5 Tanda Nikahmu Sekadar Demi Dipuji Tamu Undangan. Sampai-sampai Rela Deh Berhutang~

tanda persiapan pernikahan nggak sehat

Bicara soal pernikahan memang nggak akan ada habisnya. Selain mengulik soal pasangannya siapa (uhuk), juga soal persiapannya bakal bagaimana dan seperti apa tentunya. Belum lagi bicara soal bujet pernikahan. Sayangnya, ada beberapa hal krusial yang acapkali luput dari perhatian, seperti misalnya motivasi dalam melangsungkan pesta pernikahan.

“Apa sih mikir begituan. Nikah ya jelas biar bisa bersatu dengan pasangan lah!”

Eits, tapi ternyata nggak selalu demikian lo, Esmeralda. Seiring perjalanan mempersiapkan resepsi pernikahan, bisa saja motivasinya jadi membelok ke hal-hal ‘kurang penting’ namun justru jadi prioritas. Yang awalnya ingin menghalalkan pasangan, fokusnya justru malah ke bagaimana cara biar para tamu undangan super kagum dan terkesan. Nggak masalah kalau dananya berlimpah. Kalau pas-pasan? Ya masa sampai nekat berhutang? Biar nggak terjerumus ke hal seperti ini, cek dulu yuk 5 tanda nikahanmu sudah salah fokus!

Advertisement

1. Gejala pertama adalah kamu mulai mabuk ide dari berbagai sumber yang bertaburan di Instagram dan Pinterest. Semua-mua ide dari Instagram dan Pinterest ditampung dan disimpan!

Keren-keren sih. Tapi mampu nggak? via www.pexels.com

Nggak dosa sih, kalau sekadar demi mengagumi. Tapi kalau semua di Instagram yang kekinian sudah sampai jadi patokan pesta pernikahanmu sih gawat juga, apalagi kalau dana yang tersedia pas-pasan.

2. Kamu mulai cemas, bolak-balik mengecek jumlah undangan. Bujet undangan cuma 500 orang, tapi karena nggak enakan malah membludak jadi 2 sampai 3 kali lipatnya

Semua mua diundang, bila perlu tetangganya teman pun dapat undangan via www.pexels.com

Dan saat ditegur malah galaknya kayak petugas penagih hutang. Bilangnya, “Bodo amat, nanti ajalah dipikirin. Daripada nanti dibilang sombong???”

Advertisement

3. Awal-awalnya terima-terima saja bajunya nyewa atau MUA-nya siapa saja yang tersedia. Tapi makin lama, makin galak dan sensitif. Inginnya beralih ke bikin baju sendiri dan cari MUA terhits di seantero kota

MUA-nya sekali riasin 10 juta. Padahal anggaran pas-pasan via how-to-inc.com

Kalau ditegur pasangan bilangnya, “Haduh, harga mah nggak bohong! Kamu mau tanggung jawab kalau pas nikah nanti bajuku jelek? Riasannya jelek? Mau tanggung jawab?”

Padahal…yang dipilih itu bukan sekadar bagus doang tapi juga hits dan banyak jadi langganan selebgram plus mahalnya ampun-ampunan. Diam-diam kamu berharap hasilnya secetar para influencer di luar sana dan nanti bisa diunggah dengan tagar ala-ala. Duh, duh~

4. Panik saat pilih-pilih venue acara. Yang awalnya santai dan nggak terlalu ambil pusing, makin ke sini malah jadi terobsesi ingin venue yang instagramable dan kece badai

Maunya malah di pulau tak berpenghuni 🙁 via www.pexels.com

Sampai merengek dan ngambek ke orang tua dan pasangan dengan beraneka alasan. Padahal di dalam hati cuma takut, dikatain tempat nikahnya pas-pasan 🙁

Advertisement

5. Setiap ada ide yang masuk, selalu diambil hati dan dipikirkan setengah mati. Si A bilang vendor anu bagus, jadi kepikiran sama vendor tersebut siang dan malam. Lebay deh~

Ada WO sampai wedding planner~ via wpic.ca

Si B bilang nikah itu wajib pakai WO, kamu sampai nggak bisa tidur mikir nikahanmu yang belum ada WO-nya. Si C bilang katering A itu mahal tapi super enak dan jadi langganan selebgram, kamu jadi kebelet juga mau ganti katering pilihan orang tua. Intinya semua kata orang ditampung dan dipikirkan sampai pusing sendiri. Duh, ini mau nikah atau mau bikin event buat nyenengin semua orang sih?

Pernikahan itu seharusnya jadi momen seru yang tak terlupakan. Bukan soal mewah atau kerennya, yang penting kan menikahnya mesra dan pasangannya sama-sama saling cinta. Percuma dong, nikahnya heboh sampai ada kembang apinya, tapi habis nikah berantem melulu lantaran membahas soal siapa yang kudu bayar hutang saat persiapan nikah. Ingat, menikahlah sesuai kemampuan dan anggaran. Menikah sederhana juga nggak dosa kok, yang penting senyummu dan pasangan nanti di pelaminan bertahan sampai setelah mengarungi bahtera rumah tangga. Setuju?

Advertisement
loading...
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE