimu.

Ada seseorang berkata bahwa:


“jangan pernah menyerah tentang apa yang kamu perjuangkan. Jika kau berhenti disini betapa sia-sianya itu”.


Advertisement

Hai, seseorang, bukankah persoalan tentang rasa tidak hanya satu orang yang memperjuangkan? Bilamana dua adalah pilihan yang terbaik mengapa satu, bukan?


Mereka bilang lagi “berdua itu lebih baik dari pada satu”


Siapa yang tidak setuju pada ungkapan itu? Mengerjakan kebaikan bersama, mengatasi permasalahan berdua dan saling berbagi kebahagian kepada yang lain. Benar bukan?. Tapi, sayangnya pada cerita kita satu adalah pilihan terbaik yang harus dilalui sekarang. Untukmu dan aku sendiri.

Lalu, siapa sangka LDR hanya mengenai jarak antar bumi saja jika ‘ia’ dapat berarti ruang terpisah antara dua manusia yang memiliki rasa. Mereka bilang kalau LDR (jarak) sangat sulit bla bla bla. Lantas, apa jadinya kita yang menunggu dalam jarak dan waktu? Mungkin memang tidak ada yang menjamin ‘keselamatan’ kisah sepasang hati jika memilih jalan ini. Pilihan ini cukup pelik dan penuh rasa duga-menduga. Belum lagi, dituntut untuk lebih logis dan peka adalah suatu keharusan. Tak apa, aku yakin kita bisa.

Serat-serat pikiran mulai terjuntai pelan hingga aku urai hati-hati ketika memulai jalan ini. aku memang masih merindukan seorang ayah yang setiap hari membesarkan dan mengusahakan pendidikanku. Menanyakan kabar anak gadisnya sudah makan ataupun tidur terlalu larut. Mungkin begitupun kamu, masih menikmati hangatnya pelukan ibumu. Kita, sama-sama masih ingin merasakan kebersamaan dengan orang-orang sedarah. Bukankah tega jika aku menarikmu dari mereka? aku pun perlu berlatih bagaimana menjadi perempuan seharusnya, begitupun kamu menjadi laki-laki yang sebenarnya. Jika ditanya bagaimana hatiku?

Jawabannya sudah jelas, akan kusambut dengan bibir terkatup dan senyum di dada yang meletup-letup. Jangan tanya bagaimana rasanya, aku terlalu malu untuk membicarakannya dalam udara.

Oleh karena itu, untukmu yang jauh dalam ungkapan dan tangan. Aku selalu menghaturkan pinta yang tak berkesudahan sampai waktunya tiba. Dan aku harap kamu pun memperjuangkan apa yang harus kita perjuangkan dalam hal memantaskan diri ini.

Hm, gimana rasanya kalau kamu sedang mengalami cerita seperti di atas? Kebayang atau nggak? Nah berikut mungkin beberapa poin yang bisa diambil dari cerita di atas:

1. Kunci utama dan pertama adalah keyakinan kalian berdua kepada Tuhan

Setiap inchi hidup manusia pasti mempunyai hubungan dengan Tuhannya entah mulai dari urusan hati sampai dengan mati. Karena, Dia adalah pengatur segalanya jadi, ada baiknya jika kalian berdua sama-sama yakin telah memilih cerita LDR versi memantaskan diri. Yakin atas niat memperbaiki diri serta lebih taat kepada-Nya adalah kunci untuk membangun kisah yang lebih hakiki.

2. Sebab jauh dan jarang ada kabar, kamu dan dia dituntut harus saling mengelola perasaan

Jelas jarak akan selalu menjadi kendala yang tak habisnya dalam perjalanan 'LDR' ini. Belum lagi kabar yang sangat jarang kamu dengar dari dia yang selalu ada di benakmu. Kamu akan dikejar-kejar pikiran was-was, galau, cemburu buta dan seabrek hal-hal buruk. Namun, dengan terbiasa jauh dan minimnya komunikasi dengannya kamu menjadi lebih bisa mengelola emosi diri. Begitupun dia yang akan membuktikan dirinya siapa. Dengan begitu, kamu dan dia akan jadi pasangan yang pas.

3. Kamu bisa jadi pribadi yang mendiri dan matang

Banyak hal yang bisa kamu lakukan demi menjadi pasangan yang ideal untuknya sembari menunggu sampai waktunya tiba. Kamu bisa lebih fokus pada passion, potensi diri, dan karir. Bukankah kamu ingin menjadi calon ayah atau ibu yang ideal untuk mendidirk anak-anakmu dan membina keluarga yang sehat? Jika jawabannya, ya. Maka selamat, sebentar lagi kamu akan ‘matang’ dalam tempaan LDR versi memantaskan diri.

4. Jarak bisa mengajarimu untuk tidak terlalu banyak baper. Karena perjuanganmu mengajarkan untuk tetap stay in control

Duh, dia hari ini enggak hubungin aku nih.. biasanya pagi-pagi udah nongol di chat

Mana nih, dia lama banget responnya, biasanya langsung di read tuh..

Hm, kamu udah gak perlu melontarkan ungkapan-ungkapan tersebut kalau memang sudah tau rasanya LDR yang sebenarnya. Kamu akan memahami bagaimana keadaan dia yang memang sedang jauh darimu. Jauh dalam jarak dan waktu yang memang belum saatnya berbincang hangat. Terbiasa berbincang dengan rekan baru yang kamu temukan, berbagi cerita tanpa ada dia membuatmu tidak sempat memikirkan kebaperan layaknya orang lain. Kamu sudah sangat terbiasa dengan guncangan pikiran yang melanda, hingga kamu menjadi pribadi yang stay in control.

Memilih sendiri atau tidak itu bukan persoalan mutlak benar salahnya. Sebenarnya itu adalah persepsi masing-masing dari kita untuk memilih kebahagiaan. Namun, kebahagian yang hakiki hanya bisa dicapai dengan perjuangan yang asal dan tidak main-main. Sejalan dengan dewasanya dirimu, kamu tahu mana yang harus kamu pilih untuk kehidupanmu kelak.

Tentunya masalah hati, ia akan tetap sebuah hati yang tak layak disakiti bahkan oleh dirimu sendiri karena keteledoranmu memilih jalan. Hatimu pantas mendapat sebuah apresiasi lebih. Karena ‘kerjanya’ selama ini. LDR bukan hanya mengenai dua potong hati yang terpisah jarak namun juga dua hati yang terpaksa berpisah untuk bersatu di masa depan. Ia akan lebih mengarkamu bagaimana menjaga hati untuk seseorang yang menjaga hatinya untukmu. Terkesan cukup langka dan sok yakin untuk suatu hubungan hati.

Ada seseorang lagi berkata bahwa :


“Cerita bahagia yang sebenarnya tidak diawali dengan hal-hal biasa, mungkin akan ada sedikit kejutan dari-Nya agar lebih istimewa”.


Jadi, siapa yang sudah siap LDR versi #MemantaskanDiri? Siapapun dan apapun kamu, kamu layak mendapatkan pasangan yang terbaik. Oleh karena itu, persiapakan dirimu dalam ajang menjadi pasangan terbaik untuk pendampingmu kelak. Selamat berjuang ya !