Perjalanan Karierku Jadi MUA, Eks Pekerja Kantoran yang Sempat Make-up 1000 Klien dalam Setahun

nanath nadia mua

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Hai hai, perkenalkan namaku Nanath Nadia, seorang make-up artist (MUA) yang dulunya sempat bekerja kantoran. Tak ada penyesalan karena akhirnya aku memutuskan untuk memilih jalan ini, bahkan aku senang bisa mempercantik orang di hari istimewa mereka. Benar memang cantik tak melulu tentang penampilan tapi apa salahnya mengapresiasi diri dengan menerapkan riasan sesekali kan? Toh yang dilakukan hanya memaksimalkan, bukan mengubah apa yang sudah ada.

Jalanku menuju menjadi seperti saat ini terbilang penuh liku, apalagi semakin ke sini makin bermunculan pula MUA baru yang juga makin ‘canggih,’ tapi di sinilah aku tetap bertahan. Awalnya dimulai dengan kerja keras, mempertahankannya pun demikian. Simak yuk lika liku perjalananku hingga bisa jadi seperti sekarang!

Aku mengawali pekerjaan sebenarnya menjadi seorang pekerja kantoran di perusahaan konsultan, baru setelah menikah aku mengubah haluan

Awalnya kerja kantor/ Credit: Nanath Nadia via www.instagram.com

Sebelumnya aku bekerja di Jakarta, namun setelah menikah aku memutuskan untuk hidup di Bandung untuk mencari pekerjaan yang lebih fleksibel. Awalnya aku berbisnis home spa bersama temanku, namun usahanya tidak berjalan lancar. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kursus make-up selama kurang lebih 3 bulan.

Advertisement

Setelah 3 bulan kursus, aku mendapatkan proyek make-up yang cukup besar yang mengharuskan aku make-up 8 orang dalam sehari, selama 7 hari berturut-turut, di 30 kota. Saat itu, dalam setahun, total wajah yang aku make-up kira-kira mencapai 1000 kali lebih. Berkat proyek ini, skill make-up-ku benar-benar terasah.

Setelah 3 tahun bergelut di bidang make-up, aku baru memutuskan untuk masuk ke bidang wedding pada tahun 2016. Dari situ, aku banyak mengikuti workshop dan kelas-kelas make-up dari para MUA senior. Lalu aku membuat wedding gallery yaitu ‘Naire Official’ dengan partnerku Iren Aldriana. Semenjak itu, aku memutuskan untuk fokus di dunia ini dan menjadi pengajar make-up, khususnya make-up pengantin.

Menjadi MUA bukan hanya merias wajah saja, kita harus tahu tren seperti apa yang sedang laris dan yang terpenting memiliki sikap yang baik

Make-up ala filter/ Credit: Nanath Nadia via www.instagram.com

Ketika akan menjadi MUA ada pilihan untuk belajar sendiri maupun mengikuti kursus, menurutku dua-duanya penting. Belajar otodidak adalah hal yang bagus, namun sebagai make-up artist kita nggak boleh puas sama hasil make-up sendiri. Kita harus selalu mengikuti tren. Tapi mengkuti tren bukan berarti tidak punya ciri khas dan pendirian dalam ber-make-up. Jaman sekarang, banyak banget kelas-kelas make-up, baik online maupun offline. Mengikuti kelas-kelas make-up juga adalah salah satu bentuk investasi seorang MUA. Apalagi kini banyak bermunculan MUA baru yang giat sekali mencoba hal baru. Selain mengikuti tren, mempertahankan kualitas dan menjaga attitude dengan baik juga tak kalah pentingnya. Selama kita memiliki kualitas tersebut, maka jasa kita tidak akan lekang oleh waktu.

Advertisement

Banyak suka dan duka yang aku alami ketika memutuskan menjadi MUA, ada juga pengalaman yang tak terlupakan di antaranya

Banyak pengalaman/ Credit: Nanath Nadia via www.instagram.com

Keputusan menjadi seorang MUA rasanya cukup tepat setelah melihat bahwa pekerjaan ini cukup fleksibel sehingga aku bisa lebih sering bertemu anak-anak. Tak hanya itu, aku juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang ketika merias mereka. Dukanya, mungkin cuma satu yaitu ketika harus siap merias pada waktu dini hari. Di antara suka dan duka tersebut terselip sebuah momen yang tak terlupakan yaitu ketika salah satu tujuanku tercapai; membuat fashion show tunggal Naire Official, sampai penghargaan-penghargaan yang diberikan oleh teman-teman brand.

Jika kamu juga ingin terjun ke bidang make-up sepertiku ada beberapa hal yang mungkin bisa kamu terapkan seperti sikap pantang menyerah, harus mau belajar dan nggak boleh terjebak di zona nyaman. Selain belajar makeup, harus juga belajar hal-hal pendukung lainnya seperti fotografi dan marketing.

Branding di media sosial juga tak kalah penting. Caraku branding adalah dengan memberikan tips-tips make-up dan berbagai tips untuk pengantin. Karena aku adalah seorang make-up trainer, maka dengan memberikan tips-tips seperti ini akan menarik minat murid-muridku untuk belajar lebih lanjut. Kamu bisa menirunya dengan membuat konten make-up yang unik dan mengikuti tren. Semoga kisahku ini bisa menginspirasi kamu untuk semangat mengejar dream job ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE