Masihkah Gerimis itu Menyapamu?

Hai anak manusia yang pernah membuatku menangis! Bagaimana kabarmu selama lima bulan ini? Aku tiada pernah mengira bahwa kumampu tanpa kabar darimu selama ini. Tidak mudah awalnya bagiku untuk meninggalkan Kota Pontianak. Kemudian aku berpura-pura tak ingin kembali menemuimu. Semua belum berlalu dalam kenangan. Kau dan aku bergandengan tangan di tengah kerumunan ribuan manusia di taman alun-alun Kapuas Pontianak. Tak sedetik pun kau lengah menggenggam erat jemariku, yang kau sisip di antara jari-jari tanganmu. Sesekali kau menoleh ke arahku, sekedar memastikan bahwa aku baik-baik saja.

Kemudian kau mengajakku menikmati indahnya air mancur yang menari bersama warna warni musik malam itu. Kau dan aku tak sengaja duduk di bangku di pojokan taman itu, tempat muda mudi saling memadu kasih. Sementara kita bukanlah siapa-siapa. Maksudku, kau tak lebih sekedar juniorku di kampus. Kau tepat duduk di samping kananku seperti malaikat penjaga malam. Seketika, hujan mengguyur megahnya kelambu malam itu menjadi kelabu. Berlarikah kita? Atau sekedar mencari tempat untuk berteduh? Tidak! Justru kau mengajariku untuk menikmati hujan. Tidak lama hujan itu turun, berganti menjadi rintik-rintik kecil air dari langit yang memang tak menghitam.

Rindu yang Mengajariku Menangis

Sambutlah kata rinduku ini! Kau pun tahu ini bukan kerinduan seorang kekasih. Bukankah rindu harus tercurahkan? Atau paling tidak, rindu harus terucapkan. Iya, aku merindukanmu. Rindu senyummu, rindu gaya bicaramu, rindu genggaman erat jemarimu, dan rindu teduhanmu saat gerimis menerpa dinding-dinding kulitkuā€”pelukan. Iya, kau memelukku saat gerimis itu perlahan mulai berubah dari butiran hujan yang menyapu malam. Kau tak ingin langkahkan kakimu. Sementara aku? Aku hanya mengikuti diammu. Kakiku terpaku berada tepat 5 cm dari kakimu, hingga jarak itu tak lebih dari 1 cm. Aku benar-benar tersandar di bahu kananmu. Demi apapun untuk perasaanku, tiada tempat terhangat selain bahumu.

Pernahkah kau tahu? Aku merindukan itu semua. Bahkan aku tak sanggup untuk menahan bendungan air yang menggenang di pelupuk mataku. Namun aku membiarkannya mengalir tanpa sebab. Rindu. Iya, rindu yang telah mengajari air itu mengalir tenang.

Kita: LDR yang Teramat Sakit

Adakah kau pernah memikirkan tentangku selama lima bulan ini? Atau sekedar berpikir tentang kabarku? Ah, sia-sia saja aku menanyakan sesuatu, yang sudah kuketahui jawabannya adalah tidak. Mungkin hanya aku yang selalu memikirkanmu. Aktivitasku yang baru di sini, Kota Yogyakarta, cukup membantuku untuk melupakan perlahan tentang kita. Bukan karena ku ingin, namun waktu yang perlahan menjauhkan kau dari pikiranku. Mungkin ini LDR yang teramat sakit yang pernah ada.

Advertisement

(Lose=kehilangan, Defenceless=tanpa bertahan, Relationship=hubungan). Inilah LDR yang kumaksud, hubungan yang tidak sempat bertahan lama dan kemudian hilang kontak sama sekali. Maksudku tidak ada lagi saling berkomunikasi di antara keduanya. Sama seperti kondisi kita. Setelah malam itu berlalu, kau ucapkan "sweet dream" menjelang tidur sebagai ucapan terakhir dari kisah yang baru saja kau mulai. Semenjak itu, kau tak pernah lagi menghubungiku.

Apakah kita putus atau benar-benar sudah berakhir dengan kenyataan LDR ini? Tidak! Bahkan kita belum sempat jadian. Atau sekedar untuk berucap saling menyukai.