Masing-masing orang punya kebiasaan yang dipercaya bisa bikin mood jadi lebih baik, atau membuat hari jadi menyenangkan. Beberapa dari kamu barangkali menyebutnya sebagai kebiasaan yang baik.

Tapi, yakin nggak kalau kebiasaan itu emang baik dan benar-benar bisa membuatmu merasa lebih baik? Atau yang terjadi justru sebaliknya — kebiasaan yang selama ini kamu percaya sudah cukup ‘baik’ justru bisa membuat semuanya jadi lebih buruk? Ini dia 6 kebiasaan yang mungkin kamu rasa baik, tapi kenyataan justru sebaliknya!

Advertisement

1. Memikirkan Hal-Hal Buruk Yang Terjadi Dalam Hidupmu

mikir yang jelek-jelek

mikir yang jelek-jelek via i.huffpost.com

Ketika wawancara kerja misalnya, kamu merasa nggak maksimal, kamu salah ngomong sama calon bos. Lalu, kamu terus menceritakan hal itu ke pacar dan teman-temanmu. Dengan bercerita, kamu merasa lebih baik? Salah besar. Cerita soal kegagalanmu sendiri itu bakal jauh lebih buruk.

Advertisement

Menurut Julie Cohen, pelatih karir kepemimpinan dari Philadelphia dan penulis buku Your Work, Your Life…Your Way: 7 Keys to Work-Life Balance, refleksi dan penilaian diri memang penting untuk pengembangan diri dan profesionalisme. Tapi kalau dilakukan berlebihan, itu sama sekali nggak akan mengubah perilaku kamu.

Dr. Stephanie Levey, seorang psikolog asal New York dan anggota Women’s Mental Health Consortium berpendapat bahwa kita hanya  perlu menyadari, mengakui dan merelakan. Pikirkan bahwa wawancara kerja itu bukanlah hal terpenting dalam hidupmu.

Jangan berkutat memikirkan kesalahanmu, tapi fokuslah ke strategi untuk memperbaiki kesalahan itu. Kamu punya tujuan untuk melakukan interview kerja dengan lebih baik di kesempatan berikutnya.

2. Berbicara Nggak Straightforward 

ngomongnya berbelit-belit

ngomongnya berbelit-belit via i.huffpost.com

Menjelaskan sesuatu dengan rumit dan berbelit-belit itu sering dialami banyak orang. Kemungkinannya antara ingin didengar atau berusaha mempertahankan pendapat.

Sayangnya, hal ini justru menggambarkan kalau kamu gelisah atau nggak yakin. Kegelisahan itu mungkin berarti kalau kamu emang nggak begitu menguasai apa yang kamu omongin, atau kamu sendiri bingung bagaimana menyampaikan apa yang mau kamu sampaikan.

Tarik nafas dalam-dalam sebelum coba menjelaskan hal yang memang ingin kamu jelaskan. Minta input dari orang lain. Jelaskan lagi kalau orang itu emang kurang paham. Pikirkan tentang caramu berkomunikasi — gimana caranya membuat orang paham dengan cara sesingkat mungkin. Kuasai materi sehingga kamu bisa percaya diri dan merasa kesempatan ngomong sekali itu cukup saja.

3. Terlalu Ringan Meminta Maaf

dikit-dikit minta maaf

dikit-dikit minta maaf via leanadelle.files.wordpress.com

Minta maaf memang penting ketika kamu bikin kesalahan. Tapi, penelitian terbaru  Karina Schumann dan Michael Ross dalam jurnal Psychological Science menemukan bahwa wanita meminta maaf lebih dari laki-laki dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Alasannya? Perempuan merasa minta maaf suatu kewajiban, sebuah kebiasaan, sekaligus tekanan sosial bahwa cewek harus sopan. Padahal, terlalu banyak minta maaf berarti mengkerdilkan diri kita sendiri. Datang terlambat minta maaf, salah ngomong minta maaf, dikit-dikit minta maaf. Ya elah!

Minta maaf kalau kamu emang bikin salah, bukan buat menyenangkan orang lain atau bikin dirimu sendiri merasa nyaman.

4. Menyenangkan Diri Dengan Berbelanja

yakin belanja bisa bikin bahagia?

yakin belanja bisa bikin bahagia? via i.dailymail.co.uk

Masih banyak yang percaya kalau belanja itu bisa bikin bahagia, lho. Apa kamu salah satunya? Padahal, kepuasan atau kebahagiaan setelah berbelanja itu sifatnya ilusi dan sementara. Setelah itu, kamu justru bakal menyesal dan merasa bersalah.

Belanja sih emang bukan hal yang buruk, tapi bedakan antara belanja yang emang direncanakan dan sesuai kebutuhan dengan belanja yang hanya asal-asalan. Kalau asal-asalan, justru bisa bikin kamu  makin depresi dan akhirnya merasa kesepian.

5. Menceritakan Masalahmu Ke Orang Lain

ngomongin orang

ngomongin orang via resources.bpocareerhub.com

Ketika ada orang yang berbuat salah sama kamu, kamu merasa perlu cerita-cerita ke orang lain. Saat kamu dilanda kesedihan, kamu pun langsung mencari orang lain untuk membagi perasaanmu. Kamu merasa dengan melakukan hal ini masalahmu jadi lebih ringan, dadamu pun terasa lebih lapang.

Padahal, sebenarnya tak ada yang benar-benar peduli dengan masalahmu. Orang lain bahkan bisa menganggapmu gampang mengeluh dan tak bisa menyelesaikan permasalahan sendiri. Nah, mulai sekarang setiap rasa ingin menceritakan masalah ke orang lain muncul — please, dipilah dulu masalahnya dan pilih orang yang tepat untuk berbagi ya!

6. Merasa Mampu Sendiri, Enggan ‘Membebani” Orang Lain

nggak mau membebani orang lain

nggak mau membebani orang lain via wallpaperest.com

Sebagian orang berpikir kalau kejamnya dunia ini lebih baik dihadapi sendiri. Alasannya, nggak mau membebani atau merepotkan orang lain.

Padahal, hal ini justru bikin kamu jadi orang yang tertutup, penyendiri, dan kamu nggak bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Kamu fokus pada pikiranmu sendiri, tapi kamu mudah putus asa, dan gampang bad mood.

Emang penting punya waktu buat berpikir dan merenung, apalagi ketika kamu merasa kecewa dengan dirimu sendiri. Tapi, ketika kamu merasa siap, coba deh berbagi sama orang-orang terdekatmu. Hubungan sosial itu bisa membuat hidupmu lebih baik dan lebih mudah. Kamu butuh menyeimbangkan semuanya.

Nah, buat yang punya kebiasaan seperti di atas, berhenti lakukan kebiasaanmu itu ya, karena faktanya kebiasaanmu itu justru nggak baik, lho. Coba deh sedikit demi sedikit merubahnya supaya hidupmu jadi lebih baik nantinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya