Di usia yang hampir menginjak kepala tiga ini banyak sekali todongan pertanyaan tentang diriku yang tak menikah, terlebih di kalangan kerja yang hamper semuanya sudah berkeluarga. Sebenarnya tidak terganggu dengan pertanyaan pertanyaan itu, nyatanya diri ini masih nyaman dengan kesendirian.

Seringkali kala pertanyaan itu disodorkan ku balas dengan candaan tentang ekspresi sexualku yang terdengar cair. Senang rasanya melihat mereka heboh dengan respon konyol. Aku memang tidak terlalu memusingkan soal sexualitas. Bagiku soal mencinta tak perlu membatasi gender.

Advertisement

Tapi jika menyangkut pernikahan aku setuju pernikahan adalah penyatuan dua gender, laki-laki dan perempuan sebagaimana alam seimbang dengan keberadaan keduanya.

Aku adalah pria yang immature, pertumbuhan sosialku terlambat, tidak seperti pria-pria lain yang sudah memulai kehidupan mandirinya di awal usia 20 an. Aku tidak, sebenarnya bekal yang diberikan orang tuaku tidaklah sedikit, enam tahun lamanya mengenyam pendidikan pesantren seharusnya menjadikanku pria yang matang rohani, seperti teman seangkatan yang sudah mulai berkehidupan layaknya anak lulusan pesantren, sementara kelulusanku tidak membawaku menemukan apa apa selain penyesalan.

Lepas dari pesantren aku seperti anak baru yang tidak tahu apa apa dan harus berbuat apa. Jangankan memikirkan kapan menikah mencari kehidupan untuk tetap bernafas saja aku masih gamang.

Advertisement

Berawal dari kebebalan, lari dari tugas mengajar yang seharusnya diselesaikan sebagai syarat pengambilan ijazah. Dari sinilah penyesalan itu dimulai, babak baru kehidupan lebih gamang, seorang remaja yang tidak memegang kertas resmi bertanda tangan, sebagai syarat mencari pekerjaan, aku tahu ini terdengar konyol, tapi begitulah, remaja yang baru keluar kandang dan tidak memiliki bekal yang sesuai untuk menghadapi kehidupan.

Bekerja mengandalkan fisik bukan hal yang aku miliki, aku sudah mencoba dan aku tidak bisa memaksakan diri dengan pergerakan tubuhku yang lamban.

Aku tidak akan mengelak dan tersinggung jika aku disebut sebagai pemalas. Tidak perlu mencari alasan dan menyalahkan orang lain, semua ini terjadi karena memang aku adalah pemalas. Pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa, dan menikah adalah hal kesekian yang melintas dalam pikiranku.

Bagiku menikah adalah pilihan bukan kewajiban, inilah yang menjadikanku mengesampingkan pernikahan dan tidak pernah sekalipun menjadikannya tujuan hidup. Ada banyak hal yang perlu distabilkan. Saat ini aku masih kerepotan untuk mencari nafas, aku tidak ingin menambah daftar kerepotan lain.

Mungkin ada saja yang akan menyanggah dengan mengatakan bukankah akan lebih mudah jika menjalani kerepotan itu bersama? Aku menghargai pemikiran itu, ya mungkin saja orang lain mampu menjalaninya, tidak aku tidak akan menyebutkan bagaimana mereka menjalaninya.

Yang jelas aku tau batasan kemampuanku dan tidak akan mengorbankan pernikahan sebagai percobaan. Aku juga tidak akan menyebutkan berapa banya korban nikah premature yang berujung pada kerusakan baik anak, ibu, maupun sang ayah.

Fase kehidupan mandiriku baru saja dimulai, terlambat memang dan masih menyisahkan celah celah yang perlu ditambal. Tertidur dalam kepompong lebih dari enam belas tahun, tentunya butuh waktu untuk beradaptasi, tidak mungkin aku langsung berlari, menyeimbangkan tapak kaki agar lebih kuat mencengkram masih menjadi prioritas untamaku.

Bukan aku tidak percaya tuhan yang memberikan rejeki, nyatanya sampai saat ini aku msih diberi kesempatan bernafas. Maka saat ini keputusan untuk tidak memasukkan pernikahan dalam daftar yang harus aku selesaikan adalah pilihan paling tepat.

Aku percaya sebagaimana ibuku percaya ketika suadara saudara berkunjung ke rumah dan menanyakan kenapa aku tidak segera menikah. Dengan sederhana ibu memberi jawaban ya belum waktunya, nanti kalau sudah waktunya ya nikah. Mungkin bu, aku sendiri tidak tahu kapan waktunya itu tiba, yang pasti tidak dalam waktu dekat.

Ibu adalah tambahan alasan untukku tidak menjadikan pernikahan sebagai prioritas, terlebih setelah kepergian ayah, dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak cukup baik. Ya memang ibu tidak serta merta sendirian kesembilan anaknya akan siap membantu, tapi tidak mungkin setiap saat bisa diandalkan mengingat ke enam anaknya sudah memiliki keluarga masing-masing yang jadi kewajiban.

Aku adalah pria yang percaya bahwa menikah akan menjadi lebih nyaman jika segalanya sudah disiapkan secara matang, tidak perlu sempurna. Keseimbangan adalah satu hal penting yang aku pikirkan dari segala sisi. Menikah artinya membangun peradaban, menyiapkan pendidikan, menyatukan dua keluarga dengan segala perbedaan.

Meraih jenjang pendidikan dan karir yang lebih baik lebih membuatku terganngu dari pada pertanyaan pernikahan. Jika menikah hanya perkara ranjang, bukankah lebih mudah jajan ketika haus? Menikah itu merepotkan dan untuk mengatasi kerepotan kerepotan yang akan terjadi aku butuh lebih banyak bekal yang lebih baik.

Materi tentu saja hal penting meskipun itu bisa diatasi bersama, tapi bagaimana dengan pendidikan. Apakah aku cukup siap untuk menjadi pendidik? Mengingat aku pernah kabur dari tugas mendidik? Akankah aku siap jadi orang tua, memberikan contoh yang baik membimbing keluarga? Kerepotan kerepotan itu harus dihadapi dengan bekal bukan dengkul.

Aku sedang menyiapkan diri, untuk menjalani kehidupan, dengan atau tidak menapaki fase pernikahan bukan menjadi masalah yang harus aku pusingkan. Aku ingin menjadi pribadi utuh, bertanggung jawab atas setiap tindakan yang aku pilih.

Aku tidak ingin mengorbankan orang lain hanya karena keinginan yang tidak dipikirkan secara matang. Lebih untama lagi, aku ingin menjadi manusia yang memanusiakan manusia, bukan mereka yang dengan tega memanfaatkan keberadaan sesamanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya