NAMAKU Kalatimur Merona, nama pemberian ibuku tercinta. Aku lahir di waktu sangat pagi, orang menyebutnya “waktu fajar”. Selamat kepadaku, aku lahir di keluarga yang penuh kasih. Namaku Kalatimur Merona, aku tak tahu … sepertinya nama ini begitu berharga bagiku. Nama ini selalu kudengar di setiap lantunan doa bapak dan ibuku, di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Atau mungkin di setiap embusan napas mereka.

***

MASIH terbersit olehku tawa kesenangan malam itu. Malam pertama yang buatku lupa akan segala keresahan duniawi, setelah malam-malam indah bersama Diwangkara. Ah, lagi-lagi kuingat namanya. Kenapa pula aku harus menyimpan rapat-rapat nama itu dalam memoriku? Toh, semakin aku mengingatnya, semakin sakit dan merana aku dibuatnya. Dan lagi, aku merasa sudah menemukan jalan kesenangan bersama kawan sepermainan yang kuanggap lebih pengertian di saat aku sedang terpuruk dalam perasaan yang tak terbalaskan.

Hari rabu, pukul sepuluh lewat tiga puluh siang itu, waktuku sudah senggang lantaran dosenku berhalangan hadir untuk mengisi kelas Psikologi Perkembangan. Daripada harus merapat ke bilik yang berujung ke pelamunan, kuputuskan untuk mengunjungi kedai kopi langganan.

Untungnya waktu itu tidak turun hujan dan langit sedang cerah-cerahnya. Keadaan yang lumayan membungkam ingatanku untuk kembali mengenang si pemaki hujan. Pun tak lagi duduk di bangku kesayangan di sudut ruangan. Aku hanya ingin menghilangkan kebiasaanku yang bersinggungan dengan lelaki itu. Ya, setidaknya aku masih cukup tangguh untuk kembali mendatangi tempat penuh nostalgia ini.

Advertisement

Beberapa waktu berselang, aku merasa butuh teman. Tanpa pikir panjang, langsung saja kuhubungi Leo, yang rupanya menuliskan nomor kontaknya di buku catatan yang selalu kubawa ke mana-mana, tanpa sepengetahuanku, entah kapan.

“Halo, emm … Leo?”

“Hai, Timur! Kamu lagi di mana?” sahutnya tanpa memastikan terlebih dahulu siapa yang meneleponnya.

Advertisement

“Aku di kedai kopi dekat kampus,” belum selesai aku bicara, Leo langsung menyambar dan berkata bahwa ia akan segera menyusulku dalam waktu kurang dari 15 menit.

Benar saja, Leo yang kala itu berbusana kasual dengan celana jins, kaus oblong, dan sepatu kets berjalan menuju ke arahku dari pintu kedai yang gemerincing.

“Heh, tumben kamu jam segini sudah di sini aja? Nggak kuliah?” sapanya.

“Kuliah kok tadi pagi, cuma mata kuliah kedua kosong, jadi bingung deh mau ngapain,” tandasku.

Siang itu perbincangan kami mengalir tanpa kusadari. Tidak terlalu serius, tapi seabsurd-absurdnya topik yang ia lemparkan, selalu sukses buatku tertawa cekikikan.

Dua hari berikutnya, tepat pukul 8 malam, aku telah bersiap di depan kosan menunggu jemputan Leo. Bahkan rencanaku dan Leo untuk pergi bersama ini kurahasiakan dari Galuh dan Wulan. Tak lama berselang, Leo datang dengan motor CB butut yang suaranya agak kurang bersahabat. Lantas kami pun segera bertolak menuju kafe yang sama, tempat di mana kami bersenang-senang usai menonton konser minggu lalu.

Sesampainya di sana, Leo menyodorkan daftar menu beverage untuk bisa kupesan. Belum selesai kubaca, langsung kubilang pada Leo, “Minuman yang kayak kemarin aja dong!”

