Ada kawan pernah denger celetukan segerombol pelajar SMA di sebuah stan job fair. "Kerja jadi TKI? Idih, ogah. Aku tuh ya, pengen kerja ke Korea aja." Dan kawan-kawannya pada bilang ho-oh ho-oh setuju. Gemes banget dengernya. Hellaww kerja ke Korea tu situ kira bukan TKI? Orang-orang macam begini pikirannya dangkal banget. Dia nggak paham betul golongan apakah TKI itu.

Tenaga Kerja Indonesia adalah setiap Warga Negara Indonesia yang bekerja ke luar negeri dalam jangka waktu tertentu dengan menerima upah.

– UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan & Perlindungan TKI Luar Negeri

See? Kalau kamu Warga Negara Indonesia yang kerja di luar negeri, entah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Korea, Jepang, Kanada, USA, Belanda, atau negara mana pun, itu disebut TKI. Entah job-nya itu tukang sapu, tukang jagal sapi, perawat, dokter, dosen, artis, pilot atau apa pun, asal ada batas waktu kerja dan kamu nerima gaji, itu TKI. Start now, janganlah punya anggapan bahwa TKI itu kerjaannya jadi pembantu rumah tangga doang.

Memang, stigma yang tumbuh di masyarakat seperti itu. Mereka yang kerjaannya mentereng, kebanyakkan gengsi kalau disebut TKI. Mereka punya beragam sumber daya (intelektual, kecerdasan emosi, finansial) yang mapan untuk mengakses pekerjaan di luar negeri secara mandiri, tanpa mencatatkan dirinya kepada pemerintah.

Lalu mereka yang cuma punya niat untuk mencari rezeki, cuma punya ketulusan untuk bekerja demi keluarga, jelas tak punya akses pergi ke luar negeri dengan mudah. Mau tak mau mereka ikut calo yang bisa mengantarkannya pergi bekerja, dengan jalur prosedural/resmi atau melalui jalur unprosedural/tak resmi.

Advertisement

Gimana para calon TKI ini tahu, mana yang resmi mana yang tidak? Tingkat pendidikan yang rendah jugalah yang membuat mereka pilih nurut-nurut saja. Tingkat pendidikan seadanya jugalah yang menempatkan mereka di jabatan domestik (untuk kategori informal) atau sebagai buruh pabrik (untuk kategori formal).

Mereka ini orang-orang lugu yang baik hatinya. Tapi kepolosannya justru dimanfaatkan oleh banyak oknum jahat di luar sana. Sebut saja, biaya proses penempatan yang mahal yang memaksa TKI ini berhutang di awal sebelum mereka bekerja. Buat modal awal katanya. Iya bener, biaya proses ini pun sudah diatur pemerintah untuk tiap-tiap negara. Si Oknum jahat memang nggak bisa ngubah-ubah pokok pinjamannya, tapi dia bisa mempermainkan bunganya. Kan kasihan, kalau kebetulan TKI tersebut dapat PPTKIS/PJTKI yang tidak jujur.

Itu baru soal pembiayaan. Belum soal tekanan kerja di lingkungan yang sama sekali asing bagi TKI. Bisa terjadi culture shock yang membebani dan mengganggu pekerjaan. Belum soal karakter majikan/pengguna jasa/pemberi kerja yang beragam. Kalau dapat yang baik hati dan loyal sih aman. Semua hak TKI terjamin baik dan TKI bisa bekerja dengan nyaman. Nah, apa kabarnya kalau dapat majikan yang ngeselin, yang galak, yang pelit, yang kasar?

Mungkin kamu bertanya, kalau sudah tau berat resiko jadi TKI, ngapain juga nekat berangkat?

Perlu kamu tahu alasan yang melatar belakangi, mengapa tetap banyak pekerja, khususnya perempuan, nekat berangkat kerja ke luar negeri. Pertama, masalah finansial keluarga. Kebutuhan banyak, tapi pemasukannya terbatas. Sementara cari kerja di dalam negeri sulit, kalau pun dapat, upahnya mepet. Kedua, mereka sebenarnya lari dari kenyataan. Masalah di rumah berat sampai tak kuat ditanggung. Suami kabur dan perceraian adalah hal yang mendorong mereka pergi.

Postingan TKI di YouTube yang aneh-aneh mungkin bisa membuatmu nggak respek sama TKI. Tapi percayalah, TKI baik-baik dan sukses itu jumlahnya banyak. Ya tau sendirilah, media lebih suka pemberitaan yang miring-miring sampe jatuh. Kalau yang lurus-lurus malah nggak kesorot.

So, ubah mindsetmu soal TKI ya! Mereka orang sederhana tapi tangguh luar biasa lho. Berapa banyak dari kamu yang sanggup pergi jauh dari keluarga untuk merantau? Termehek-mehek kangen, kamu bisa mudik terjadwal, setahun 2 kali bisa. Tapi mereka, berani menghadapi resiko random di luar negeri, dan bilang sanggup menanggung beban rindu selama masa kontrak kerja yang minimal 24 purnama alias 2 tahun.

Kamu nggak di posisi mereka, nggak ngerti yang mereka rasakan. Setidaknya, respeklah pada mereka.