“Loh, calon manten kok mukanya kusut? Senyum dong, kok kayak nggak bahagia gitu?”

“Aduh, kepalaku pusing nih habis ribut sama ortu semalem. Masku baru bisa pulang cuti Desember, tapi ortu minta nikahnya bulan Juli. Katanya tanggal bagus kami cuma di bulan itu. Ya mana bisa lah…”

Percaya nggak percaya, biasanya menjelang hari pernikahan akan ada banyak hal yang menguji para calon pengantin lebih daripada hari-hari biasanya. Bukan hal yang aneh kalau muncul cekcok yang akan kamu dan pasangan alami hanya gara-gara hal sepele. Pasalnya, mendekati hari H kesibukan yang semakin meningkat juga akan membuatmu dan pasangan mudah merasa lelah, tertekan dan stres.

Advertisement

Selain bertengkar dengan calon pasangan, terkadang selisih paham dengan orangtua atau mertua pun nggak terhindarkan. Apalagi kalau  ide dan acara yang kamu rancang banyak yang tak sejalan dengan keinginan orangtua, sehingga menimbulkan perdebatan. Suka nggak suka, demi menghindari ribut-ribut menjelang pesta pernikahan, banyak pasangan yang akhirnya memilih mengalah meski hal-hal yang diminta orangtua nggak masuk akal atau nggak sesuai dengan rancangan pesta mereka. Buat kamu calon pengantin yang akan menikah di tahun ini, siapkan hati untuk sabar menghadapi hal-hal yang rentan jadi perdebatan menjelang hari pernikahan ini ya!

1. Meski ini sudah menginjak tahun 2018, nggak sedikit orangtua yang masih percaya dengan beragam mitos peninggalan leluhur saat menjalankan pesta pernikahan. Terkadang mitosnya absurd, tapi katanya kalau dilanggar pamali

Padahal jatah cuti udah terbagi, eh penentuan tanggal nikahnya terpaksa harus ikut kata ‘mitos’ via paper37.weebly.com

Nggak bisa dipungkiri, hidup di Indonesia dengan ragam budaya dan kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda membuat kamu dan pasangan terkadang harus dihadapkan pada permintaan aneh dari para orangtua atau sesepuh. Katanya sih itu ritual atau adat yang wajib dipatuhi, padahal kamu mungkin sudah menganggapnya sebagai mitos.

Kalau masih bisa diikuti sih kamu bisa bebas cuek saja tapi kalau sudah berbenturan dengan kepentingan pribadi, mitos-mitos itu pastinya akan membuat kesal. Hal-hal yang semestinya jadi kesepakatan bersama seperti penentuan tanggal pernikahan, tempat duduk pengantin dan lain akhirnya acapkali jadi perdebatan sengit antara anak dan orangtua. Agar tak terjadi hal yang tak mengenakkan menjelang hari H, cobalah bersikap lebih tenang dan hadapi permintaan orangtua dengan kepala dingin agar argumen yang diberikan nggak semata dipicu emosi ya!

2. Kamu dan pasangan sebenarnya enggan memasukkan gelar studi ke dalam cetakan undangan, tapi orangtua tetap memaksa dengan alasan sayang kalau nggak dicantumkan

Maunya sih begini, tapi biasanya ortu maunya dikasih gelar -__- via www.hipwee.com

Advertisement

Sekeras apapun usahamu dan pasangan agar kartu undangan bebas dari rentetan gelar-gelar akademis yang membuat undanganmu justru terlihat seperti CV, terkadang para orangtua tetap akan bersikukuh untuk memasukkan semua nama kalian dengan gelar lengkap. Alasannya sih sederhana, biar orang lain tahu kalau anak-anak mereka sudah sekolah tinggi dan ‘sukses’. Soal ini sih mending mengalah saja, karena gelar anak adalah kebanggaan orangtua. Kapan lagi kan mereka bisa membanggakan anak-anak yang mereka perjuangkan mati-matian agar bisa mengenyam pendidikan tinggi?