“Kamu yakin?” sahut Leo mengernyitkan dahi.

“Iya, aku masih penasaran sama rasanya yang aneh itu,”

Tanpa banyak tawar menawar, Leo pun langsung memesan minuman yang pernah kami tenggak malam itu, sesuai permintaanku.

Suasana malam itu sama menariknya dengan malam saat kuputuskan untuk ikut bersenang-senang bersama Galuh, Wulan, dan Leo. Ya, saat ini pun niatku hanya untuk bersenang-senang. Tegukan demi tegukan aku habiskan tanpa penolakan. Aku sudah tak menghiraukan lagi getir rasa dan panas yang menyeruak di dada saat minuman itu masuk ke tubuhku. Satu hal yang kuingat, aku seketika menjadi orang paling cerewet sejagat raya, entah apa saja yang kuceritakan pada Leo waktu itu. Tawa, lepas, lega. Rasanya semua beban kehidupan yang kutanggung di pundakku hilang seketika.

***

AKU terbangun entah pukul berapa, lagi-lagi kutemukan Leo ada di sampingku dengan dengkurnya. Aku malas mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Yang jelas, birunya perasaanku sudah berangsur-angsur terhapus oleh pertemuan semalam yang menyenangkan itu. Otakku hampir lupa untuk memunculkan lagi nama Diwangkara. Pun empat kali panggilan tak terjawab dari ayahku semalam yang sama sekali tak kusadari.

Menyadari adanya hal baru yang menyenangkan dan mampu menghilangkan luka batin yang mendalam, sejak saat itu, malam demi malam kuhabiskan dengan bersenang-senang lewat cara yang demikian. Kadang jika aku bosan berduaan dengan Leo, kuajak Galuh dan Wulan ikut serta untuk singgah ke kafe yang sering dibicarakan orang-orang di kampus. Ladies Night. Agaknya terlalu sayang untuk dilewatkan bagi cewek-cewek dengan kantong mahasiswa seperti kami. Pergi malam dan pulang pagi sudah jadi makanan sehari-hari. Tugas dan kewajibanku sebagai anak rantau yang pergi menimba ilmu di tanah orang pun mulai terabaikan olehku.

***

“NAK, kamu segera pulang, ya!”

Seorang pria yang kukenal jelas suaranya itu berbicara dengan nada yang agak bergetar.

“Yah, ada apa?” sahutku pelan dengan jantung berdebar-debar.

“Sudahlah, Nak, pulang dulu, ya. Ayah tunggu!”

Mataku yang tadinya sulit terbuka rasanya ingin segera melompat dari kelopaknya. Masih terasa berat kepalaku menahan efek alkohol yang kuteguk dua jam yang lalu. Namun aku harus segera berkemas, dan bergegas mencari tiket untuk pulang ke kampung halaman.

Entah kekuatan apa yang menggerakkanku untuk menuruti kata-kata ayah, sementara di hari-hari biasanya aku masih bisa berkelit saat ia tanyakan perihal perkuliahan atau kepulanganku.

Kegundahan mulai meyelimuti saat aku tengah duduk di kursi bus deretan depan. Seketika hujan turun, bukan lagi Diwang … entah siapa namanya, yang kuingat saat itu, melainkan raut wajah ayah ibuku saat pertama kali mendengar kabar baik bahwa aku berhasil lolos dan masuk ke perguruan tinggi terbaik ketiga di kotaku. Wajahku panas, mataku berkaca-kaca, aku pun mulai menitikkan air mata. Tangisku semakin pecah seiring dengan semakin derasnya hujan yang mengiringi perjalananku pulang. Sedikitpun aku tak bisa tenang. Suram.

Setibanya di kompleks perkampungan tempat tinggal orangtuaku, aku berjalan kaki di tengah hujan yang mulai mereda sore itu. Tak henti-hentinya aku menangis. Hingga saat kulihat bendera kuning ditancapkan di samping gang rumahku, aku semakin kalut dan mulai lari dengan langkah yang lemah lunglai. Tampak di sana kakak dan adik-adikku menghampiri dan memelukku dengan tangisan mereka. Sontak aku makin terisak dan hampir pingsan, beruntung ayahku segera datang meraih dan mengangkatku menuju rumah yang kala itu dipenuhi oleh para warga dengan penuh duka.

“Nak, ibu meninggal, Nak. Ikhlaskan, ya,” kalimat pertama yang keluar dari mulut ayah saat menyambutku.

Aku tak sanggup lagi berkata-kata kecuali isak tangis yang meronta-ronta melihat wajah ibu yang pucat dengan senyumannya yang masih hangat, namun kosong, tak ada lagi nyawanya, hanya jasadnya yang terbujur kaku di sana.

Semua yang kulalui musnah sudah. Jerih payah, semangat, jatuh cinta, perasaan bahagia, kesenangan, pertemanan, semuanya menguap di udara. Tanpa tersisa. Lalu, apa gunanya hidup jika segala yang kau usahakan tak pernah bisa kau tujukan pada ibumu?

***

TIGA pekan sudah aku meratapi kepergian ibuku yang tanpa pamit itu. Mengikuti apa maunya Tuhan lewat kanker yang dideritanya sejak lama. Meski aku pernah merasakan rasanya kehilangan, namun tak pernah sesakit ini. Aku hampir putus asa dan hilang akal untuk menemukan cara agar bisa melepaskan jerat kesakitanku ini. Rasanya tidak tepat jika aku harus kembali membuang jauh-jauh kepayahanku ini dengan bersenang-senang. Momen ini lebih dari berarti untuk bisa dilampiaskan dengan hal-hal yang merugikan.

“Sudah, sudah, Timur. Ibumu sudah bahagia di surga, sekarang tinggal kamu buktikan padanya bahwa kamu bisa tuntaskan kuliah dan wujudkan cita-citamu,” Galuh mencoba menghibur.

Sudah berapa puluh temanku yang mengucapkan bela sungkawa dan memberikan penghiburan untuk menguatkanku sepeninggal ibu. Pun Leo, yang dengan lawakan-lawakan khasnya berusaha membuatku tertawa. Tak ketinggalan juga ayahku yang selalu setia menanyakan kabarku dan tak lupa mengingatkanku untuk menjaga diri baik-baik. Kakakku juga selalu meluangkan waktunya untuk menelepon dan menyediakan diri kapanpun aku butuh berkeluh kesah.

Tak kusadari, bahwa masih ada orang-orang di sekelilingku yang memberi perhatian dan kasih sayangnya padaku dengan cara yang berbeda-beda. Ketika selama ini aku hanya mengutuk diriku sebagai cewek pendiam yang mengenakan topeng kebahagiaan demi terlihat baik-baik saja, ternyata Tuhan telah sediakan orang-orang yang mau memahamiku apa adanya. Aku sadar bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan, aku tak boleh terlalu lama larut di dalam kesedihan yang hanya akan membawaku ke dalam jurang penyesalan. Aku tak sendiri. Aku harus berjuang demi orang-orang yang mengasihiku selama ini. Tentu saja, juga demi masa depan yang sudah kurangkai dan masih berproses hinga kini. Meski ada cacat di sana-sini.

Mulai sekarang, tak ada lagi Timur yang muram. Timur harus tetap merona, sebagaimana namaku ditorehkan. Semoga semesta merestui. Semoga.

***

Kisah Kalatimur merupakan seri cerita bersambung dari Hipwee yang terbit setiap hari Jumat. Ikuti terus kisahnya dan temukan kejutan menarik di akhir cerita!

Baca episode sebelumnya di sini:

#1 – Musim Hujan Turun dari Timur
#2 – Sebuah Perkenalan, Sebuah Kebimbangan
#3 – Telur Mata Sapi
#4 – Kabar
#5 – Menertawakan Air Mata

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya