Aku merenung sejenak saat mendengar kabar bahagia tentangmu dan mantan pujaanku. Aku sengaja diam menunggu rasa sesak yang memenuhi jiwa, setitik air mata yang mungkin akan tumpah, atau degub jantung yang tak beraturan. Namun tak ada satupun pertanda tak mengenakan itu hadir. Aku biasa saja. Kucoba memutar ulang memori kesedihan saat pujaanmu itu mencampakkanku begitu saja tanpa kata. Tapi sayangnya, aku tetap biasa saja.

Jujur, sebenarnya aku sangat keheranan. Aku selalu berfikir ketika nanti aku mendengar kabar bersatunya janji suci antara kau dan mantan pujaanku, pasti mau tak mau aku akan sedikit oleng. Setidaknya mungkin aku butuh tiang agar tak kehilangan pegangan. Atau aku butuh dinding untuk sekedar menyandarkan amarahku. Perasaan biasa seolah tak terjadi apa-apa ini justeru yang paling mengejutkanku. Lebih mengejutkan dari pada kabar pernikahan yang akan kalian laksanakan sebentar lagi. Namun bagaimanapun juga, aku bersyukur akan hal ini.

Hei kau gadis manis nan cantik jelita,,

Jangan takut padaku. Jangan merasa terancam atas keberadaanku. Aku hanyalah serpihan masa lalu pujaanmu. Yang dicampakkan dengan kejam oleh pria hebat yang ada di sampingmu.

Aku dan cinta matimu dulu pernah saling jatuh hati. Pernah merasa yakin satu sama lain untuk segera mengarungi kehidupan bersama-sama dalam ikatan suci. Aku perkenalkan ia pada Ayah dan Ibuku tercinta. Kedatangannya membawa angin segar bagi sepasang malaikat tanpa sayap yang kupunya. Layaknya aku, mereka langsung jatuh cinta. Dan Sepertimu saat ini, aku pernah menganggapnya superior. Pangeran berkuda putih yang gagah dan tampan rupawan. Yang matanya berkilauan seakan memancarkan sinar kelembutan. Hingga akhirnya perlahan-lahan pujaanmu berubah menjadi monster yang tak hanya mengerikan, tapi lama-lama menjijikkan.

Advertisement

Tahukah kau wahai gadis manis, aku pernah menerima masa lalunya yang begitu memuakkan ketika ia berjanji untuk selalu membersamaiku. Aku upayakan apapun agar ia terus berubah menjadi lebih baik. Aku katakan aku menerima apapun kekurangannya. Aku lapang memeluk ia dan masa lalunya. Tapi tidak dengannya. Dia belum cukup dengan adanya diriku. Sampai suatu hari aku tahu, ada paras wanita lain yang berkelebat di benaknya.

Singkat cerita akhirnya dia meninggalkanku. Demi kamu. Menyisakan banyak janji manis layaknya calon pemimpin yang sedang berkampanye. Seharusnya aku marah, melabrakmu yang telah merebut kekasihku. Kau memang pantas dilabrak. Karena kau telah mengalihkan hati pangeranku, yang telah berbicara baik-baik kepada orang tuaku, untuk mengambil diriku dari buaian mereka, menanyakan mahar, menanyakan adat, dan menanyakan masalah langkah-langkah apa yang harus dilakukan menjelang janji suci. Kami sudah berada di pintu gerbang pernikahan, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri.

Tapi aku tidak melakukannya. Aku lebih memilih diam, tenggelam dalam kesedihanku sendiri, menangis sejadi-jadinya, meratap pada Tuhan. Disisi lain aku harus menguatkan hati kedua orang tuaku. Aku harus tampil setegar mungkin dan mengatakan pada mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin kau bisa sedikit membayangkan bagaimana rasanya jadi diriku waktu itu.

Memang hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Dan membiarkan kesedihan itu mengalir tanpa mengingkarinya adalah obat yang sangat mujarab. Aku telah membuktikannya, dan sakit yang diberikan oleh pujaanmu justeru ibarat vaksin yang membuatku menjadi lebih tegar menghadapi kekecewaan dalam segala hal. Aku jadi belajar bahwa kadang ada hal yang meski telah diupayakan dengan keras, namun tetap menemukan kegagalan. Entah ini penting atau tidak untukmu, aku adalah sosok ambisius dimana apa yang aku inginkan selalu aku dapatkan setelah berpayah-payah.

Kegagalan ini juga ibarat ketapel untukku. Yang membuatku mundur dalam kedukaan yang teramat sangat. Namun kau tahu kan hukum ketapel, dimana ia akan melesat lebih dahsyat ketika ditarik semakin jauh ke belakang. Begitu juga dengan diriku. Keterpurukan ini mendorongku untuk berusaha menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Aku tak perlu menceritakan kebaikan dan prestasi apa saja yang telah aku dapatkan. Yang pasti, aku puas karena telah berusaha optimal untuk menjadi lebih baik dari ke hari.

Dan satu hal lagi. Aku sebenarnya kagum melihat dirimu yang dengan legowo bisa menerima mantan kekasihku dan segala hal yang berkaitan dengannya sepenuh hati. Masa lalu memang sebaiknya ditinggalkan dan cukup dijadikan pelajaran. Tapi terkadang ada sesuatu yang ketika diperbaiki, bekasnya tidak hilang. Seperti luka parut (scar). Dulu aku kurang yakin mampu menerima bekas masa lalu yang sampai kapanpun akan dibawanya. Aku belum yakin dia sudah insyaf dari hal yang membuatnya memiliki noda yang tak akan pernah bisa hilang. Meskipun di mulut aku mengatakan menerima dia apa adanya. Kau tidak perlu pura-pura bingung. Dia pasti sudah menjelaskan tentang hal ini kepadamu.

Dan kau yang pernah menjadi cintaku, dengarlah ini. Aku berbahagia untukmu. Aku berdo'a semoga kau selalu sehat dan selamat. Meskipun kita semua tahu, hukum alam itu tetap berjalan. Apa yang kau tanam itulah yang akan kau petik. Namun berjanjilah padaku, jika kelak itu terjadi, nikmati saja sendiri hasil panenmu tanpa melibatkan siapapun. Apalagi wanitamu. Dia terlalu lembut dan baik menurutku.

Untukmu, yang mengalihkan dunia mantan kekasihku, Sekali lagi selamat berbahagia untuk kalian. Semoga cinta tetap menyatukan kalian baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin..

Dariku,

Yang turut berbahagia