Untuk mu yang pernah berkata mencintaiku bahkan aku adalah semangatmu untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Bagaimana kabarmu sekarang? Masihkan kamu tidur terlampau malam? Masihkah kamu bermain game hingga lupa waktu? atau masihkan kamu berkerja tak ingat waktu hingga kau jadikan alasan mengabaikan ku?

Advertisement

Entahlah bagaimana perasaanku nanti terhadapmu, mungkin nanti setelah hari berlalu, minggu berganti, bulan berganti, dan tahun ini pun pergi rasa ini juga ikut pergi.

Masih ingatkah awal pertemuan kita? No, bukan pertemuan lebih tepatnya awal komunikasi kita?

Saat itu aku tidak pernah berharap kamu akan menjadi secuil cerita cinta di hidupku, aku hanya memandangmu sebagai teman masa lalu, bahkan untuk mengenalmu waktu itu pun aku enggan.

Advertisement

Tapi kamu? kamu yang membuat diri ku mencari siapa diri mu sebenarnya, membuatku penasaraan terhadap kehidupan mu.

Dengan segala teknologi yang ada aku mulai mencari tau tentang diri mu, memang semua itu terbatas karna kamu bukan pengguna sosmed yang aktif, kehidupan mu sangat tertutup dan kita pun tidak berada di satu kota yang sama, tuntutan pekrjaan mu lah yang membuat mu tidak sering berada di sini.

Dan aku menyerah saat itu karna aku tidak ingin bermain dengan perasaan yang tidak nyata.

Bagiku mengenalmu hanya sebagai teman biasa itu sudah cukup tapi kegigihanmu yang membuat aku terpesona akan kehadiran diri mu.

Masih ingatkah dulu tingkah gila mu terhadapku? Masih ingatkah cerita pengorbanan mu untuk tetap berkomunikasi dengan ku? di sela kesibukan mu, di sela letih mu terhadap pekerjaan mu di sana kamu tetap saja menjadikan ku prioritas.

Dulu kamu bilang aku adalah penyemangatmu dalam berkerja bahkan kamu pernah mengumbar mimpi untuk hidup bersama. Stop, mungkin aku yang terlalu baper terhadap semua bualan manis mu. Coba kamu pikirkan, aku bisa menjamin semua wanita akan luluh dan menjatuhkan hatinya sedalam-dalamnya terhadap pria yang memperjuangkannya, menggagapnya tetap sejajar dengan apa yang disukai oleh pria tersebut.

Ya, seandainya benar itu perasaan mu yang memang bahagia bersama ku, tapi itu dulu.

Sekarang kamu hancurkan bahkan kamu kubur hidup-hidup perasaan seseorang, mimpi seseorang, cita-cita seseorang wanita yang memnganggap kamu dunianya.

Kamu abaikan dia, kamu anggap dia hanya mainan mu di saat bosan, kamu cari dia saat kamu butuhkan lalu kamu abaikan dia setelah kamu puas dan ingin mu tersalurkan. Apakah kamu lupa bagaimana dulu kamu berusaha agar dia memperhatikan mu? lupa saat dia tidak ingin berurusan dengan rasa sayang kamu malah memaksanya untuk merasakan itu?

Pernahkah kamu berpikir apa yang telah dia korbankan untuk membuat mu bahagia? waktunya, tenaganya rela ia sisihkan hanya untuk melihat mu tetap tersenyum waktu itu.

Tapi sudahlah, semua itu sudah gak berarti lagi buat kamu, aku hanyalah bagian dari masa lalu mu, aku akan terus berjalan kedepan tanpa melihatmu lagi dan menata masa depan ku menjadi lebih baik, menjadi lebih berhati-hati memilih orang yang akan menuangkan cerita bersama ku.

Terima kasih atas semua perlakuan mu terhadap ku, dan ya semoga kamu bisa menjadi pria yang lebih baik lagi, pria yang lebih bertanggung jawab.

Dan karna mu aku mengerti bahwa yang dikatakan cinta adalah saat kita memberikan atau berubah menjadi lebih baik untuk seseorang yang kita anggap penting.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya