Bunyi pesan singkat dari handphone memecah lamunanku. Kubuka dari seorang teman. Foto! Ya, bisa kutebak foto apa yang dia kirimkan untukku. Entah, sudah berapa banyak foto-foto itu dikirimkan untukku. Foto mantan bersama pacar barunya. Ah, rasa sebal tentunya. Bukan, bukan karena cemburu. Hanya saja, aku sudah tidak ingin tahu tentang kehidupannya. Karena semua terasa begitu menyesakkan.

 

 

Aku tahu kalian peduli.

Aku tahu sejak aku dan dia menjalin hubungan, kalian sepenuhnya mendukung hubungan kami. Kalian bilang, aku dan dia pasangan serasi. Kalian selalu mendoakan kelanggengan hubungan kami. Kalian benar-benar peduli terhadapku.

 

Advertisement

 

Kalian yang ikut kecewa saat aku dan dia berpisah.

Ya, nada-nada kecewa itu kudengar dari kalian saat aku dan dia berpisah. Kalian yang ikut menghakimiku karena aku yang memutuskan hubungan itu. Kalian yang minta penjelasan kepadaku. Kenapa?

 

 

Sampai akhirnya aku dan dia tak saling memberi kabar, kalian senantiasa memberi kabar tentangnya kepadaku.

Saat dia telah bersama dengan orang lain, berita itu begitu cepat sampai di telingaku. Dari kalianlah, aku tahu berita itu. Setiap hari, ada saja salah satu di antara kalian yang memberitahuku perkembangan hubungan mereka atau hanya sekedar mengirimkan foto mereka berdua.

 

 

Teman, aku tahu kalian peduli padaku. Tapi, sudahlah. Cukup!

Mungkin, ini bentuk perhatian kalian kepadaku. Tapi, tolong berhenti memberitahuku tentang kabarnya. Aku telah memilih untuk meninggalkannya. Aku ingin menatap ke depan, berbenah diri, dan mulai menata hidup. Jadi, jangan ingatkan aku untuk menoleh ke belakang. Ketahuilah jika tak ada yang indah dari sebuah perpisahan.

 

 

Aku dan dia telah memilih bahagia di jalan masing-masing.

Aku dan dia telah memilih bahagia di jalan masing-masing. Di sampingnya, telah ada wanita lain. Dia telah bahagia bersamanya. Begitu juga dengan aku. Aku telah memilih bahagia dengan kehidupanku sekarang. Jadi, tolong berhentilah mengungkit masa lalu kami.

 

 

Kita tak tahu jalan Tuhan.

Kita tak tahu jalan Tuhan untuk kami. Perpisahan kami mungkin jalan terbaik dari Tuhan. Kita telah bahagia di jalan masing-masing. Kami ingin menatap ke depan. Temanku, jika kalian menyayangi kami, dukunglah apa keputusan kami. Bantulah kami menatap ke depan. Tolong, jangan ingatkan kami untuk menoleh ke belakang lagi.

 

Dari aku,

 

Yang sudah jenuh mendengar tentang kehidupannya.