Cinta. Rasanya tidak pernah sunyi dari perbincangan. Bahkan untuk menghidupkan api cinta dalam dada, semua manusia memiliki caranya tersendiri. Ada yang meringkuk dalam kesunyian, Ada yang mengenangi matanya dengan air kerinduan. Semua adalah tentang bagaimana kita mengapresiasikan cinta.

Begitupun setelah kehilangan.

Advertisement

Justru yang lebih mengotori hati adalah cinta pada manusia. Cinta yang belum pada saatnya, membuat hati pincang. Ah, Dengan perasaan yang berantakan lantas kita berteriak pada pencipta.

“Tuhan, Apa salahku?"

Saat berbahagia bersamanya, Tuhan terlupakan.

Advertisement

Lucu, bukan?

Padahal bukan cinta yang salah. Kita yang salah menempatkan.

Begitupun dengan para pejuang rindu, mereka yang memilih sendirian. Mereka yang memilih menyimpan cinta hanya untuk dia yang halal. Kerap lebih menjadi ghitbah bagi mereka yang (telah) bahagia.

"Mana kekasihmu?"

Pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh mereka yang merasa sudah duluan bahagia (menurut mereka, Semoga saja)

Lalu, Aku mulai-mulai bertanya-tanya dalam pikiran. Allah, apakah kekasihku ada?

Kalo dia Ada, apa yang membuatnya lama? Kalau misalnya dia tidak di dunia, apakah di syurga sana? Pertanyaan seperti ini telah mampu menggores luka pada dada. Seharusnya jika peduli, lebih baik mendoakan bukan?

Ah Tuhan, Semoga mereka sedang mendoakan dengan cara yang membuat mereka bahagia.

Hai teman, apakah dengan menggenggam tangan kekasihku di depan wajahmu lantas membuatmu puas? Tidak bukan. Lalu, kenapa kamu tidak mendoakan segala kebaikan saja. Bukankah kamu juga mendapatkan ganjaran setimpal.

Cinta, Kenapa harus menjadi penting untuk diperbincangkan. Aku telah mengalami apapun tentang cinta. Kini, sedang tak ingin memperbincangkan perihalnya saja.

Saat kehilangan kesekiannya, Aku mendapatkan bahagia lain ketika meringkuk dalam kesunyian bermunajat padaNya. Ku katakan pada Robb ku. "Allah, cukupkan kurangku dengan karuniamu. Luaskan hatiku dalam kesabaran menanti. Sudahi segala harapan yang tak pasti.

Bagaimana pun kalian pasti sudah mengerti dan lebih mengetahui, bahwa hakikatnya cinta tidak dapat diikat dalam defenisi apapun menurut pandangan. Karena cinta adalah sebuah proses, bukan asal-asalan.

Lalu, sekarang jikalau menurut pandangan kalian, Bahagiaku belum sempurna. Ah tidak mengapa, sebab hanya pikiran gagal yang menerangkan defenisi salah tentang cinta. Bukankah tuhan maha baik, Dan cintanya luar biasa besar. Hanya hati-hati sabar yang suatu hari mendapatkan cinta yang sama besarnya dengan cintaNya.

Masihkah kamu mempertanyakan bagaimana bahagia yang sedang ku tertawakan ini?

Wahai jiwa berprasangka baiklah padaNya. Sebab hidup semata-mata hanya untuk memompa semangat bercinta terhadap-Nya. Jika tuhanmu bisa kau rayu, bukankah tiada yang tak mungkin kau dapati air kebahagiaan yang terus mengalir dan tak lekang tergerus waktu. Percayalah.

Sebab aku sangat percaya bahwa sebaik-baiknya kebahagiaan adalah Mempercayakan pada-Nya 😊

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya