Sepertinya ada sebuah kecenderungan bahwa memiliki seorang kekasih atau pacar adalah sebuah kewajiban. Khususnya jika mereka telah menginjak usia remaja dan dewasa. Seringkali mungkin kita merasa bila tidak memiliki pacar padahal sudah tua, kita akan dianggap tidak laku. Kita akan dianggap tidak dicintai dan tidak bahagia.

Stigma ini juga dialami bagi orang yang tidak menikah, khususnya wanita yang sering disebut sebagai perawan tua. Mungkin kita juga sering mengalami ketika semua teman-teman kita sudah punya pacar dan kita sendiri masih jomblo, kita sering merasa tidak laku dan tidak ada orang yang menyukai kita.

Advertisement

Saya dulu masih merasa malu karena mengalami hal ini. Seperti banyak remaja pada umumnya, saya juga mulai tertarik dengan lawan jenis dan pernah beberapa kali jatuh cinta. Memang, pada akhirnya, saya tidak pernah menjalin hubungan romantis dengan semua orang yang pernah saya sukai, karena ya, ngenes nya banyak cinta saya yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, apakah saya sedih mengalami hal-hal itu? Hahaha.

Saya pernah menghabiskan berminggu-minggu bersedih karena hal ini dan seringkali saya berpikir bahwa lebih baik saya tidak mencari cinta lagi daripada saya merasa tersakiti.

Tetapi, setelah saya merenungi cukup lama perkataan dari teman-teman dan juga nurani saya sendiri, akhirnya saya mendapatkan semacam pencerahan mengenai “kondisi” saya.

Advertisement

Saya rasa jodoh memang tidak ke mana dan dia akan datang di waktu yang tepat.

Mungkin kamu akan mengatakan, “Ya, iyalah. Saya juga tau kalau begitu.” Tetapi, mengetahui tidak sama dengan mempercayai atau mengimani.

Saya berharap saya salah tetapi seringkali kita hanya ingin memiliki seorang kekasih demi status agar kita dipandang keren oleh orang lain. Kita juga mungkin merasa bahwa pacar itu melengkapi diri kita; kita sepertinya tidak bisa berjalan sendirian tanpa pacar kita tersayang.

Saya ingin mengatakan bahwa saya bukan orang yang skeptis mengenai orang pacaran, saya berada dalam posisi netral, selama pacaran itu bermanfaat secara positif dan membuat kita bahagia, ya kenapa tidak? Saya hanya concern dengan stigma yang sering diberi kepada orang yang tidak memiliki pacar atau yang belum menemukan pasangan hidup sampai dia tua. Apakah benar seburuk itu keadaan kita? Apakah orang-orang yang jomblo memang benar tidak bahagia?

Saya rasa itu semua tergantung diri kita sendiri.

Saya menerima kenyataan bahwa mungkin saya “tidak laku” untuk sekarang atau mungkin untuk waktu yang lama karena mungkin belum waktunya untuk menjadi “laku”. Apakah saya harus merasa bahwa “tidak laku” berarti kurang menarik bagi orang lain? Sebenarnya tidak juga! Baguslah kalau saya dinilai tidak menarik oleh orang yang tidak cocok dengan saya, daripada saya harus mengalami sakit hati yang tidak perlu. Lebih baik begitu!

Saya rasa kecenderungan kita yang “mengagungkan” memiliki pacar terbentuk akibat kebudayaan kita yang cenderung mengutamakan persepsi orang lain. Akibatnya, kita kurang mengeksplor jati diri kita; selalu mengandalkan pandangan orang lain untuk menentukan seberapa berharganya diri kita (tanpa benar-benar punya pemahaman yang penuh mengenai diri sendiri). Padahal, sangatlah penting bagi kita untuk memiliki konsep diri yang penuh menurut diri kita sendiri, selain input dari orang lain. Dan juga, kita harus sudah bisa menerima diri sendiri apa adanya, sebelum orang lain menerima diri kita.

Jangan sampai kita malah mendahulukan penerimaan orang lain daripada penerimaan diri sendiri; bisa bahaya dampaknya secara fisik dan mental.

Karena itu, saya ingin memastikan bahwa saya sudah bisa menerima dan mengasihi diri apa adanya terlebih dahulu. Sudahkah saya menerima diri saya apa adanya? Sudahkah saya menerima semua kebaikkan dan kelemahan saya? Sudahkah saya mengasihi diri saya?

Selain itu, saya juga merasa bahwa di usia yang masih muda ini, banyak hal yang bisa saya lakukan daripada desperate menanti pacar. Saya bisa belajar lebih banyak, meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya juga bisa menjelajahi atau travelling keliling dunia (bila ada budget tentunya).

Saya juga bisa bertemu dengan lebih banyak orang yang berasal dari negara berbeda agar saya bisa mempelajari lebih banyak kebudayaan. Saya rasa kalian juga bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih daripada saya. Sekali lagi, saya tidak “membenci” yang namanya pacaran, tetapi saya hanya tidak ingin memaksakan diri untuk punya pacar sehingga saya mengorbankan diri saya sendiri hanya untuk dicintai oleh orang yang salah.

Tidak punya pacar bukanlah kiamat.

Itu hanya pertanda bahwa Tuhan sedang mempersiapkan kamu untuk hal yang lebih baik.

Jangan takut. Jangan merasa “tidak laku” karena jodoh itu akan datang pada waktunya.

Yang penting, kamu sudah bisa mengasihi diri sendiri apa adanya.

Ingat, pacar ada untuk menambah kebahagiaan, bukan untuk melengkapi diri kita. Diri kita sudah diciptakan oleh Tuhan baik apa adanya. Jangan kamu termakan berita-berita atau ilusi media bahwa being single is bad.

Kebahagiaan kamu, mau kamu masih jadi jomblo atau sudah punya pacar itu ditentukan oleh diri kamu sendiri, bukan oleh orang lain. Tidak punya pacar itu bisa dilihat sisi positifnya; kamu bisa jalan-jalan atau melakukan aktivitasmu tanpa “gangguan” dari siapapun. Kamu bisa “lebih bebas” beraktivitas dan berteman dengan siapapun tanpa ada yang mengatur.

Hiduplah dengan penuh syukur!

Percayalah bahwa kamu tidak memerlukan sosok untuk melengkapi kamu. Kamu sudah berharga apa adanya. Jangan sampai kamu merasa bahwa kamu perlu dihargai dan diapresiasi dengan adanya pacar di sisimu.

Fokuslah untuk mengembangkan mimpimu dan mencari jati dirimu. Segala sesuatunya yang kamu tunggu akan datang di saat yang tepat. Teruslah percaya dan mendoakan agar orang yang kamu akan jadikan pacar adalah orang yang tepat bagimu. Karena memang, jodoh itu nggak akan ke mana-mana.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya