Kurang lebihnya 16 tahun aku menduduki bangku sekolah. Dari bangku yang berupa-rupa warna, kemudian yang berwarna kayu, hingga yang rapuh dan berdebu. Namun itu tak membuatku cukup pintar di dekatmu.

Mungkin selamanya aku hanya seorang amatir, dalam mengertimu. Seakan 26 huruf yang kuingat, tak bisa kususun menjadi kalimat. Atau 90.049 lema yang kubaca, tak kutemukan satu pun yang menggambarkan keinginan sebenarnya.

Advertisement

Apapun gelar yang menyandang di belakang nama, tetap saja di hadapanmu, aku tak memiliki keahlian apa-apa. Bahkan hanya untuk menegurmu, aku tidak bisa. Mulutku hilang katup. Semoga aku tak terlihat gugup. Terlebih ketika kulihat, lenganmu tergenggam janji sehidup-semati. Alih-alih kau tidak lagi sendiri. Otak kananku dibunuh otak kiri–segala imagi tentang dirimu yang kubentuk selama ini, ditikam logika hingga mati.

Aku mengutuk! Semua buku yang kubaca, tak mengerti apa yang kurasa. Kacamata tebalku, nyatanya tak selalu menuntunku pada jalan yang benar. Semua perhitungan ini, membuat otakku nanar. Mungkin benar, sesegera mungkin aku harus keluar. Aku harus tahu rasanya menangkap binar. Dan biarkan introvert ini, jatuh cinta lagi, dengan cara yang berbeda.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya