NAMAKU Kalatimur Merona, nama pemberian ibuku tercinta. Aku lahir di waktu sangat pagi, orang menyebutnya “waktu fajar”. Selamat kepadaku, aku lahir di keluarga yang penuh kasih. Namaku Kalatimur Merona, aku tak tahu … sepertinya nama ini begitu berharga bagiku. Nama ini selalu kudengar di setiap lantunan doa bapak dan ibuku, di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Atau mungkin di setiap embusan napas mereka.

***

MENGHABISKAN hari-hari dengan lubang di hati itu sangat sulit. Ada ruang, di mana seseorang tak lagi singgah di sana, kosong. Dika, iya Diwangkara, aku tahu semua ini terlalu cepat, namun perasaan yang ia tanam terlanjur dalam. Dika, dengan mudahnya ia pergi tanpa menyisakan sedikit pun permisi dan selamanya akan jadi tanda tanya.

Ketika itu aku merasa perasaan saling menyayangi ini patut diberikan sebuah hadiah yang tak terlupakan. Hadiah di mana pada akhirnya kita saling menyerahkan satu sama lain, raga dan hati. Masih teringat jelas bagaimana sorot matamu meyakinkanku bahwa apa yang kami lakukan bukanlah sebuah kesalahan.

Kami melakukannya di kamarku. Sebuah ruang yang hanya berukuran 3×4 yang menyisakan sejuta kenangan. Kuakui, malam itu adalah sebuah dosa termanis yang pernah kuserahkan padanya. Sekali itu, dua kali kemudian, tiga kali, dan ia menghilang.

Advertisement

Dika, apa kau bosan padaku yang hanya bisa malu-malu menyembunyikan bahwa aku juga menginginkanmu? Atau memang ini semua hanya permainanmu untuk bisa mendapatkan malam-malam itu? Di mana tak ada sehelai pun benang, dan tanpa cahaya lampu.

Menyesal adalah sebuah hal sia-sia. Marah pun sudah tidak lagi berguna.

Aku adalah penipu yang akan selalu menyembunyikan sembilu. Aku menyembunyikan kejengkelan ini setiap waktu. Sudah satu bulan berlalu, keberadaan Dika tak kunjung kutahu. Biarlah, mungkin dia sekarang sedang dengan perempuan lain, dan bercumbu, entah.

Malam-malam yang penuh dengan air mata bodoh itu sudah berlalu, suatu malam aku memutuskan untuk mengikuti sebuah acara musik tahunan di kampus. Aku hanya ingin sekadar mengalihkan duniaku yang tiba-tiba biru dan menyibukkan diriku. Setidaknya meski datang sendirian di acara yang paling bergengsi di kampus, aku bisa mengalihkan rasa rinduku yang sudah campur aduk dengan hasrat ingin memburu.

Advertisement

“Sendirian aja?” sapa seorang lelaki disampingku. Kemeja flanel yang ia kenakan mengingatkanku pada Diwangkara, sayangnya, itu bukan dia.

“Hei … iya, sedang agak bosan aja dan karena nggak ada yang nemenin, ya, sudah,” jawabku sedikit datar, sedikit ramah.

Perpisahan adalah awal sebuah pertemuan yang lain, agaknya istilah ini benar. Menghilangnya Dika membuatku bertemu dengan lelaki ini, Leo, seseorang yang menyumbangkan banyak sekali logika-logika ngawur yang nantinya kujalani. Leo mengajakku menikmati musik kala itu, kami nyambung. Pribadinya yang hangat dan humoris membuatku yang baru mengenalnya bahkan tak sungkan untuk saling melempar ‘makian’.

Seberapa pantaskah kau tuk kutunggu…

Giliran Sheila on7, band legendaris yang ketika itu turut jadi bintang tamu menyanyikan lagu. Leo seperti memandangiku, namun aku tak berani menatapnya balik. “Cukup indahnya dirimu ‘tuk slalu kunantikan!” Leo berteriak mengikuti lirik lagu. Aku baru berani menatap dan menertawainya. Dengan masih menyanyi asal-asalan, ia mengangguk dan mengisyaratkanku untuk turut bernyanyi.