3. Kamu dan pasangan maunya sih mengadakan pesta yang privat dan nggak ngundang banyak tamu, sayangnya orangtua justru ingin mengundang orang sekampung, bahkan sekota bila perlu

Niat garden party agak sulit karena ortu maunya ngundang orang sekampung… via www.popsugar.com

Kalau kamu penduduk negara maju dan berkembang, di mana penduduknya sudah mulai tinggi tingkat individualismenya, ide pesta privat mungkin masih akan bisa diterima. Tapi di Indonesia, hal semacam itu masih agak sulit dilakukan apalagi kalau kamu tinggal di kota atau desa yang sistem kekerabatan dan hubungan sosial antar tetangganya masih erat. Yah, soal jumlah undangan pun seringkali nggak lepas dari perdebatan. Selama budget masih mencukupi sih nggak ada salahnya mengundang tamu sesuai keinginan orangtua. Tapi kalau sudah melebihi target keuagan lebih baik diskusikan lagi dengan kepala dingin dan terbuka agar orangtua bisa lebih memaklumi. Jangan sampai bela-belain ngutang ratusan juta apalagi milyaran rupiah cuma demi gengsi deh!

4. Inginnya sih membuat pesta pernikahan dengan iringan band akustik romantis ala-ala, tapi orangtua justru minta pemusik yang bisa membawa deretan lagu jadul menyayat hati dan dangdut heboh. Duh!

Kalau band begini udah sekalian bisa dangdutan, langsung bungkus aja sis! via www.sternbergclarke.co.uk

Niatnya ingin memainkan musik romantis akustiknya Ed Sheeran, eh yang diminta sama orangtua malah orkes tunggal yang bisa memainkan lagu tembang kenangan sekaligus dangdut koplo. Yah, berhubung ini acara orang banyak jadi mau nggak mau terkadang keinginan kita agak dipinggirkan dulu biar orangtua dan mayoritas tamu bisa ‘menerima’ musik pernikahan kita. Lebih bijak sih ambil jalan tengah, sewa band yang bisa memainkan musik akustik sekaligus tembang kenangan dan dangdut sekalian, hehe…

5. Banyak juga pasangan yang ‘dipaksa’ orangtua untuk membuat spanduk yang memajang foto kamu dan pasangan. Memangnya mau kampanye?

Untung cuma spanduk mohon doa restu. Kalau baliho undangan, mau nggak? via qubicle.id

Terkadang, orangtua merasa foto pra pernikahan berfigura yang dipajang di depan pintu ruang resepsi belum cukup mewakili luapan rasa bangga dan bahagia pernikahan anak mereka. Hal itulah yang acapkali membuat orangtua meminta dibuatkan spanduk mohon doa restu berukuran super besar. Jika ini membuatmu dan pasangan merasa enggan dan malu, mau nggak mau sih akhirnya dibuat juga karena desakan orangtua. Ya, soal ini sih kembali ke kamu dan pasangan saja sih. Selama yang diminta nggak melanggar prinsip-prinsip utamamu dan pasangan, nggak ada salahnya ‘kan sesekali mengalah, demi kebahagiaan orangtua. Biar nggak malu-maluin banget, usahakan saja desainnya sesuai dengan tema pesta pernikahan kalian~

Meski terkadang permintaan para orangtua membuat kamu dan pasangan geregetan, tapi berhubung kebanyakan dari pernikahan itu donatur utamanya orangtua, ya apa boleh buat seringkali terpaksa harus dituruti atau meski dipersiapkan dari kocek sendiri pun, kadang daripada ribut-ribut kamu dan pasangan memilih mengalah saja. Dari sederetan hal tersebut, kira-kira hal mana yang paling mungkin kamu alami kelak saat akan menikah? Atau jangan-jangan sudah ada yang mengalami? Hipwee tunggu ceritanya di kolom komentar ya~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya