Siapapun di dunia ini, pasti hidup karena beberapa harapan yang digantungkan serta diciptakan oleh dirinya sendiri. Entah harapan menggapai cita-cita agar hidup lebih baik kedepannya, atau harapan yang digantungkan kepada seseorang yang dianggap mampu menghormati dan menghargai kita. Namun tidak semua orang pantas kita libatkan dalam garis takdir yang kita gambar komplit bersama dengan doa yang dilantunkan setiap waktu kepada yang maha pencipta.

Mata manusia memang tidak di setting untuk bisa melihat bagaimana kehendak tuhan bekerja, kita hanya bisa tahu apa yang memang bisa dipandang mata tanpa bisa mengetahui serta menebak hal apa lagi yang tuhan rencanakan di garis takdir yang kita gambar.

Advertisement

Kita memang menggambar garis sendiri, dan bertanggung jawab penuh atas hidup kita sendiri, namun perlu disadari bahwa yang menggerakkan hati serta pikiran adalah tuhan, mungkin tidak jarang bahwa keinginan dan kebutuhan selalu bertabrakan ingin mendapat prioritas. Namun manusia tidak terlalu peka dengan apa yang di butuhkan, kita terlalu fokus dengan beberapa hal yang kita ingin. Percaya atau tidak keinginan bukanlah keharusan yang perlu di capai hari ini juga, jika merasa itu sebuah keharusan, kita telah mengikuti nafsu yang sebenarnya bisa di rem.

Fokus dengan keinginan yang menggebu menjadikan kita lupa akan esensi sebagai manusia biasa yang kebutuhannya lebih utama perlu di capai. Dalam hal pasangan, kita sering menaruh harapan pasangan ideal dengan segala syarat dan tetekbengek yang kita buat sendiri tanpa berkaca tentang kualitas diri sendiri.

Sebenarnya manusia tidak perlu lagi bertanya, mengapa tuhan selalu saja tidak menghendaki kita, dengan seseorang yang sudah kita targetkan harus menjadi pasangan hidup kita hingga tua nanti. Manusia boleh berencana se detail mungkin dalam hal apapun, namun dilarang lupa bahwa ada tuhan yang selalu mengingatkan mana yang baik dan mana yang buruk.

Advertisement

Langsung saja…

Jika kita mencintai dan mengharapkan seseorang namun tidak juga dipersatukan, silakan berpikir ulang. Apa yang membuat halangan tersebut terus tumbuh hingga kita tidak pernah bertemu di satu garis yang sama dengan dia. Jika ditelaah lebih dalam lagi, bisa saja kualitas diri nya yang memang belum pantas bersanding dengan kita. Atau sebaliknya. Betapa tuhan sangat baik sudah bersedia mengingatkan hambanya lewat teguran, kekecewaan dan kesedihan yang dirasa. Tidak jarang kita mengumpat dan merasa tuhan tidak adil karena membiarkan kita kecewa dengan segala keadaan hidup yang terjadi. Padahal, tuhan sedang menyelamatkan kita dari jurang yang bisa kapanpun menelan kita hidup-hidup. Namun lagi-lagi manusia tidak sampai berpikir sejauh itu. Semua manusia termasuk saya selalu ingin yang instan. Semua perasaan harus berbalas, begitu lah pikir kita yang masih awam.

Hidup ini pembelajaran. Kita tidak mungkin bisa belajar dari kebahagiaan. Karna luka adalah pembelajaran hidup yang paling setia mengajarkan. Manusia memang harus jatuh dulu untuk paham bahwa hidup ini tidak semudah bertepuk tangan. Kita harus kehilangan 1 tangan terlebih dahulu agar tahu betapa sulitnya mengeluarkan suara tepuk tangan dengan angin.

Namun kita terlalu bodoh jika harus kehilangan dulu baru belajar. Perbaiki yang ada, lindungi yang telah menghargai, jaga kepercayaan, hindari menuntut tuhan untuk mengikuti mau kita. Biarlah tuhan membawa kita kemanapun di mau, kita hanya perlu terus berprasangka baik dan mencoba menggambar garis hidup sesuai aturanNya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya