Sebelum kau datang menjemputku izinkan aku memperbaiki diri agar kelak kita akan menjadi pasangan paling serasi. Aku wanita biasa yang berusaha dengan setia, menanti, menanti kau datang menghampiriku, berniat untuk menjalani separuh hidupmu denganku. Biarkan aku berprestasi di bidangku agar kelak kau bisa berbangga hati memiliki pasangan yang berprestasi.

Untukmu, calon imamku

Advertisement

Beri aku waktu melewati hari demi hari untuk bisa lebih berbakti pada orang tuaku, agar kelak suatu saat nanti aku bisa berbakti padamu. Aku bukanlah wanita penurut seperti tokoh ‘bawang putih’ dalam suatu cerita fiksi. Aku manusia biasa yang memiliki sifat malas dan bosan pada umumnya, berikan aku waktu untuk memperbaiki itu semua, dan bersabarlah dalam menghadapiku.

Untukmu, calon imamku.

Pernah ada seseorang yang hadir sebelummu, semoga kamu tak berkeberatan jika aku menceritakan kisahnya (bukan kisah aku dan dirinya). Aku hanya ingin kamu bisa menerimaku apa adanya. Akan kuceritakan semua kisahku, tapi tolong jangan kamu hakimi aku seorang diri. Aku masih belajar mencari, mencari seseorang yang pantas aku dampingi.

Advertisement

Untukmu, calon imamku.

Bersabarlah dalam menghadapi segala sifat kekanak-kanakanku aku masih berusaha memperbaiki diri. Tak mudah rasanya mengingat harus pergi dari rumah dan keluarga yang telah menjadikanku seperti ini. Tak mudah rasanya melihat orangtuaku sendiri melepaskan anak perempuannya untuk mengabdi pada orang lain yang dahulu tak dikenalnya. Mengabdi pada keluarga baru.

Untukmu, calon imamku..

Maukah kau berjuang bersama, membentuk sebuah keluarga yang penuh dengan canda tawa. Tak bisa kupungkiri duka pasti menghampiri. Tapi, saat itu terjadi aku mohon tegarlah, kuatlah, sebab di bahumu ada harapku, harapan kita. Mari kita berjuang bersama, mengawali semua dengan penuh suka cita. Melangkah dengan visi dan misi yang sama. Berjalan beriringan, bahu membahu membentuk sebuah keluarga sesunggunya tak akan mudah.

Tapi mari kita sederhanakan saja semuanya agar lebih mudah.

Untukmu, calon imamku.

Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menemaniku menjalani perputaran waktu. Jika kelak aku menua dengan banyaknya keriput di dahi aku mohon kamu jangan pergi, tetaplah di sini. Penuhi janjimu yang akan bersama sampai nanti tak ada lagi nafas dari hidung ini. Peganglah janjimu itu, karena hanya itu yang aku percayai hingga berani menantimu sampai detik ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya