Akhir-akhir ini ada lagu yang hits dari band folk indie Payung Teduh dengan judul lagunya “Akad”. Lalu seperti apa sih musik folk itu?

Musik bergenre folk sudah sejak dulu ada di Indonesia, anda bisa menemui mereka di kafe sudut kota atau mendengarnya di radio usang. Satu hal yang menarik dari musik folk adalah komposisinya tidak jauh-jauh perihal senja, kopi atau rindu. Identitas musik folk yang khas adalah liriknya yang murni dari puisi atau lebih puitis dari genre musik lain. Anda seperti membaca buku puisi dengan menyanyikannya!

Advertisement

Sebut saja Payung Teduh, Fourtwnty, Angsa dan Serigala, Silampukau, Banda Neira dan banyak lagi yang karyanya bisa menjadi teman bicara anda bersama secangkir coklat panas atau kopi di sudut ruang. Folk bisa dianggap narkoba halal karena kita tak membutuhkan sabu untuk merasa terbang, cukup dengarkan lagu-lagu mereka saja di waktu santai anda.

Musisi folk berbeda dengan musisi lain seperti musisi jazz atau rock yang gemar keluar masuk stasiun tv. Mereka lebih nyaman untuk tampil sederhana di kafe atau di seminar sastra. Musik folk juga menjadi makanan ringan bagi penulis yang tengah melanjutkan naskah novel atau karya tulisnya. Tak jarang jika latar belakang musisi folk berasal dari kalangan sastra, baik pembaca atau penulis.

Perihal senja dan kopi yang dibungkus rindu menjadi identitas candu penikmat musik folk. Komposisi yang berbeda dengan jazz atau pop dan rock. Folk menjadi pelarian yang tepat untuk anda yang bosan dengan musik edm atau genre lain. Musik folk jarang menggunakan drum, mereka lebih suka menggunakan cajon dan alat musik yang harmonis seperti biola, harpa atau semacamnya.

Advertisement

Mungkin saat ini musik folk mulai bangkit lagi, beberapa musisi folk juga sudah pernah dan sering tampil di tv. Tapi kesederhanaan dan komposisi tentang senja, kopi, dan rindu itulah yang tetap menjadi warna di dalam kolase imaji para pecinta musik folk sampai saat ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya