Dekap peluknya begitu hangat, ingin rasanya aku terus menempel pada si pemilik dada bidang itu. Membiarkan jemarinya mengelus lembut rambut panjangku. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiri memeluknya, menangis dan membasahi bajunya. Namun, dia tak kunjung mengurai pelukku. Aku mengangkat wajah dan menatapnya, dan dia hanya tersenyum. Aku melepas pelukku, dan dia membiarkannya.

Aku melangkah menjauhinya, tapi dia tak kunjung menghampiriku. Aku mulai berlari meninggalkannya, dia tetap tak bergeming.

Advertisement

Aku mulai kehabisan akal, apa yang harus aku lakukan agar dia mengejarku? Aku menyerah, ku balikkan tubuhku, aku masih melihat dia di tempatnya, tak berubah, bibirnya masih membentuk simpul. Karna kesal aku pun berteriak, "Mengapa kau tetap diam? Mengapa kau tak mengejar ku? Kau bilang kau rindu? Lantas mengapa saat ini kau sama sekali tetap tak bergeming? Apa kau akan tetap membiarkanku berlari?" Tetap sama, dia hanya tersenyum, tapi dia mulai melangkah kecil, langkahnya kini menjadi semakin lebar dan dia mulai berlari ke arahku. Benar! Dia berlari untuk menghampiriku, kedua tangannya langsung meraih tubuhku dan menenggelamkan ku dalam peluknya. Aku hanya mematung, saat dia memelukku erat begitu erat. Dia berbisik, "Dasar lemot.

Aku seperti ini karna kau sama sekali tak berbicara semenjak aku datang tadi. Kau yang biasanya cerewet mengapa harus diam dan menangis. Aku rindu ocehanmu, makanya aku biarkan saja kau menjauhiku. Karna aku tahu, hal itu yg bisa membuatmu kembali cerewet." Aku melepaskannya, dan aku berkata, "Aku rindu, bodoh!" Kau tahu?? Aku selalu ingin berbicara tentang rindu. Rindu yang berani-beraninya mengikatku seorang diri. Rindu yang selalu menghantam jiwaku ketika sepi membayang. Rindu yang menamparku kala jauh darimu.

Rindu ini brengsek sekali bukan?? Seribu kali aku melepaskannya, menahannya juga menghindarinya tetap rindu ini lebih kuat dari raga ku.. Hai kamu, si pemilik rindu ini, kapan kita dapat segera bersua? Sekadar duduk manis berteman angin malam nan syahdu, lengkap dengan dua cangkir espresso..Tak perlu lagi kita berbincang, karna pertemuan kali ini aku hanya ingin menatapmu, menatap sepasang bola mata yang selalu memberiku kedamaian dan kenyamanan.

Advertisement

Kali ini kamu tak perlu membual tentang aku yang semakin cantik, namun tampak kurus. Kali ini kamu juga tak perlu memberiku laporan tentang apa yang terjadi padamu di ujung pulau sana. Bukan aku tak peduli. Tapi kali ini aku hanya ingin diam bersamamu menatapmu tanpa henti walau dalam remang, aku masih mampu menerawang bebas ke balik pemilik sepasang bola mata hitam itu, membiarkan jari-jari kita saling berpagut erat tanpa tahu caranya melepaskan. Dan membiarkan masing-masing dari rindu ini saling menemui pemiliknya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya