Bersamamu mungkin tak pernah kubayangkan sebelumnya. Mengenalmu hanya karena sebuah kebetulan. Dan melewati hari hariku bersamamu adalah sebuah kefanaan yang sangat kunikmati. Hingga semua itu hanyalah sebuah kebahagiaan yang semu.

Aku terlena dengan rasa yang kamu hadirkan untukku. Rasa yang awalnya akupun tak mengharap. Segala perhatian dan rasa kasih untukmu mengalir bagai bejana waktu. Hingga aku pun tak bisa membedakan  mana  perhatian seorang teman, mana yang bukan.

Advertisement

Seandainya aku tahu perasaanmu hanyalah sebuah rasa lelucon yang kamu tawarkan untukku, tak mungkin aku akan merasakan sakit yang seperti sekarang. Aku terlalu menaruh harapan yang tinggi, hingga lupa kalau rasa itu bisamenguap kapan saja.

Ketika aku tahu rasa itu hanyalah sebuah ilusi, ketika aku tau dari mulut manismu jika kau tak pernah benar-benar mengganggapku ada, perhatian dan segala bentuk yang aku kira adalah sebuah rasa kasihmu, ternyata hanyalah bualan. Bukan, bukan aku menyalahkanmu, tapi mungkin diriku yang tak pandai membaca sinyal pertemananmu.

Mungkin aku terlalu dini mengganggap perasaanmu adalah sebuah rasa ingin memiliki. Tapi rupanya aku salah besar, aku jatuh dalam pengharapanku sendiri. Sungguh, rasa sakit yang tak pernah kuharapkan sebelumnya. Mungkin benar, jika kita berharap lebih kepada manusia, maka yang ada hanyalah sebuah rasa kecewa.

Advertisement

Untukmu, yang hanya menganggapku sebagai seorang teman, semoga kamu bahagia dan bisa menemukan seseorang yang porsinya cukup untuk kau jadikan pasangan. Tenang, jangan pedulikan aku. Aku hanya perlu terbiasa. Terbiasa untuk tidak lagi mengharap perhatianmu. Biarkan aku melangkah sendiri untuk mencari bahagiaku yang sesungguhnya. Meski aku harus terseok dan tersandung, percayalah aku sekuat yang kamu katakan saat terakhir kali kita bertemu. Ya, lebih tepatnya saat kata-kata penolakan itu menghujam titik terberat di jantungku. Tak apa. Toh, nyatanya aku selalu bisa melewati semuanya.

Hey! Tetaplah menjadi kamu yang kuat. Cerialah, seperti hari-hari yang biasa kita lewati bersama. Maaf karena aku terlalu menyayangimu. Sekarang, yang harus aku lakukan adalah membiasakan diri tanpa kehadiranmu lagi. Aku hanya perlu belajar lebih dalam, apa arti ikhlas yang sebenarnya. Sekarang aku bisa lega. Bisa kulihat binar matamu yang sesungguhnya; terang dan tak ada tatapan kegaru-raguan.

Terima kasih telah menjadi memori indah. Meski sesekali hatiku sedikit rapuh dan tak sanggup merekah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya