Relung kecewa kian menggerogoti waktu yang semakin jauh meninggalkan kenangan tentang kau, aku—kita. Aku bisa apa? Bahkan tak lagi bisa ku lihat bayangan kenangan berdiri disana, di pintu bathinku yang selalu saja tentangmu kala setiapku memejamkan mata. Masih, ah aku tetap saja masih percaya bahwa kau tetap berada disana, penantian semu yang tak ku tahu apa itu namanya.

Dengarlah, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku masih cinta. Iya, aku mencintai diri kamu dulu, hingga sekakarang. Apa? Ini sebuah kebodohan? Meski aku tahu kau sudah tak lagi memikirkan aku, bahkan kau sudah berdua. Aku masih sanggup untuk pura-pura tegar untuk cinta ini. Aku masih mampu untuk menahan diri dan rasa ini untuk sebuah kenyataan.

Dosenku mengatakan bahwa: “Tidak ada cinta yang rasional, terkadang ia cenderung bodoh!” (Prof. Robert M. Z. Lawang—Sosiolog Indonesia).

Bahwa benar adanya, aku benar-benar terlihat bodoh sekarang, dan itu karena cinta. Percayalah tidak ada keterlanjuran untuk sebuah cinta, semua telah kupikirkan dengan ketidakrasionalan. Iya, ini di luar akal sehat. Puas! Aku bodoh. Oke, lalu kamu apa? Menyia-nyiakan kebodohanku!

Lalu kau menganggap cinta ku hanya sebuah kehampaan semata? Iya, terserah lah. Apa pun itu katamu, aku masih mampu untuk duduk manis menunggu mu datang di sampingku. Percayalah aku akan tetap disini, hanya untukmu. Aku tak tahu entah sampai kapan, mungkis hingga bintang tak lagi bersinar. Hingga cahaya mulai redup dan terang perlahan pergi dari hidup ini.

Advertisement

Ini bukan tentang kejatuhan ku pada cinta, yang adalah kau. Tapi ini tentang kebodohan yang mengajariku arti setia. Mencintaimu mengajariku kesabaran untuk menunggu. Mencintaimu mengajariku untuk setia. Tahukah kau jika aku sudah tak ingin lagi terlihat pura-pura tegar, bahwa aku benar-benar tegar untuk ini—menunggu.

Ketika cinta mengajarimu untuk tegar, ketika cinta mengajarimu untuk tetap setia memeluk bayang-bayang rindu, sanggupkah kau bertahan dalam arus kenangan yang berlalu begitu cepat?

“Iya, aku masih sanggup”, begitulah hati ini menjawab dengan kepastian, bahwa aku akan selalu disini menunggumu menghampiri, menunggumu mengusap sedikit sisa air mata ini. Air mata kerinduanku selama setahun ini. Kau, hanya kau yang sanggup membuatku merindu kemudian menangis. Jangan tanya kenapa aku memilihmu. Karena aku tak punya alasan untuk itu.