Celakanya kaulah yang benar-benar aku tunggu
Hanya kau lah yang benar-benar memahamiku
Kau pergi dan hilang kemana pun kau suka

Aku hampir menangis, hanya Dika yang ada di kepalaku. Suara Leo yang fals dan sangat maksa sambil berteriak dan menyanyi memecah kekhusyukanku mengenang Dika dalam lirik itu. Aku makin melantangkan suaraku untuk bernyanyi, melampiaskan semuanya. Leo berteriak lebih keras lagi, kami pun tak ubahnya remaja tanggung tengah marah yang mencari cara gila-gilaan. Peluhku jatuh di pipi tanpa sengaja, namun aku terbahak dengan lantang, menertawai air mata.

“Kalau lagi galau, lampiasin aja!” teriak Leo ditelinga kananku, “Kata orang galau itu akibat menyesal, padahal menyesal itu nggak ada gunanya!”

“Sok tauuu!” kataku berusaha menyangkal.

“Hei, bandel! Yang sudah ya sudah, semua gundahmu bakal hilang seiring dengan kamu merelakan!” ujarnya masih berteriak, berusaha menyaingi suara Duta di panggung.

Mungkin ada kalanya yang dikatakan Leo benar. Kami pun tak sengaja curcol di tengah dentuman musik yang menggema. Lagu demi lagu habis dimainkan, tak terasa sudah berjam-jam aku berdiri bersama Leo. Hingga larut kami menyanyi bersama, berteriak dan melampiaskan amarah bersama. Sampai seseorang yang kukenal menepuk pundakku dari belakang. Galuh, teman kos yang sering sekali kujadikan tempat curhat di kala Dika menghilang.

“Jadi sudah akrab nih sekarang?” tanya Galuh meledek sembari menghadapkan senyumnya pada Leo.

Aku yang sedikit bingung dengan bodohnya bertanya, “Kalian saling kenal?” Leo hanya nyengir sambil melirikku.

“Sebenernya aku udah tau kamu kok, Timur. Aku dengar cerita dari Galuh dan Wulan tadi, soal … Diwangkara. Hehehe. Kebetulan banget kamu sepertinya lagi sedih dan sendirian, beneran kok aku juga lagi sendirian. Lihat aja mereka.” Leo menunjuk Galuh dan Wulan yang merangkul pacar mereka masing-masing.

Aku sedikit jengkel dengan Galuh yang berani-beraninya menceritakan kisahku pada orang lain. Tapi apalah daya, risiko seorang ekstrovert sepertiku yang mudah cerita rahasia dengan siapa pun. Aku adalah buku terbuka yang  mudah dibaca orang. Lagi pula untuk apa menutup-nutupi aib sendiri, rasa malu sudah terkubur dengan perasaan kecewa pada seseorang di sana.

Ah, Dika, kenapa aku jatuh cinta pada orang yang salah?

“Ikut kami, yuk. Senang-senang!” ajak Galuh padaku.

Agaknya ajakan itu cukup serius. Awalnya aku menolak, namun wajah Leo yang berusaha tersenyum manis seolah berharap aku bisa menyelamatkannya dari lingkaran pasangan yang sedang kasmaran. Baiklah aku ikut! Daripada terus larut dalam sedih, menatapi tembok kamar sambil melukis wajah Dika dalam ingatan, lebih baik aku seperti yang Galuh katakan, senang-senang.

***

AKU menatap nanar matahari pagi ini, sangat menyilaukan. Pasti lebih menyilaukan dari waktu fajar ketika aku lahir. Entah kenapa kepalaku terasa sungguh berat dan pening. Mataku sulit untuk terbuka dan rasanya engganku memalingkan kepala. Alangkah kagetnya ketika aku melihat wajah asing berada di sampingku, aku mencoba mengingat. Sial. Dia Leo. Sial aku ingat apa yang kulakukan semalam. Bau alkohol masih menyeruak dari embusan napasku. Aku mencoba diam, tenang, dan menekuri satu-satu apa yang sudah kulakukan. Aku tersenyum dan sejurus kemudian tertawa, entah mengapa semalam rasanya begitu menyenangkan.

***

Kisah Kalatimur merupakan seri cerita bersambung dari Hipwee yang terbit setiap hari Jumat. Ikuti terus kisahnya dan temukan kejutan menarik di akhir cerita!

Baca episode sebelumnya di sini:

#1 – Musim Hujan Turun dari Timur
#2 – Sebuah Perkenalan, Sebuah Kebimbangan
#3 – Telur Mata Sapi
#4 – Kabar

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya