Sebagian pria yang baca judul ini pasti langsung berfikir kalo saya egois. Mengkondisikan bahwa hanya wanita yang berubah dari sebuah pernikahan. Tapi saya bicara fakta. Saya bicara sesuatu yang bisa dilihat dengan kasat mata, tidak perlu jadi paling peka untuk menyadari bahwa pernikahan merubah hidup wanita.

Sedari kecil jadi anak kesayangan. Mau jadi anak ke berapapun , yang namanya wanita pasti sangat dijaga. Tapi tidak sedikit yang dididik mandiri dan tegas, agar kelak tidak berebut manja dengan anaknya. Wanita dibesarkan dalam gelembung yang tanpa kita sadari sudah tercipta dari kita lahir. Langkah kaki kita di atur sedemikian rupa, tanpa memperlihatkan kalau kita di atur. Rencana-rencana kita di belokkan dengan cantik oleh orang tua , tanpa perlu berpikir kalau kita tidak diberi kebebasan. Tapi pada dasarnya, kebanyakan rencana hebat kita untuk masa depan, pasti masih ada campur tangan orang tua.

Advertisement

Ketika menikah, tidak sedikit wanita yang hilang arah. Bingung karena ternyata kali ini pilihan hidupnya ada di tangan suami , kadang kita bahkan tidak bisa berkompromi. Ketika menikah, tidak sedikit wanita yang banting setir. Dari anak manja segala ada, jadi istri plus-plus yang uang bulanannya dibagi dua sama suami. Ketika menikah, kami, wanita diminta untuk lebih bertoleransi dalam perubahan. Motonya , "Kan sudah jadi istri orang."

Belum pulih terkaget-kaget dengan perubahan status, tiba-tiba si kecil datang. Meskipun direncakan, kelahiran si kecil mengubah hidup wanita jauh lebih besar dari sebelumnya. Dimulai dari 9 bulan pertama. Ada yang terlewati dengan ciamik nan apik hingga bertemu di kemudian hari. Ada yang mati-matian berjuang dari sebelum terasa tendangannya. Wanita berubah sangat pelan di 9 bulan pertama kehamilan.


Sekalipun kita ingin segera bertemu sang buah hati, ketakutan akan melahirkan tak bisa kita pungkiri. Semakin dekat kelahiran, semakin gugup pula kita berlaku sebagai istri. Kebingungan itu pasti. Tapi ingatlah, bahwa mereka ada karena pilihan kita. Tidaklah adil jika menyalahkan kebingungan ini pada si buah hati yang belum lahir.


Advertisement

Hari itu tiba. Status berubah lagi dari Istri jadi Ibu. Hidup kita berubah seutuhnya di hari itu. Ketika suami menjadi seorang ayah, tidak sedikit yang memaklumi. "Maklum anak pertama" , "Maklum baru jadi ayah." Tapi pernahkah kamu mendengar pemakluman itu untuk Ibunya? Entah kenapa, wanita seakan diberi keharusan memiliki sisi keibuan yang lebih dari laki-laki. Diharuskan lebih tanggap mengurus anak, diwajibkan lebih mengerti terhadap perubahan si kecil. Padahal ini sama-sama anak pertama.


Lalu mengapa kita harus lebih mengerti padahal mengalaminya bersama?


Mungkin bagi laki-laki, perubahan terbesar mereka adalah bertambahnya tanggung jawab untuk menafkahi. Itu adalah perubahan yang sulit, mengingat pekerjaan semakin langka. Tapi pernahkah terbesit bahwa wanita sering kali menangis diam-diam? Tangisan yang mewakili keletihan yang harus dia telan sendiri karena keharusannya mengerti semuanya. Mereka, wanita yang jarang menangis di depan suaminya, jarang mengeluh lelah, justru sudah mulai putus asa. Putus asa karena sesungguhnya lelah ini ingin di bagi dua, tapi mana bisa?

Tidak ada sekalipun maksud dari tulisan ini untuk mengecilkan posisi laki-laki dalam sebuah pernikahan. Justru saya berharap, di kemudian hari para laki-laki akan mengerti. Semua tangis yang tak di perdengarkan, semua keluh yang ditelan sendiri, semua lelah yang menginginkan istirahat, semua itu terjadi karena ada perasaan yang dijaga.

Sesungguhnya bukan harta yang paling utama dalam sebuah pernikahan. Sebuah pengertian bahwa wanita kadang sama tidak tahunya dengan laki-laki dan pengertian bahwa ada kelelahan yang sama dari pekerjaan yang berbeda adalah hal paling indah yang bisa diberikan padanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya