Viral Lulusan Fisipol UGM Mantap Berkarier jadi Petani. Ternyata Tak Perlu Punya Lahan Sendiri~

viral petani milenial modern

Jika mendengar seseorang yang kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) mungkin kita langsung memproyeksikan bahwa ia akan menjadi pekerja kantoran atau menjadi birokrat. Akan tetapi, seorang lulusan Fisipol UGM bernama Dipa melalui akun Twitter-nya yaitu @tanikelana beberapa hari lalu membagikan kisahnya dalam menentukan masa depan yang mungkin bagi sebagian orang termasuk pilihan yang ‘berani.’ Jika biasanya anak muda yang berusia 20an ke atas lebih memilih untuk bekerja di bidang start up atau korporasi, justru ia mantap untuk menjadi seorang petani. 

Advertisement

Pekerjaan bertani ini mungkin identik dengan hal yang lebih sering dilakukan oleh orang tua dan dilakukan di desa. Namun, Dipa mengubah citra ini menjadi sebuah pekerjaan yang ‘penuh kedamaian.’ Kita simak yuk cerita selengkapnya hingga ia mantap dengan pilihannya!

Keinginan untuk menjadi petani rupanya sudah tumbuh sejak lama, akhirnya pada saat kuliah Dipa mulai mempelajarinya

Berkomunitas/ Credit: Twitter @tanikelana via twitter.com

Dengan nada bercanda, Dipa mengatakan bahwa jiwa bertaninya muncul sejak kecil karena Harvestmoon. Saat kuliah, ia mengikuti sebuah komunitas yang mempelajari tentang pertanian alami. Tempat itulah yang menjadi ruang belajar tentang tanaman hingga cara membuat pupuk dan pestisida nabati. Mereka juga melakukan berbagai kunjungan langsung ke para petani. Tak hanya mempelajari hal-hal teknis, mereka juga belajar tentang kebijakannya. Dari situ, Dipa mulai menanam di kos dan seolah mendapatkan sebuah ilham bahwa ia mantap bercita-cita sebagai seorang petani nantinya.

Walaupun ia mantap bertani, namun rencana untuk bekerja di tempat lain dulu juga sempat menghampiri pikirannya

Ingin nabung dulu/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Dipa mengaku bahwa sebenarnya ia ingin bekerja terlebih dahulu agar bisa mendapat uang untuk ditabung dan akhirnya bisa membeli lahan di desa untuk digarap. Akan tetapi pikiran lain mengganggunya yaitu bagaimana jika ia mati muda, terjadi krisis iklim, atau pikiran tentang bumi yang mungkin tak seindah sekarang lagi di masa depan. Selain itu, ia juga ingin mendapat penghasilan yang berkah dan tidak diragukan.

Advertisement

Makanya akhirnya ia ngobrol dengan keluarganya untuk mnyeriusi bidang ini. Untungnya, ternyata keluarganya pun mendukung akan hal ini. Akhirnya perjalanan dimulai ketika ia mendapat pinjaman uang dari keluarga dan menjual beberapa buku yang ia punya selama kuliah.

Akhirnya di bulan Maret, ia memulai kariernya menjadi seorang petani dengan menggarap lahan bersama seorang teman

Tanah yang ia jual/ Credit: Twitter @tanikelana via twitter.com

Untuk mendapatkan lahan, ada banyak hal yang perlu dilakukan seperti mencari melalui media sosial hingga datang langsung ke kantor desa walau tak mendapat respons. Namun, jalan tetap terbuka saat seseorang sudah yakin dengan apa yang dikerjakannya. Saat mengolah sampah organik, ia bertemu seorang teman yang kemudian mempertemukannya dengan teman yang lain hingga diajak untuk menggarap lahan seluas 450m².

Ia kemudian mulai menanam kangkung dan bayam yang bisa panen setelah 3 sampai 4 minggu, kemudian ia menjualnya kepada tukang sayur keliling dan hasilnya bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Melalui pekerjaan ini, ia merasa bahagia dan merdeka.

Advertisement

Selain menceritakan pengalamannya, Dipa juga membagikan tipsnya untukmu yang ingin memulai bertani namun tak memiliki lahan

Belum punya lahan/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Biasanya mungkin orang-orang lebih fokus terhadap sumber daya material seperti lahan, modal awal, dan lain-lain. Padahal ada aspek lainnya yang juga perlu diperhatikan seperti sumber daya pengetahuan dan jaringan. Menurutnya pemenuhan sumber daya tadi akan jauh lebih mudah jika dilakukan bersama-sama dengan yang lain. Intinya adalah semangat gotong royong mulai dari belajar bersama, menyewa lahan bersama, bagi tugas mulai dari garap lahan hingga proses distribusi, dan yang tak kalah penting adalah adanya teman untuk bercerita di kala senang maupun susah~

Jika selama ini menjadi petani dinggap sulit untuk dimulai dan hanya menghasilkan sedikit cuan, ternyata anggapan ini keliru. Lagipula, bekerja tak melulu soal uang tapi bisa juga rasa damai seperti yang didapatkan oleh Dipa.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE