Olahraga sepak bola tampaknya menjadi kegemaran masyrakat Indonesia. Itu terlihat dari tingkat antusias masyarakat kita terhadap sepak bola. Indonesia menempati peringkat kedua sebagai Negara penggila sepak bola.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nielsen Sport, 77 % penduduk Indonesia memiliki antusias yang tinggi pada olahraga ini, terlebih lagi ketika si merah putih sedang berlaga. Indonesia hanya kalah dari Nigeria yang 5% lebih banyak dari Indonesia.

Advertisement

Akan tetapi, PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia menyatakan jumlah pemain kita sangat mini, hanya 67.000 dari 250 juta penduduk Indonesia. Kalah dari Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang jumlah penduduknya hanya seperenam kali dari Negara Indonesia. Sehingga akan sangat sulit mendapatkan ualitas mumpuni jika kuantitas (jumlah) tidak memadai. Sehingga tak mengherankan kita senantiasa meng-import pemain asing untuk dinaturalisasi untuk mengisi slot di tim nasional.

Pada kenyataannya itu bukan menjadi solusi bagi kemajuan sepakbola bangsa Indonesia. Kita sudah jauh tertinggal dari Negara Jepang yang menargetkan di tahun 2092 menjadi juara piala dunia. Sedangkan saat ini Indonesia hanya berkutit diperingkat 162 FIFA.

Mungkin butuh waktu berpuluh-puluh tahun atau bahkan tak salah bila itu hanya impian untuk seratus tahun yang akan datang agar menyamakan catatan Jepang yang tidak pernah absen dari piala dunia sejak 1998.

Advertisement

Lantas apa yang bisa dilakukan Indonesia agar memajukan sepak bolanya?

Penciptaan generasi-generasi pemain sepak bola yang berkualitas tentunya menjadi hal yang sangat tepat untuk proses memajukan olahraga kegemaran rakyat ini. Ketua PSSI sendiri menginginkan agar ada 250.000 pesepakbola sampai akhir tahun 2017 untuk jangka waktu pendek. Sedangkan dalam waktu panjang, pada tahun 2020 beliau mengharapkan sudah ada setidaknya 2,5 juta pemain sepak bola.

Karena bibit pemain muda itu sangat diperlukan. Lihat Perancis dengan pemain mudanya yang dalam generasi emas sehingga bias menjadi juara dunia. Atau Jerman yang sedang membangun tim dengan kombinasi pemain muda. Banyak Negara Eropa yang mulai mengarah pada pembibitan sejak dini karena dinilai memiliki progress yang sangat baik.

Selain itu, fasilitas juga harus memadai. Lapangan juga menjadi factor penting. Di Indonesia sendiri lahan untuk bermain sepak bola juga sudah berkurang karena proyek pembangunan apartemen, gedung-gedung pencakar langit, mall supermewah yang membuat ketersediaan bibit muda menjadi hilang. Belum lagi fasilitas kesehatan yang tidak memadai.

Untuk fisik yang prima diperlukan peralatan yang baik. Di Eropa sendiri sudah memakai teknologi canggih yang mampu mempercepat proses peningkatan fisik pemain. Bukan hanya itu dari segi pembelajaran pun mereka lebih unggul karena menggunakan teknologi. Kalah jauh dengan Indonesia. Sehingga tak bias dipungkiri bibit Indonesia seperti bibit yang tidak tau mau dimana ia tumbuh dan dengan apa ia berkembang.

Oleh karena itu, untuk memajukan kualitas sepak bola kita sangat perlukan untuk memunculkan generasi-generasi emas bangsa ini. Melahirkan pemain muda hebat seperti Kylan Mbappe dari Perancis, Leroy Sane dari Jerman atau pemain asal Brazil yang sudah direkrut sejak berusia 18 tahun, Vinicus Junior. Saat ini kita sudah memiliki generasi yang perlu dijaga perkembangannya dengan dukugan oleh masyrakat dan terutama federasi sepak bola kita.

Seperti Evan Dimas, Febri Hariyadi, Saddil Ramdhani, Asnawi mangkualam atau yang teranyar Egy Maulana Viqri yang sedang merumput di Polandia. Kelak mereka yang akan membawa bendera Indonesia melalui kaki-kaki lincah mereka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya